Upaya Merawat Kurt Cobain dalam Ingatan

Kurt Cobain

Dalam perjalanan hidup, pernakah Anda menghitung ada berapa lupa yang hilang berceceran di udara? yang luput untuk dirawat dalam arsip ingatan?

Imam Syafi’i pernah berkata bahwa, “Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya. Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat.” Anjuran mencatat ilmu juga telah diingatkan oleh Rasulullah SAW:“Ikatlah ilmu dengan dengan menulisnya”. Dua kali termaktub kata dengan sebagai tanda peringatan.

Saya merasa lumayan ruah membaca terkait perjalanan hidup Kurt Cobain. Baik berupa artikel di media online maupun lewat film. Sekitar tahun 2010-an, saya juga pernah membaca satu buku biografi yang tebalnya sekitar 200-an halaman. Naasnya, bahkan kini judul bukunya pun saya lupa. Pun dengan hampir seluruh lagu Kurt Cobain sudah kulahap. Namun, ketika diskusi terkait Kurt Cobain, terkadang saya selalu gagal dalam merunut detail ingatan dari hasil serapan dan bacaan tersebut.

Saya memang merasa ada sedikit masalah dengan daya ingat. Bukan hanya terkait pada bacaan. Pun saat perform, berada di departemen vokal, saya terkadang sering lupa dengan lirik-lirik lagu yang saya bawakan ketika live.

Pada ingatan yang memiliki batasan itulah, maka serap bacaan pada buku “Heavier Than Heaven Biografi Kurt Cobain” coba kuabadikan dalam catatan ini. Sebagai penanda untuk memantik ingatan di hari esok. Sekaligus sebagai upaya merawat Kurt Cobain dalam ingatan.

***

Hampir semua ulasan mengatakan bahwa Havier Than Heaven merupakan buku yang paling kompleks menuliskan setiap episode kehidupan Kurt Cobain. Sebagaimana pernyataan Aberdeen (Washington) Daily World: Heavier Than Heaven mungkin akan diakui selamanya sebagai biografi definitif Kurt Cobain.

Seluruh bagian garis miring dalam tulisan ini, pada bagian berikutnya adalah kutipan dari buku Havier Than Heaven.

Cikal bakal kata Havier Than Heaven lahir dari seorang promotor musik Inggris yang mengiklankan salah satu gig Nirvana dan TAD dengan tajuk “Havier Than Heaven”. Kata-kata tersebut kemudian disepakati menjadi tajuk tour Nirvana dan TAD di Inggris pada Oktober 1989.

Charles R. Cross mengerjakan buku ini dalam kurun waktu 4 tahun. Ia menelusuri perjalanan Kurt Cobain dengan melakukan lebih dari 400 wawancara. Dengan tebal 564 halaman dan 517 episode, buku ini disajikan secara gurih dengan gaya prosa. Membaca riwayat hidup Kurt Cobain dalam buku terjemahan ini terasa seperti sedang membaca sebuah novel yang mengalir menggiring imajinasi kedalam cerita. Baru ketika usai larut berlabuh membaca, ingatan seketika tergugah bahwa ini merupakan kisah nyata.

Dalam buku ini, ada begitu banyak hal yang menerangi kita tentang kehidupan Kurt Cobain. Mulai dari cinta, perjuangan, konsistensi, serta totalitas Kurt dalam menggapai mimpi. Berikut saya sajikan beberapa rekaman penggalan kisah dalam buku ini, sebagai bahan energi (utamanya) pada musisi maupun pelaku industri kreatif yang baru meniti karir:

Perkenalan Kurt Cobain dengan Musik

Kurt menunjukkan ketertarikan pada musik di usia 2 tahun. Ketika berusia 4 tahun, sepulang dari bepergian ke taman, Kurt duduk di depan piano dan mulai mencoba menciptakan lagu sederhana tentang petualangannya hari itu. “We went to the park, we got candy’ adalah sebagian isi liriknya. “aku kagum”, kenang Mari (adik dari Ibu Kurt Cobain). “Aku seharusnya merekam Kurt waktu itu—boleh jadi itulah lagu pertamanya.’

