Upaya Menjadi Santri Seumur Hidup di “Dalam Waktu Dekat”

Dalam waktu dekat
( Buku “Dalam Waktu Dekat” karya Budiman Sulaeman terbitan Sampan Institute ) 

Santri adalah orang yang berpenuh seluruh dalam mendalami agama Islam. Orang yang berbenteng kesalehan. Olehnya itu, untuk mencapai maqom kesantrian, seseorang musti dengan kesungguhan hati dalam mendalami, menerjemahi, mengungkapkan, dan mengamalkan ajaran agama dalam keseharian.

Seorang santri tidak selamanya adalah ia yang alumni pondok pesantren. Untuk menempuh jalan kesantrian, memang paling direkomendasikan untuk melalui tirakat jalan formal mondok di asrama pesantren. Namun mondok di pesantren kehidupan, lewat cara berupaya mendalami ilmu agama dan mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari, juga tidak salah.

Perbedaannya, di pondok ada kewajiban (atau semacam paksaan) untuk memulai hari dengan bangun di pagi buta untuk mendirikan sunnah, ber-mujahadah, lalu salat subuh. Setelah itu bersih-bersih, sarapan, olahraga agar bugar dan jernih dalam menghadapi pelajaran intrakulikuler maupun ekstrakulikuler hingga malam hari. Itu semua adalah bagian dari proses menancapkan pola hidup untuk mencapai nafas kesantrian. Agar begitu keluar dari pondok, laku hidup kesungguhan tersebut tertanam di debar nadi kehidupan.

Paksaan semacam itu yang tidak ada di pesantren kehidupan. Di pesantren kehidupan, panduan dan kewajiban dalam berproses bergantung dari denyut hati dan daya juang seseorang dalam menyelami lautan Islam. Tujuannya sama; untuk mencapai spiritualitas, intelektualitas, dan kebugaran fisik agar memiliki cahaya dalam menjalani hidup.

***

Baru-baru ini, oleh kawan di Parepare, Sulawesi Selatan, saya baru saja diperkenalkan dengan seseorang yang bernama Budiman Sulaeman. Ia adalah alumni pondok Pesantren Yasrib di Lapajung Watansoppeng, Sulawesi Selatan. Saat ini aktif sebagai dosen tarbiah/tafsir di Institut Agama Islam (IAIN) Parepare. Secara usia, beliau tergolong tidak lagi muda. Lahir pada tahun 1973, namun cara beliau merespon beragam peristiwa sosial keagamaan melalui tulisan masih sangat prima dan kontekstual.

Saya mengenal Pak Budi melalui bukunya yang berjudul “Dalam Waktu Dekat”. Membaca buku tersebut, walaupun beliau sendiri sudah cukup lama menjadi alumni pondok, saya melihat Budiman Sulaeman sebagai sosok yang terus berupaya untuk menjadi santri di kehidupan.

Dalam Islam kita mengenal konsep mindfulness atau muraqabah. Suatu kondisi di mana jiwa seseorang merasakan bahwa sebagai hamba, akan selalu diawasi oleh ALLAH SWT. ALLAH SWT selalu ada pada setiap ruang dan waktu. Untuk itulah laku kesalehan ala santri musti disetiap hari-kan.

Seperti yang kita ketahui, tidak semua alumni pondok yang keluar dari pesantren bisa konsisten dengan laku santri. Ada begitu banyak rintangan dan godaan duniawi yang tidak mudah untuk dilalui.

Sosok Pak Budi adalah salah satu contoh bagaimana seseorang yang berupaya selamanya menjadi santri. Walau belum pernah bertemu langsung, tetapi melalui tulisannya, saya mencium aroma keikhlasan pada dirinya untuk terus mencari dan membagi pengetahuan yang diketahui.

“Dalam Waktu Dekat” adalah buku kumpulan catatan renungan berisi cuplikan peristiwa sosial keagamaan di sekitar, yang diterbitkan oleh Sampan Institute. Tema-tema yang dibahas mulai dari pemaknaannya tentang jargon “ikhlas beragama” pada Hari Amal Bakti Kementerian Agama dan hari-hari perayaan lainnya. Tentang bagaimana menjadi manusia dan kemanusiaan, tentang ketauhidan, fenomena hijarah kaula muda, soal haji, politik, hingga tentang pro kontra bunyi toa masjid.

Bukunya adalah pilihan bagi kita yang ingin meresapi cara mengungkapkan kegelisahan pada gejala dan potret sosial di sekitar kita melalui kacamata agama.

Walau acapkali berlandaskan ayat dan hadist dalam merespon peristiwa, Pak Budi berada dalam konteks membagikan pemaknaan, tidak menggurui. Sebagai yang Islamnya pas-pasan, buku ini tidak membuat saya kewalahan membacanya. Sebab alur tulisan dan daya ungkap Pak Budi begitu renyah dibaca. Membaca “Dalam Waktu Dekat” rasanya seperti sedang ikut pesantren kilat.

Untuk meresapi kandungan isi tulisannya, saya membacanya sebagaimana menikmati kopi yang asik untuk diseruput secara perlahan-lahan. Bacaan santai yang mengajak kita untuk membaca sekitar, menarik hikmahnya, menuliskan, dan membagikannya.

Ilmu pengetahuan adalah tentang jangkauan pencarinya. Pada halaman pertama “Dalam Waktu Dekat”, Budi Sulaeman mengutip pernyataan Prof. Nadirsyah Hosen, Ph.D. pada buku tafsir Al-Qur’an: Saat membaca sebuah tulisan, carilah jiwa penulisnya, raihlah imajinasinya, dan resapilah energinya.

Saya mungkin akan berulang kali membaca “Dalam Waktu Dekat” sebagai bagian dari upaya menyelami jiwa, imajinasi, dan energi Pak Budi dengan getaran keikhlasannya sangat terasa dalam membagikan pengetahuan melalui tulisan.

Penulis :




Total Views : 838 , Views Today : 2