Tentang Panggilan Sahur dan Sebelum Kebiasaan Kita Berganti Seperti Dulu Lagi

( Ilustrasi: Hahuwa )

Sejak memasuki bulan puasa, ada hal yang membuat saya jadi takjub. Yaitu panggilan-panggilan dari masjid ketika sahur. Panggilan itu terdengar seakan saling bersahut-sahutan di setiap penjuru kota. Kompak membangunkan ummat muslim untuk sahur.

Makan di waktu sahur bukanlah sekadar ajang mengenyangkan diri agar kuat untuk berpuasa. Sahur adalah salah satu sunnah yang masuk dalam keutamaan yang penuh berkah. Sebagaimana salah satu hadist yang pernah diriwayatkan oleh HR. Ahmad: “Makan sahur adalah makan penuh berkah. Janganlah kalian meninggalkannya walau dengan seteguk air karena Allah dan malaikat-Nya bershalawat kepada orang yang makan sahur.”

Bangun di waktu subuh saat tubuh tengah lelap dalam tidur bukanlah hal yang mudah. Butuh perjuangan untuk bangun jam segitu. Ummat muslim butuh mengatur ulang waktunya dengan baik selama satu bulan. Namun, keadaan seperti itu sebenarnya adalah hal yang lumrah sebagai muslim yang taat. Toh, hanya sebulan dalam setahun.

Setiap kali mendengar panggilan sahur itu, saya jadi ingat Om di kampung. Bagaimana dia membangunkan kami saat sahur. Sebelum membangunkan kami sahur, dia akan memberikan kata pengantar terlebih dahulu. Sambil menunjuk jam. Sudah jam berapa katanya. Kata itu sebagai peringatan, apakah sudah terlambat sahur atau belum. Biasanya setiap jam 3 subuh, Om akan membangunkan kami lewat pengeras suara Masjid As-Safar di Muna Barat.

Kadang juga Om membangunkan kami lewat dari setengah 4 subuh. Sebab dia juga manusia biasa yang kadang bisa terlambat bangun. Om memiliki panggilan sahur yang khas. Kita akan dibuat bangun seketika begitu mendengar panggilannya. Soalnya panggilan sahurnya itu seakan terasa dekat sekali di kuping. Nada-nadanya itu seperti sedang menepuk bahu kami.

Kalau Om membangunkan kami jam setengah empat maka kami akan buru-buru bangun. Tapi kalau dia bilang baru menunjukan pukul 03.00 itu artinya kami masih punya banyak kesempatan menyiapkan sahur. Kadang saya akan santai-santai dulu di atas tempat tidur. Atau tidak tidur kembali. Habis itu bangun lagi padahal sudah imsak.

Suatu pagi saya pernah bilang sama Om. Sanggupnya Om bangun terus jam 3 subuh begitu. Tidak mengantuk? dia tersenyum sambil bilang, makanya sebelum tidur berdoa. Saya langsung menepuk dada. Sekuat itukah doa bisa memudahkan segala niat.

Kembali ke kota. Di Kendari ini ada hal menarik saat bangun sahur. Terkadang biasa saya tiba-tiba tersenyum sendiri bila bangun sahur setelah mendengar suara di masjid. Suara panggilan sahurnya kadang menggelitik. Panggilan sahurnya terdengar macam-macam bunyinya. Bunyi panggilannya, ada yang datar biasa saja, merdu, bahkan kelebihan merdu. Dari yang kedengaran, masing-masing bunyi suara masjid seperti mempunyai ciri khas masing-masing. Barangkali dinamis begitu adalah bagian dari upaya mereka agar mudah membangunkan kita sahur.

Di kost, saya pun terbangun dengan lebih dulu menyendok nasi di reskuker. Mengambil ikan bakar yang sudah saya siapkan saat malam, tak lupa tomat, lombo, bawang merah. Sahur dengan ikan bakar dicelup dengan colo-colonya rasanya memang mantap. Setelah itu, saya keluar di teras kos untuk bersantai sejenak. Sambil mengingat dan mengamati bunyi khas panggilan sahur tadi. Barangkali panggilan sahur tadi terpengaruh dari sosial media yang saya lihat tempo hari kemarin, batinku. Tempo hari kemarin saat membuka stori teman saya di whatsapp, saya dibikin tertawa habis-habisan. Vidio itu singkat tapi lucu. Bukan hanya di watsapp sebenarnya vidio itu beredar. Tapi di halaman instagramku juga muncul. Vidio itu berdurasi beberapa menit, memperlihatkan orang yang membangunkan sahur lewat pengeras suara.

Sahurrrrrrraaaaaaaaaa… Sahurrrrrrraaaaaaaaaa…

Suaranya sengaja dibikin-bikin seperti ada batu dalam temboloknya. Sehingga membuat terhibur.

Setelah menonton vidio itu, saya jadi membatin. Betapa kebahagian sedekat ibu jari. Kita dapat dengan bebas menunjukan kelucuan kita lewat gawai yang kita miliki. Rupanya momen puasa saat ini disambut dengan suka ria. Disambut dengan konten-konten lucu yang membuat kita tawa-tawa lepas.

Bagiku puasa tahun ini, walau COVID-19 masih menyelimuti, tapi penuh dengan hal-hal yang membuat kita terhibur. Orang-orang semakin kreatif memanfaatkan momen sebagai bentuk hiburan. Kebiasaan-kebiasaan yang sering kita lakukan tiap hari bisa disulap menjadi kebahagian. Walaupun kebahagian itu terlihat kecil, tapi membuat orang bahagia.

Kini tinggal beberapa hari lagi kita bersentuhan dengan makanan sahur. Biasanya kita akan dibangunkan dengan panggilan-panggilan dari masjid. Sudah dekat waktunya suara-suara akrab yang biasa kita dengar saat bangun sahur, tidak akan kedengaran lagi. Panggilan-panggilan sahur yang biasa akrab di telinga kita akan menghilang. Dan aktifitas akan kembali seperti biasa lagi. Tak ada lagi saling desak-desakan membeli takjil di pinggir jalan. Tak ada lagi saling jaga jam di hp, kapan kapan berbuka. Tak ada lagi duduk di depan takjil sambil mendengarkan qori Al Basit kapan kapan selesai tilawanya. Yang artinya doa berbuka puasa akan segera dilantunkan di mesjid.

Untuk itu, sebelum hari berganti seperti dulu lagi, atau ketika ibu tidak lagi menepuk bahu kita untuk bilang, bangun nak sahur, maka mari merelakan kepergian nikmat Ramadhan ini dengan penuh senyuman. Semoga kita bisa berjumpa dengan Ramadhan di tahun depan. Dan cahaya Ramadhan bisa terus menerangi kita semua dalam mengarungi hidup di sepanjang hari.

 

Penulis :

Total Views : 474 , Views Today : 2 

%d blogger menyukai ini: