“Yang Ada dan Tidak Berdaya”, Sebuah Hidangan dari Klub DIY Menonton (KDM)

 

Sore itu Jogja sedang basah. Rintik hujan tak kunjung henti menyapa genteng-genteng rumah dan berseluncuran di atas daun talas. Kombinasi rintik hujan dan temperatur Jogja yang anyep bagaikan sugesti yang sabar mengantarkan saya untuk segera bergerak meringkuk ke dalam selimut. Namun, romantisme hujan yang menjadi gerbang utama menuju rebahan sore itu masih kalah menggairahkan dibandingkan acara pemutaran film yang diselenggarakan oleh Klub DIY Menonton (KDM), sebuah komunitas yang fokus menghadirkan film-film alternatif bagi masyarakat Jogja.

Sore itu, sesuai dengan postingan disalah satu akun media sosial Klub DIY Menonton, akan ada empat film yang nantinya diputar dalam kegiatan yang diselenggarakan di Sleman Creative Space; Film Pangreh karya Harvan Agustriansyah, Memoria dari Kamila Andini, Kentut oleh Rangga Kusmalendra, dan Bura karya Eden Junjung.

Empat film tersebut, kemudian dilebur dalam satu tajuk yang dikemas apik oleh kurator KDM. “Yang Ada dan Tak Berdaya” sebuah tajuk yang sangat menarik hingga mampu mengalahkan keinginan saya untuk rebahan dalam pelukan hujan sore itu.

Berbekal jas hujan sekenanya dan kendaraan roda dua yang usianya sudah lebih dari 1 dekade, saya bergerak menuju Sleman Creative Space, sebuah tempat yang terletak di kompleks wisata kuliner Condong Catur, Yogyakarta.

Skema pemutaran sore itu terdiri dari 2 slot. Masing-masing pada pukul 16.00 WIB dan 19.00 WIB. Kedua slot akan memutar film yang sama, yang menjadi pembeda hanya pemantik diskusinya. Di slot pertama ada Siska Raharja, Produser dari Film Bura. Sedangkan pada sesi ke dua ada Basudewa Suryo Ajie, Produser dari Film Kentut. Masing-masing slot memiliki harga tiket 25 ribu rupiah. Bisa lebih murah andai melakukan pre order. Harga seperti itu sangatlah worth it bagi film-film yang kemunculannya hanya bisa dijumpai sebatas pada perhelatan festival film.

Saya duduk di baris paling belakang, tempat yang sepertinya tidak terlalu favorit bagi para penonton. Di deretan tempat saya duduk, bangku-bangku hampir terlihat kosong, hanya ada saya dan seorang perempuan yang sedari awal duduk santai menonton.

Pangreh karya Harvan Agustriansyah menjadi film pembuka dalam acara ini. Film yang telah memenangkan banyak penghargaan, salah satu yang paling prestisius adalah Piala Maya tahun 2016 untuk kategori film pendek. Film ini mengisahkan seorang makelar yang mendatangi masyarakat miskin di suatu tempat untuk dijadikan demonstran bayaran. Namun dalam perjalanannya, ia bertemu dengan keluarga yang sedang putus asa dan juga makelar lain yang ganas. Permasalahan ini membawanya masuk ke dalam transaksi ekonomi kelas bawah yang menyentil sisi kemanusiaan.

Selanjutnya, ada Film Memoria besutan sutradara perempuan yang sedang naik daun, Kamila Andini. Film berdurasi 40 menit ini, memperlihatkan bagaimana trauma yang menimpa perempuan-perempuan Timor Leste ketika perang kemerdekaan dengan Indonesia. Tidak hanya menjadi korban agresi senjata, yang lebih kelam lagi adalah terjadinya penundukkan secara seksual. Maria, salah satu penyintas dalam Film Memoria, menunjukan usahanya untuk bangkit melawan trauma, tetapi kejadian kelam dimasa lalu tetap saja melekat dalam memori kepalanya, merenggut masa depannya, dan juga membawa perubahan sikap terhadap anaknya, Flora.

Film ketiga yang diputar adalah Kentut karya Rangga Kusmalendra. Film ini hadir membawa tawa di ruang pemutaran yang sedari tadi sunyi akibat sisi kemanusian yang diaduk-aduk oleh dua film di awal. Kentut berkisah tentang Agus dan sang istri yang berbelanja di pasar, namun dalam situasi yang tidak disangka, ia dituduh telah kentut hingga baunya mengganggu dan membuat gaduh seisi pasar. Dalam situasi yang penuh tuduhan itu, Agus terpaksa mengalah dan mengakui hal yang sesungguhnya bukan dia penyebabnya. Film ini seperti membisiki saya tentang pentingnya jujur. Hanya karena perbuatan satu orang yang tidak jujur, membuat orang lain merasakan imbas dari hal yang bahkan tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan dia.

Film terakhir yang disuguhkan pada sore itu adalah Bura. Film yang berangkat dari peristiwa kelam tahun 1998 di Banyuwangi. Film yang disutradarai oleh Eden Junjung ini berkisah tentang seorang santri yang lebih memilih untuk menemui kekasihnya di tengah tugas menjaga para Kiayi dari serangan Ninja. Seperti mewakili peristiwa kelam yang melingkupinya, Film Bura adalah gambaran peristiwa yang penuh kegelapan dan kita disuguhi suasana malam mencekam sepanjang film. Saya bahkan masih merasakan suasana itu saat lampu ruangan dinyalakan dan tepuk tangan dari penonton menyeruak. Di situasi itu saya justru tidak menyadari jika perempuan yang berada di samping saya telah turun ke bawah ditemani oleh panitia untuk memantik diskusi. Perempuan itu adalah Siska Raharja, Produser Film Bura.

Meskipun hanya menyisipkan sedikit waktu untuk berdiskusi, namun keberadaan Mbak Siska sore itu membuat suasana menjadi hangat lewat kisah-kisah di balik layarnya, mulai dari proses pembuatan rumah produksi hingga pembuatan Film Bura yang melalui proses riset yang sangat panjang.

Di sela-sela diskusi, moderator tak lupa untuk selalu mengingatkan tentang “Yang Ada dan Tidak Berdaya” sebuah kesadaran yang harus dibangun untuk tidak abai terhadap peristiwa-peristiwa minor yang terjadi di sekeliling kita. Kehadiran empat film dalam satu tajuk ini mampu merepresentasikan orang-orang dan peristiwa di dalamnya, yang tidak kita sadari keberadaannya, ternyata mempunyai pengaruh besar terhadap proses kita menjalani kehidupan sebagai makhluk sosial.

Selepas nonton, diskusi dan foto bersama, saya bersama yang lainnya keluar ruangan dengan berbekal ilmu dari 4 film yang telah diputar dan juga didiskusikan tadi. Di luar ruangan nampaknya hujan sudah reda, meskipun tampaknya awan masih saja sendu. Karena malam itu adalah malam minggu, sepertinya saya lebih baik pulang, membuat tulisan ini dilanjutkan dengan praktik meringkuk di dalam selimut, ketimbang keluyuran tidak jelas di atas jalan Jogja yang sedang basah.

Penulis :

Total Views : 249 , Views Today : 2 

%d blogger menyukai ini: