The Queen’s Gambit : Lezatnya Catur dan Premis yang Tak Penting

Catur adalah permainan yang menyiksa mental. Begitu kata seorang grand master dunia, Garry Kasparov, yang berasal dari Rusia.

Film The Queen’s Gambit seakan hadir untuk melegitimasi pandangan tersebut.

Sebab catur adalah murni mengandalkan kecermatan pikiran, dan bagaimana selangkah tiga langkah lebih maju dari pikiran lawan, maka untuk menjadi yang terbaik, seseorang tidak hanya musti lihai meramu strategi taktik. Melainkan, ia juga musti tuntas pada persoalan mental saat adu tanding.

Queen Gambit berkisah tentang perjalanan seorang perempuan peraih juara catur dunia. Namanya Elizabeth Harmon. Pada umur 9 tahun, ia ditampung oleh panti asuhan di Lexington, Kentucky, Amerika Serikat, setelah ibunya meninggal dunia akibat kecelakaan mobil.

Di panti asuhan tersebut, ia adalah murid yang jenius dalam pelajaran. Suatu ketika, gurunya memberikan tugas kelas. Beth menyelesaikan dengan cepat di tengah murid lain masih bergelut mengerjakan. Gurunya periksa dengan senyum bangga bercampur kejut. Karena sudah tuntas, ia pun disuruh untuk membersihkan penghapus papan tulis kapur di rubanah.

Dari sinilah perkenalannya dengan catur bermula. Saat bersihkan penghapus, ia melihat Mr. Shaibel, petugas kebersihan panti sedang main catur melawan dirinya sendiri. Ia bertanya dengan polos, permainan apa yang sedang dimainkan? Shaibel dengan ekspresi datar menjawab, ini catur. Ia ingin belajar, namun keinginannya tidak dituruti.

Seorang anak kecil yang mendapat perlakuan demikian, tentu semakin memendam kehendak. Rasa penasaran dan keingin tauhan menghantuinya. Terbawa hingga malam hari menjelang tidur.

Besoknya, ia kembali ke rubanah. Dengan ingatan detail pada sekilas langkah saat melihat Mr. Shaibel kemarin bermain sendiri, secara percaya diri ia bilang bahwa sudah tau cara bermainnya. Dengan yakin Beth menjelaskan langkah setiap bidak. Ia pun mendapat restu. “Ayo bermain, atau tidak sama sekali.”

Keinginan Beth untuk bermain akhirnya kesampaian. Namun dengan enteng Mr. Shaibel mengalahkannya hanya dengan 4 langkah; sebuah langkah pembuka klasik kombinasi antara gajah dan ratu. “Cukup untuk hari ini”, kata Mr. Shaibel. Dikalahkan hanya dengan hitungan detik, permintaan Beth untuk terus bermain tidak dikabulkan.

Makin penasaran. Dengan bantuan pil penenang, dimalam hari menjelang tidur, Beth kembali mengingat permainan pagi tadi. Mencari formula baru dan simulasi langkah alternatif dalam pikirannya. Melalui medium dinding langit kamar yang di imajinasikan sebagai papan catur.

Besoknya, ia kembali bermain dan bermain. Setiap hari begitu. Hingga suatu hari dengan upaya keras, ia mengagetkan gurunya dengan kemenangan mutlak. Gurunya memberi salam kemenangan.

Melihat perkembangan Beth, si petugas kebersihan yang kemudian jadi mentornya, lalu mendatangkan seorang guru SMA yang merupakan mentor dari asosiasi catur pelajar di sekolahnya. Bermain lawan guru SMA tersebut, Beth kembali menang dan membuat kagum sang guru.

Ia lalu diajak bermain di SMA sang guru. Melawan semua pemain catur yang tergabung dalam komunitas catur di SMA tersebut, pada hari dan waktu bersamaan. Hasilnya, Beth yang masih berusia 9 tahun berhasil menumbangkan semua lawannya tanpa ampun.

