Wacana Kolonial dalam Novel Helen dan Sukanta karya Pidi Baiq

Official Cover Novel Helen dan Sukanta

Sejak bangku Sekolah Dasar, kita telah dicekoki dengan berbagai macam pelajaran Sejarah yang mencatat kelamnya masa-masa penjajahan di Indonesia. Maka tak heran, sewaktu mendengar negara Belanda ataupun Jepang, kita berdecak kesal sampai menyumpah serapah perbuatan mereka. Hal ini kemudian dilanggengkan dengan adanya peringatan hari kemerdekaan Indonesia yang jatuh pada tanggal 17 Agustus. Peringatan kemerdekaan Indonesia diperingati dengan berbagai macam lomba dan acara dengan tema semangat perjuangan, menumbuhkan rasa nasionalisme dengan rangkaian upacara setiap Senin.

Kolonialisasi yang dilakukan oleh Belanda terhadap Indonesia, telah diromantisasi dalam berbagai jenis dan spektrum. Salah satu yang paling sering kita lihat adalah karya sastra yang memuat wacana kolonial.

Meski telah merdeka, sebagai bekas negara jajahan Indonesia tidak bisa lepas dari sisa-sisa kolonialisme. Mulai dari ideologi sampai budaya. Hal ini dipayungi dalam sebuah studi pascakolonial, yang melihat adanya dampak terhadap negara yang pernah terjajah. Untuk memahami pascakolonial, kita memerlukan pengulasan lebih jelas tentang kolonialisme, guna mempermudah dalam memahami pascakolonial.

Seperti yang saya katakan, wacana kolonial telah banyak diangkat dalam sebuah karya sastra. Salah satu yang paling baru adalah Helen dan Sukanta karya Pidi Baiq, novel rilisan tahun 2019. Helen dan Sukanta adalah novel yang mengisahkan seorang remaja keturunan Belanda bernama Helen, yang jatuh cinta dengan Pribumi bernama Sukanta. Hubungan mereka terjadi di Hindia Belanda (Indonesia) sekitar tahun ’30-an akhir, masa di mana Belanda menancapkan bendera mereka di wilayah Indonesia dengan dalih kerja sama melalui jalur dagang.

Kisah romansa antara perempuan keturunan Belanda dan Pribumi terdengar sangat kompleks. Sama seperti kisah Romeo dan Juliet, Rama dan Sinta, kisah keduanya tentu tidak berjalan dengan mulus. Adanya perbedaan kelas membuat hubungan keduanya menjadi lebih sulit dan kompleks. Orang Belanda menganggap dirinya lebih tinggi dibanding orang-orang Pribumi sehingga Helen mendapati dirinya pada situasi yang terkekang.

Ayahnya, Adrian, melarang Helen untuk keluar dari rumah dan bergaul dengan orang Pribumi. Menurutnya, itu tidak baik untuk Helen. Stereotip yang dikenal oleh orang Eropa bahwa Pribumi adalah orang yang lebih rendah dari mereka, melahirkan sebuah antisipasi untuk kalangan mereka menjalin hubungan dengan orang Pribumi. Bagi mereka, hanya orang-orang Eropa yang mempunyai kasta tertinggi untuk mengenyam pendidikan, mempunyai kekayaan dan kebudayaan yang lebih terhormat. Maka tak heran jika Paman Bijkman, memandang rendah Sukanta saat pertemuan pertama mereka yang berbicara menggunakan bahasa Belanda. Paman Bijkman menganggap bahasa Belanda tidak cocok untuk orang-orang Pribumi.

Tidak hanya dari sisi ideologi dan budaya, stereotip fisik juga menjadi salah satu diskriminasi rasial yang diberikan oleh orang Eropa. Bukan datang dari orang Belanda yang berpikiran tinggi, namun datang dari pertanyaan polos anak perempuan bernama Helen yang satu waktu menanyai Mamanya tentang hidung asisten rumah tangganya yang pesek jika dibandingkan dengannya.

Sebagai orang Pribumi, adalah hal lazim ketika mendapati mereka bekerja sebagai babu orang Belanda. Namun dalam hierarki dan aturan yang diterapkan keluarga Helen, mereka menganggap orang-orang Pribumi yang bekerja untuk mereka adalah bagian dari keluarga. Maka tak heran jika Paman Bijkman mendapati Helen dengan kemarahan yang begitu besar ketika ia memanggil Sitih, asisten rumah tangga mereka, dengan panggilan babu.

Wacana kolonial dalam novel Helen dan Sukanta adalah bentuk-bentuk dari diskriminasi yang terjadi secara langsung maupun tak langsung. Peristiwa yang terjadi saat itu diklasifikasikan sebagai kolonialisme. Dalam ranah pascakolonial, beberapa orang kadang masih memperdebatkan perbedaan kolonialisme dan imperialisme. Tanpa bermaksud menyederhanakannya, kolonialisme merupakan cara-cara koloni untuk bermukim pada satu wilayah, sedangkan imperialisme lebih ke arah mengakuisi. Keduanya punya tujuan yang sama, mendominasi.

Kajian pascakolonial hadir bukan hanya sebagai bentuk melihat adanya dampak dari kolonialisme yang terjadi pada bekas negara jajahan. Lebih jauh dari itu, kajian pascakolonial diupayakan untuk mengkritisi dampak dari kolonialisme dan juga menawarkan resistensi kepada bangsa terjajah. Mimikri dalam konsep Homi K. Bhaba adalah bentuk resistensi yang dilakukan dengan cara meniru. Peniruan yang dimaksudkan adalah penyesuaian ideologi maupun kebudayaan.

Salah satu contoh dalam novel Helen dan Sukanta adalah ketika Helen merasa kagum dengan Sukanta yang fasih berbahasa Belanda, hal yang tidak biasa untuk orang Pribumi. Peniruan yang dilakukan oleh Sukanta adalah bentuk resistensi dengan tujuan menyesuaikan diri kepada orang-orang Belanda agar ia mendapatkan tempat yang ideal sebagai individu. Homy K. Bhaba mengistilahkan orang-orang macam Sukanta sebagai mimic man.

Seiring dengan usia kemerdekaan Indonesia, mimic man bertransformasi dan menjadi cikal bakal yang melanggengkan kolonialisme dalam bentuk yang lain. Pascakolonialisme melihat hal ini sebagai dampak yang terjadi dari sisa-sisa penjajahan terhadap bangsa terjajah. Misalnya, dari segi pakaian yang mengkombinasikan antara kebudayaan Indonesia dan modernitas peninggalan Eropa. Atau selera musik berbahasa asing lebih populer dibanding musik berbahasa Indonesia maupun daerah. Film-film Hollywood yang melanggengkan stereotip di mana negara Dunia Ketiga mempunyai ciri yang mereka identifikasi; orang Oriental yang bertubuh kecil dan bermata sipit atau Orang Negro yang berkulit hitam dan berambut keriting.

Orang-orang yang telah melakukan dekolonialisasi atau perlawanan terhadap kolonialisme, mengembangkan satu kritik yang bersentral pada identitas pascakolonial yang berdasar pada interaksi budaya antara identitas yang berbeda. Masyarakat yang pernah terjajah digiring untuk menyadari kekuatan potensi dari kekuatan mereka untuk melakukan resistensi dari berbagai hal. Salah satunya adalah penolakan dan perlawanan terhadap identitas yang diberikan kepada mereka.

Penulis :

Total Views : 956 , Views Today : 2