Kurt memulai kelas musiknya di kelas lima SD, tetapi mulai memainkan dram di band sekolah pada saat duduk di kelas satu SMP. Kurt mulai berlatih musik secara formal di usia 14 tahun. Ia dilatih oleh Warren Mason, salah seorang pemain gitar paling andal di Harbor. Biaya kursusnya 5 dolar per setengah jam. Warren menanyai Kurt sebuah pertanyaan yang biasa dia ajukan kepada anak-anak muda, “Lagu apa saja yang ingin kaupelajari? Kurt menyahut, “’Stairway to Heaven’.” Selesai dengan “Stairway to Heaven”-nya Led Zeppelin, mereka melanjutkannya dengan “Back in Black”-nya AC/DC.

Soal menghancurkan gitar yang kemudian jadi salah satu identitas dan gimik ketika bersinar bersama Nirvana, bukan hal baru baginya. Ketika remaja, hal tersebut pernah dilakukan. Suatu ketika, ia menghancurkan gitar bekas buatan Jepang dengan merk Hawaiian milik ayahnya. Itu dilakukan sekadar untuk melihat sistem kerja bagian dalam gitar. Setelah rusak, ia memanggil Bibinya dan bertanya soal cara memasang senarnya. Gitar tersebut lalu dibawanya ke sekolah untuk dipamer ke temannya sebagai upaya membentuk identitas dirinya. Ia lalu berkata ke setiap orang yang bertanya, Jangan minta aku memainkan lagu apapun, gitar ini rusak.

Sedari remaja, Kurt sering menghadiri gig dan konser-konser. Pengalaman konser perdana dalam hidupnya adalah ketika di usia 16 tahun ia menyaksikan konser Sammy Hagar dan Quarterflash.

Pistol adalah benda yang mengakhiri hidup Kurt. Namun, dalam sebuah kesempatan, untuk melengkapi alat latihan, justru pistol juga yang jadi penyelamatnya. Suatu ketika ia pernah menggadai sebuah pistol untuk mendapatkan ampli elektronik merk fender delux.

Untuk tata sound dan energi manggung, Kurt banyak belajar ketika menjadi kru panggung band Melvins.

Remaja Dalam Kemiskinan

Mega bintang Kurt Donald Cobain tidak lahir dari keluarga berada. Ia lahir di Aberdeen pada 20 Februari 1967 dari rahim seorang ibu rumah tangga sederhana, Wendy Elizabeth. Ayahnya Donald Leland Cobain adalah seorang montir bengkel dengan gaji 6 ribu dolar per tahun. Bahkan persoalan keuangan jadi salah satu sumber pertengkaran dan perceraian kedua orang tuanya. Satu-satunya warisan paling berharga yang dimilikinya hanyalah paras tampan.

Saat remaja, ia pernah membual ke seorang temannya, Aku akan menjadi seorang superstar. Dalam perjuangan membumikan kata-kata tersebut, ada beragam jenis pekerjaan buruh ia cicipi demi untuk berkembang dan bertahan hidup. Mulai dari tukang cuci piring, potong rumput, pembantu umum, asisten koki, pramusaji, klining servis, pemelihara sarana, pemasang karpet, hingga petugas kebersihan kolam renang. Suatu ketika, ia juga pernah numpang makan di sebuah rumah sakit.

Namun, walau sudah berupaya, ia juga kadang tak mampu untuk memenuhi bayar sewa tempat tinggal. Sehingga ia sering hidup bergelandangan numpang kiri kanan dan tidur sekenanya dimana saja. Ia pernah tidur di jok belakang mobil rongsok milik Greg Hokanson, di mini bus Volkswagen, di bagasi mobil, di teras rumah Dave Crover beralas kardus bekas lemari es, tidur di lorong-lorong apartemen dan harus bangun sebelum para penghuni apartemen beraktifitas.

Buku dan Film              

Hingga hari ini, saya belum yakin jika ada seorang musisi besar yang jeli dalam mencipta lagu tanpa mengakrabkan diri dengan buku. Tak bisa dinafikkan bahwa bacaan dan catatan harian menjadi salah satu yang membentuk kematangan Kurt Cobain dalam menulis lagu. Selain membaca dan menulis, ia juga rutin membaca majalah musik dan artikel-artikel terkait jainisme. Beberapa karya vandalismenya juga terinspirasi dari buku. Semisal saat ia tinggal di sebuah apartemen bersama pacarnya yang bernama Tracy, ia mengecat kamar mandi dengan warna merah darah dan menulis “REDRUM” di temboknya, mengacu pada novel The Shinging-nya Stepen King.