Berikutnya, mengikuti turnamen level se-kota, ia kembali juara. Lalu juara, juara dan juara lagi di level berikutnya.

Ia lalu mendapatkan popularitas. Pada suatu wawancara dengan media Time, Beth memiliki makna yang tidak ditemui oleh orang lain tentang arti catur.

Menurutnya, “catur adalah seluruh dunia yang hanya terdiri dari 64 petak. Aku merasa aman di dalamnya. Aku bisa mengendalikan dan mendominasinya. Catur juga mudah ditebak. Jadi, jika terluka, aku hanya menyalahkan diriku.”

*

Rasanya cukup. Begitulah ringkas ceritanya. Ini sudah keterlaluan spoiler sebenarnya. Namun yakinlah. Bagi anda yang hobi main catur atau ada ketertarikan main catur, nontonlah film ini. Berdasarkan rating, Queen’s Gambit adalah serial terbaik. 7 episode di Netflix. Mulai rilis akhir Oktober 2020 kemarin.

Masing-masing serial menyimpan banyak pelajaran dan teknik catur. Juga menyinggung isu gender.
Oh, ia. Queen Gambit itu adalah sebuah metode opening dalam permainan catur. Dimana seseorang akan mengorbankan pionnya untuk mengendalikan papan tengah catur.

Nonton filmnya. Di sana anda juga akan banyak mendapatkan tentang literasi catur. Walau filmnya adaptasi dari sebuah novel fiksi karya Walter Tevis, namun bacaan-bacaan Beth yang ditampilkan dalam film adalah buku-buku yang ada dalam kehidupan nyata. Bagi anda yang menyukai pertahanan sisilia, teknik ini juga banyak dibahas dalam film.

Dalam sejarah, tidak ada seorang perempuan yang pernah mendapat gelar juara catur dunia umum. Namun, tokoh Beth yang diperankan oleh si manis Anya Taylor-Joy sebagai perempuan fiksi, berhasil membuat kita seakan larut berinteraksi dengan kenyataan. Scoot Frank sebagai sutrada cukup keren.

Saya bilang cukup, karena filmnya memang didominasi tentang catur. Tapi saat yang sama, ada banyak hal receh yang disajikan oleh Frank.

Semisal dramatisasi ala sinetron SCTV yang berulang kali ditampilkan. Tau kan, drama ala cookies SCTV yang seringkali nanti baru pada upaya kali ketiga usaha baru berhasil? Nah, adegan yang mudah ketebak itu seringkali ditampilkan.

Semisal saat final. Dimana Beth baru pada kali ketiga setelah lawannya minta pertandingan ditunda dilanjutkan besok, lalu lawannya minta remis, baru Beth menang.

Kalau saya ceritakan berapa kali jumlah pertandingan final dengan lawan yang sama, baru Beth menang. Itu akan sangat mengganggu pikiran anda saat menonton filmnya.

Intinya, jika dalam stand up comedy, film ini mau berupaya memakai teknik rule of three untuk membuat kejutan. Tapi penonton tidak terkejut. Karena dramanya mudah ditebak.

Hal lain adalah, yang membuat film ini ada unsur yang bikin wajah cemberut, beberapa kali sang sutradara ingin tipis-tipis menyiratkan bagaimana kedigdayaan negara Amerika Serikat.

Tidak cukupkah Amerika berupaya sabotase pikiran kita bahwa mereka adalah negara terkuat di dunia? Dengan film perang-perangan ala Rambo si Amerika yang hanya dengan seorang diri bisa menumbangkan satu negara Vietnam?

Premis akhir Amerika menumbangkan Jepang, Rusia, dan lain-lain adalah bumbu paling tidak sedap dari lezatnya perjuangan Beth yang pada akhirnya, kecintaannya pada catur mengalahkan ketergantungannya pada obat penenang yang dikonsumsi sejak kecil.

Penulis :

Total Views : 320 , Views Today : 2 

%d blogger menyukai ini: