Usia dan Kepalsuan

Penampilan monolog oleh Achmad Zain/Stone pada 25 Juni 2021 di Halaman Perpusda Sultra dalam rangka ulang tahun ke-29 Teater Sendiri. (Foto: Ikhram Saputra)

Langkah kaki dan dentang bel merambat pelan memenuhi halaman perpustakaan. Tiba-tiba jadi hening. Stone berbaring. Mukanya menghadap ke langit. Bulan purnama baru lewat sehari. Segalanya masih terang di atas sana. Tapi Stone memilih menutup mata. Ia memilih mencari cahaya di dalam diri sendiri.

Lampu menyorot ke sosok Stone yang berbaring. Dari arah belakang. Cahayanya biru. Tampak ia bergerak pelan. Gerak teaterikal. Mula-mula kaki kemudian tangan. Semua terlihat berbeda ketika disinari cahaya. Sesuatu yang halus berwarna putih melayang di atas tubuh yang berbaring. Mungkin bedak atau terigu atau semacamnya. Barangkali isyarat muasal tubuh, dari debu yang hina.

Berkali-kali stone menepukkan tangan. Membuat efek magis dari debu tadi yang ditimpa cahaya kuning. Kemudian perlahan bangkit. Bergerak. Pelan menuju tiang bertaut tiga. Di sana ada baju putih tergantung di bawah sebuah payung yang diderek. Tiap-tiap tiang dijaga seorang bisu. Tak bicara. Hanya dentang bel yang dipukulkan, atau berisik kerikil di kuali besar.

Lalu Stone buka bicara. Kepalsuan. Katanya begitu. Adegan lalu bergeser ke sudut. Ke tiap tiang. Ada cairan dalam kantong diambil kemudian dipecahkan. Mula-mula merah. Kemudian kuning. Kemudian biru. Pada tubuh yang semula putih oleh debu, lalu Stone menyirami tubuh dengan aneka warna, terlihat benar rupa diri silih berganti. Demikianlah barangkali yang ingin Stone sampaikan. Semula kita hanya debu. Yang putih. Yang polos. Lalu kita tergoda menjamah setiap warna. Lalu membasuh seluruhnya sampai hendak menghilangkan apa yang semula putih akhirnya nyaris tak tampak. Tidak cukup hanya satu warna. Kita menyalin rupa lagi. Dan lagi. Inikah kepalsuan? Saya tidak tahu.

Tapi monolog ini berkaitan dengan usia Teater Sendiri. 29 Tahun. Bisakah saya bilang bahwa usia adalah kepalsuan? Atau waktu? Sesuatu yang hanya sebentar. Yang tak pernah benar-benar jadi milik kita. Yang memaksa kita menyesuaikan diri dengannya, alih-alih mengaturnya. Perihal waktu ini, kata Malik, ketika belum tiba disebut nanti. Bila sudah tiba disebut tadi. Betapa fana.

Pada rupa manusia yang tampil dalam monolog kepalsuan, Stone menohok dengan kata-kata yang tajam dan telanjang. Tapi secara keseluruhan kita adalah kepalsuan itu sendiri. Senyum kita palsu. Muka kita palsu. Gerak kita palsu. Bahkan begitu sering kita menutupi kepalsuan dengan kepalsuan lain sampai-sampai kita sulit memilah kepalsuan mana yang tinggi kualitasnya. Ini pula yang sebaik-baik gerak yang ditunjukkan pada tubuh yang terombang ambing di atas wajan.
Bergoyang dari kepalsuan yang satu ke kepalsuan yang lain. Atau Stone ingin bilang, bahwa dunia yang membuat kita bergoyang, dan kita turut menikmatinya? Saya tidak tahu.

Langkah kaki tadi. Dentang bel itu. Bisakah saya sebut sebagai pengingat? Tanda waktu yang berdetak. Isyarat yang menyentuh dinding hati. Agar kita kembali melihat ke dalam diri. Mencari sumber cahaya yang hakiki: hati yang jernih. Tempat menimbang yang tulus dan ikhlas. Sepotong daging yang murni. Yang mengingatkan kita pada muasal diri yang hina. Lalu kembali menjadi putih lagi. Seperti kostum yang serba putih, yang mula-mula dikenakan Stone. Mungkin saja.

Pembacaan saya mengarah ke sana. Mencoba merangkai setiap fragmen monolog itu dalam gerak dan kata yang disampaikan. Menemukan setiap pesan yang ingin disampaikan. Dan memunguti makna yang berserakan di antara keheningan suasana dan cahaya bulan yang menyertai malam itu.

Duh waktu. Eh, usia. Betapa ia lebih kuat dari kita, tulis Rendra. Sesuatu yang menandai batas. 29 tahun adalah hitungan angka. Tak berarti apa-apa. Kecuali kita membuka muka sendiri. Kepalsuan yang melekat erat di wajah berpuluh tahun lamanya ini.

Penulis :

Total Views : 778 , Views Today : 2