Buku yang pernah dilahapnya beragam. Mulai dari To Kill a Mockingbird karya Harper Lee hingga All You Need to Know About the Music Business karya Donald Passman. Sewaktu memasuki usia 18 tahun, Kurt dihadiahi oleh bibinya dua buah buku: Hammer of the Gods, biografi Led Zeppelin, dan koleksi ilustrasi Norman Rockwell.

Buku juga acapkali Kurt jadikan hadiah untuk kekasihnya. Kurt pernah memberikan kado Natal pada Tracy berupa buku The Art of Rock, mengirimi Courtney dua buah novel karya Oscar Wilde berjudul The Picture of Dorian Gray dan karya Emily Bronte berjudul Withering Heights. Kurt dan Courtney Love juga sesekali saling membacakan buku di atas tempat tidur.

Menurut pengakuan Hilary Richrod, seorang petugas perpustakaan Aberdeen Timberland Library, Kurt sering menghabiskan waktunya di perpustakaan untuk membaca atau sekadar tidur. Saat tur di Rotterdam ia hanya membawa tas kecil berisi salinan novel William S. Burroughs berjudul Naked Lunch.

2 tahun setelah Nevermind turun dari Bilboard, Kurt diwawancarai oleh Jon Savage, penulis buku England’s Dreaming. Dalam penuturan penulis, dalam kondisi Kurt yang malas berbicara dengan media, ia saat itu mau karena Barangkali, lantaran Kurt mengagumi buku Savage tersebut.

Kurt akrab dengan karya Shakespeare. Pernah ia meracau tentang Shakespeare dalam mobil ambulance saat dirinya dari rumah diantar ke rumah sakit sebab sekarat karena overdosis pemakaian narkoba. Pun saat sekarat di Roma. Pada penggalan catatan bunuh dirinya ia menyinggung tentang karakter Hamlet yang paling terkenal dalam drama Shakespeare: Dr Baker berkata, seperti Hamlet, aku harus memilih antara hidup dan mati. Aku memilih mati.

Tentang film, Tahun 1982, di usia 14 tahun, Kurt mulai bisa membuat film sendiri menggunakan kamera Super-8 milik ayahnya. Film pertamanya berupa tiruan terhadap adegan Wr of the Worlds-nya Orson Walles yang mengisahkan tentang alien—diperankan oleh tokoh-tokoh berbahan tanah liat buatan Kurt—yang mendarat di halaman belakang rumah Cobain.

Tak hanya itu, dengan tipe camera yang sama, ia juga membuat film pendek. Sebuah film bisu berdurasi pendek yang dibuat kali ini menampilkan Kurt yang sedang berjalan melewati sebuah bangunan kosong mengenakan kaus KISW bertuliskan “Seattle’s Best Rock dan menggunakan kacamata hitam, berusaha mirip Jean-Paul Belmondo dalam film Breathless. Di film lainnya, dia memakai topeng Mr. T dan berpura-pura mengendus sesuatu yang mirip kokain, efek khusus yang dia ciptakan dari tepung dan alat penyedot debu.

Ketertarikannya dengan film sejak remajalah yang membuat hampir seluruh video musik yang diproduksi Nirvana berangkat dari ide ceritanya. Sebagaimana pada video klip “Smells Like Teen Spirit” yang jika dikulik lebih dalam, narasi besarnya adalah menggambarkan dirinya dimasa perjuangan. Semisal pada beberapa scene kontradiksi yang tiba-tiba menampilkan aksi petugas kebersihan sebagimana ia dimasa lalu.

Nirvana

Kurt pertama kali bertemu basis Nirvana, Krist Novoselic di Nort River, saat ia diberi tumpangan tinggal di rumah keluarga Dave Reed. Pada bulan bulan awal 1986, Kurt dan Krist mulai bermain bersama tetangga, seorang pemain dram bernama Aaron Burckhard, dalam sebuah band tanpa nama; Krist bermain bas, Kurt bermain gitar sekaligus menyanyi. Inilah cikal bakal Nirvana, sekaligus merupakan eksplorasi pertama Kurt sebagai seorang pentolan di dunia musik. Mereka berlatih hampir setiap malam.

