Survei Penyelamatan dan Pemetaan Tinggalan Budaya Kota Lama Kendari, Apa Hasilnya?

(Ilustrasi: Kendari Kota)

Pada akhir tahun 2020 kemarin, tim Balai Pelestarian Cagar Budaya Sulawesi Selatan (BPCB Sulsel) melakukan monitoring dan evaluasi di Kota Kendari terkait sisa-sisa peninggalan cagar budaya untuk didorong dan ditetapkan sebagai bagian dari aset daerah dan nasional.

Dalam upaya penyelamatan sisa-sisa peninggalan situs sejarah di Kota Lama Kendari, Pemerintah Kota melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata merespon hal tersebut dengan membentuk Tim Kajian yang terdiri dari berbagai unsur, untuk melihat dan memetakan Cagar Budaya yang hendak diselamatkan.

Langkah tersebut dicanangkan menyambut hasil evaluasi akhir tahun BPCB Sulsel yang kemudian berwujud dalam bentuk program Survei Penyelamatan dan Pemetaan Tinggalan Budaya Kota Lama Kendari mulai tanggal 22 hingga 31 Januari 2021.

Langkah awal yang ditempuh, BPCB Sulsel bersama Disparbud Kota Kendari melakukan kajian terhadap semua warisan sejarah yang ada di Kota Lama.

Mewakili komunitas Indielogis, pada malam 26 Januari 2021, saya menerima undangan Diskusi Kelompok Terpumpun dari BPCB Sulsel. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian Survei Penyelamatan dan Pemetaan Tinggalan Budaya Kota Lama Kendari yang akan dilaksanakan pada 28 Januari 2021 di Hotel Zahra.

Saya menerima undangan tersebut dalam keadaan jiwa yang pedih. Bagaimana tidak, undangan tersebut saya terima tepat di malam ratusan benda peninggalan cagar budaya di Museum Sulawesi Tenggara raup dicuri oleh oknum yang kini sedang dikejar oleh Polres Kota Kendari.

Saat BPCB Sulsel dan Pemkot berupaya menyelamatkan sisa peninggalan cagar budaya di Kota Lama Kendari, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sultra malah kecolongan tak mampu menjaga benda warisan budaya kita di tengah pusat Kota Kendari.

***

Komposisi pada Diskusi Kelompok Terpumpun Survei Penyelamatan dan Pemetaan Tinggalan Budaya Kota Lama Kendari dihadiri oleh Tim Ahli Cagar Budaya Kota, Akademisi, Praktisi, Majelis Adat Kerajaan Laiwoi, Lembaga Adat Tolaki, Komunitas, Dikbud Kota, serta Lurah, Camat, dan Dinas-Dinas terkait.

Diskusi dimulai sekitar jam 10 pagi. Diawali dengan sambutan formal pembuka acara, kemudian dilanjut dengan penyampaian materi dari Anwar Hafid, penulis buku Sejarah Kendari.

Pada pemaparannya, Bapak Anwar Hafid menampilkan hasil penelitiannya dan beberapa lokasi yang masih berpotensi untuk diselamatkan. Kemudian dilanjutkan materi yang disampaikan oleh Dinas terkait.

Di penghujung waktu istirahat, H. Irawan Tekaka Saosao sebagai Raja Laiwoi dengan gelar Mokole Wulaa Lipuwutano Laiwoi memaparkan pandangannya. Bagi beliau, Kerajaan Laiwoi jauh hari telah ikhlas melepas kekuasaan pada Negara beserta aset tanah dan benda yang dimiliki. Harapannya adalah bagaiamana aset tersebut bisa dikelola secara baik oleh pemerintah sebagai wahana pelajaran sejarah dan kebudayaan Kota Kendari untuk generasi mendatang.

Diskusi pada sesi awal itu, berjalan datar hanya satu arah. Peserta diskusi tidak diperkenankan merespon materi yang disampaikan. Hingga pada jam istirahat, peserta keluar ruangan untuk sholat dan makan siang. Di luar ruangan, saya mendengar beberapa peserta mengeluarkan anekdot, “Oh, jadi diskusi terpumpun itu maksudnya kita sekadar dihimpun untuk mendengar?”

Ya, sepengetahuan saya yang bergelut di lembaga think tank The La Malonda Institute, Diskusi Kelompok Terpumpun atau biasa dikenal dengan istilah FGD hakikatnya adalah untuk memperkaya data penelitian. FGD sejatinya untuk memberi kemudahan dan peluang bagi peneliti. Jalannya musti ada keterbukaan, kepercayaan, untuk memahami persepsi dari lintas keilmuan berdasarkan pengetahuan dan pengalaman masing-masing. Makanya, ia harus berjalan lintas arah.

Jam istrirahat berakhir. Peserta kembali ke dalam ruangan. Tim Survei kembali membuka acara dengan menampilkan data yang dihasilkan berdasarkan riset pustaka dan survei lapangan selama satu pekan di Kota Kendari. Juga data yang ingin mereka kejar untuk melengkapi penelitian.

Hasil surveinya berupa gambar peta mentah yang dibubuhi garis-garis lintas warna berserta keterangan di bawahnya. Dari hasil yang ditampilkan, Cagar Budaya di Kota Lama Kendari ke depan akan dibagi perzonasi. Beberapa spot sejarah akan berupaya diselamatkan dan dilestarikan.

Ada dua puluhan lebih hasil temuan yang diduga merupakan cagar budaya. Ada temuan baru dari penelitian Tim Survei. Sebuah kolam renang zaman hindia belanda yang masih akan ditelusuri storynya.

Pada sesi kedua ini, seluruh peserta diberikan kesempatan untuk saling merespon dan memaparkan pengetahuan dan pengalaman masing-masing untuk memperkaya data penelitian.

Pada kesempatan yang diberikan, saya menampilkan dan memberikan hasil penelitian underground Indielogis dalam kegiatan Telusur Sejarah Kendari yang kami laksanakan pada 17 Agustus 2019 kemarin.

Dari seluruh jalannya diskusi, bagian yang paling menyita perhatian saya adalah adanya keresahan dari para peserta akan lambannya kinerja BPCB Sulsel dan Dispar Kendari dalam upaya penyelamatan Cagar Budaya di Kota Lama Kendari.

Mengapa wacana penyelamatan tidak dorong ke publik dari tahun 2014? Saat Pemprov Sultra membumi hanguskan eks Zending School peninggalan kolonial di Kota Lamademi pembangunan Jembatan Teluk Kendari?

Atau mengapa pada saat seluruh perhatian masyarakat tertuju diperesmian jembatan, Pemkot Kendari malah membawa narasi apresiasi terhadap jembatan sebagai ikon baru wisata kota, namun dimasa adem awal tahun 2021 ini, Pemkot membawa narasi penyelamatan yang tersisa?

Tapi, apalah arti jika kita terus mengutuk keadaan. Apalah arti jika kita terus meratapi yang sudah berlalu. Walau telat, minimal, situs sejarah di Kota Lama Kendari mulai dibicarakan secara serius. Ini hal baik.

Semoga hasil dari Survei Penyelamatan dan Pemetaan Tinggalan Budaya Kota Lama Kendari nanti, menjadi tanda keseriusan BPCB Sulsel dan Pemkot Kendari untuk tidak setengah hati merawat warisan sejarah.

 

Penulis :

Baca juga : Indielogis Vol.5: Telusur Sejarah Kota Kendari

Total Views : 1,139 , Views Today : 4