Kurt dan Krist pertama kali melakukan sesi rekaman pada 1987 di Reciprocal yang dijalankan oleh Chris Hanszek bersama Endino, sebuah studio rekaman yang juga pernah digunakan oleh Mudhoney, Soundgarden, dan Mother Love Bone. Kurt membayar total tagihan sebesar 152,44 dollar secara tunai. Dia bilang, uang itu dia sisihkan dari hasil kerja sebagai petugas kebersihan. Departemen drum di isi oleh Dale Crover.Selesai rekaman, dari Seatle mereka langsung menempuh perjalanan kurang lebih 53 km (32 miles) untuk beranjak pulang ke wilayah Tacoma. Sepanjang perjalanan, mereka dua kali mendengarkan hasil rekaman yang baru saja dibuat. Secara berurutan, kesepuluh lagu tersebut yaitu “If You Must”, Downer”, “Floyd the Barber”, “Paper Cuts”, “Spank Thru”, “Hairspray Queen”, “Aero Zeppelin”, “Beeswax”, “Mexian Seafood”, dan setengah lagu “Pen Cap Shew” yang tidak selesai lantaran saat rekaman gulungan pitanya habis dan mereka tidak mau membayar tambahan 30 dolar untuk pita baru.

Setelah rekaman dan mencicipi beberapa gig, Dale Crover harus kembali ke California dan bergabung bersama band Melvins. Crover mekomendasikan Dave Foster dari Aberdeen. Kurt dan Krist akhirnya melanjutkan mimpi bersama Foster. Tak jarang, karena tinggal di Tacoma, untuk latihan band Kurt harus rela mengantar jemput Foster yang tinggal di wilayah Aberdeen.

Sebelum Nirvana, dalam perjalanan karirnya, Kurt gonta ganti menamai bandnya. Mulai dari Fecal Matter, Sellouts, Stiff Woodies, Throot Eyster, Ted, Ed, hingga Fred. Begitupula pada format personil. Sebelum bersama Foster, di departemen drum ia pernah merekrut Bob McFadden dan Chad Channing untuk memberi daya padadebuk iringan distorsi gitarnya. Namun nama-nama itu belum mampu mengimbangi energinya dan mendapatkan nama band yang pakem.

Nanti dalam format bersama Krist Novoselic dan Dave Foster-lah Kurt baru menamai bandnya dengan Nirvana. Foster pertama kali mengetahui nama itu ketika melihat sebuah pamflet gig di rumah Kurt dengan tulisan “Nirvana”. “Siapa itu?” tanyanya. “Kita” jawab Kurt. “Artinya, pencapaian terhadap sebuah kesempurnaan.” Dalam Budhisme, nirvana adalah tempat yang dapat dicapai ketika seseorang telah bisa melampaui siklus reinkarnasi dan penderitaan hidup sebagai manusia. Hal itu dilakukan dengan cara meninggalkan nafsu duniawi, mengikuti delapan ajaran Buddha, dan melakukan meditasi serta praktik spiritual. Jemaahnya melakukan itu semua untuk mencapai nirwana dan dengan demikian maka juga terbebas dari penderitaan hidup. Saat itu, Kurt menganggap dirinya sebagai seorang Buddhis, meskipun satu-satunya praktik ibadah yang dia lakukan ialah menonton program acara dakwah agama Buddha di televisi hingga larut malam.

Nirvana resmi berada dalam naungan label Sub Pop ditandai dengan dirilisnya single “Love Buzz” dengan jumlah seribu keping. Saat menerima seratus keping kaset dari Sub Pop, Kurt memberikan satu keping ke stasiun radio kampus KCMU. Karena tidak sabar agar lagunya didengarkan, dua jam kemudian Kurt dalam perjalanan pulang dari radio tersebut singgah ke pom bensin dan merequest lagunya sendiri.

Dalam perjalanan membentuk kematangan dan sebelum menggeser Michael Jackson dipuncak tangga Bilboard tahun 1991, terhitung pada 1987-1988 Nirvana melakukan total penampilan sebanyak 24 kali. Ditahun 1989 memcicipi 100 gig.

Dave Grohl menjadi porsenil Nirvana pada tahun 1990. Ia menggantikan Dan Peters yang hanya sekali bermain di Nirvana pada sebuah konser pada tanggal 22 September. Gig pertama Grohl bersama Nirvana diselenggarakan di North Shore Suft Club, Olympia. Kemudian menjadi format abadi dan bergabung bersama label David Geffen Company untuk merekam album Nevermind menggunakan jasa produser Butch Vig di studio rekaman Sound City, Los Angeles.

Genetik Bunuh Diri dan Mengakhiri Diri

Aku akan menjadi seorang musisi superstar, lalu bunuh diri dan melebur dalam api kemuliaan.

Aku tidak khawatir tentang apa yang bakal terjadi saat usiaku 30 tahun, aku tidak mau mencapai usia itu. Kau pasti tahu seperti apa hidup setelah 30 tahun—aku tidak menginginkannya.

~ Kurt Cobain

27 tahun, 1 bulan, dan 16 hari mungkin terbilang waktu yang singkat. Namun, sebagaimana ungkapan pendetaTowles di pemberkatan terakhir Kurt Cobain, bahwa, Kita di sini untuk mengenang dan melepas Kurt Cobain, yang menjalani kehidupan singkat dengan pencapaian abadi.

5 April 1994 menjadi hari berkabungnya para penikmat musik grunge. Pada akhirnya Kurt Cobain terlalu mudah untuk dicintai namun sulit untuk dibaca. Bualan dari mulutnya serta kenyataan dalam hidupnya adalah sebuah kontradiksi sekaligus fakta. Ia adalah legenda rock yang akan selalu dikenang sebagai sosok yang paling sukses mengangkat grunge yang segmented menjadi penguasa seluruh frekuensi penyiaran dimasa itu.

Pada tiap episode kehidupannya, Kurt sangat karib dengan pistol dan sering mengatakan akan bunuh diri dan mendekatkan dirinya dengan kematian.

Suatu ketika, saat Nirvana menjalankan tour di Los Angelas ia bertemu dengan kawan lamanya, Jesse Reed. Saat bertemu, ia memilih janjian di Mc Donald’s San Ysidro, sebuah lokasi dimana seseorang yang bernama James Huberty pernah melakukan penembakan massal. Kurt dengan sengaja memasukkan lokasi tersebut sebagai tempat yang harus ia kunjungi karena identik dengan pistol dan kematian.

Dari buku Heavier Than Heaven, ada banyak kata ‘bunuh diri’ yang ia lontarkan dalam hidupnya. Suatu ketika saat cuci piring tangannya luka dan harus dijahit. Waktu itu dia bilang: kalau jarinya tidak bisa dipakai main gitar, dia akan bunuh diri.

Entah kebetulan atau tidak, bunuh diri juga semacam menjadi genetik di keluarga Kurt. Kenneth Cobain, saudara dari kakeknya bunuh diri setelah terpukul dengan kematian istrinya. Bibir pistol berkaliber 22 milimeter dihempaskan tepat dahi untuk menyudahi hidupnya.Ayah kakeknya meninggal setelah menarik pelatuk pistolnya tanpa sengaja. Lalu kakek buyutnya yang bernama James Irving pernah coba bunuh diri dengan menikam perutnya. Dua bulan setelahnya tewas. Berlanjut keBurle Cobain, saudara dari kakeknya. Ia mati akibat dari menembak perut dan kepalanya sendiri. Kurt pun berkekeh pada peristiwa bunuh diri Buble Cobain, bahwa kakeknya membunuh dirinya sendiri untuk menyusul Jim Morrison.

***

Sebelum menghembuskan nafas terakhir dengan Shotgun Remington-M11 ke kepala, pada akhir surat kematiannya Kurt mengutip kata Neil Young: Lebih baik terbakar habis daripada memudar.

Melewati proses panjang dan berdarah-darah, ada banyak yang menyayangkan ketika Kurt Cobain telah berhasil menembus segala batasan dalam hidupnya, justru pada saat mimpinya tercapai ia malah mengakhiri hidupnya.

Namun darinya kita bisa belajar, bahwa Kurt Donald Cobain adalah pemimpi yang menjalani hulu hidupnya dengan mengaliri alur mimpinya hingga ke hilir.

 

Penulis :

 

Total Views : 1,637 , Views Today : 6