Ilal Kahfi; Berbicara Secukupnya, Bermusik Sepenuhnya

Sepenuh Hati di Musik, Ilal Kahfi Rilis Musik Instrumental Bertajuk “Feel you
Ilal Kahfi (Dok. IK)

Saya mulai mendengar nama Ilal Kahfi pada medio 2017. Melalui Budur Rahmad, seorang rekan yang banyak terlibat dibalik layar beberapa peristiwa seni di Kota Kendari.

Waktu itu, sebelum ia cerita tentang sosok Ilal, terlebih dulu ia memperlihatkan video di youtube yang menampilkan dua anak muda yang duduk di sebuah balkon sembari memainkan gitar akustik. Di samping kiri kanan mereka, terpampang dua buah gitar lain sebagai ornamen artistik. Mereka memainkan musik instrumental “Caka – Lukisan Pagi (Medley)” karya Dewa Budjana dan Tophati. Videonya digarap serius. Lengkap dengan pancaran lighting berwarna kuning dan putih untuk mencerminkan pertemuan dua sisi dengan ramuan tata cahaya yang pas. Di sebelah kiri, lelaki gondrong dengan senar nylon mengambil part lembut Tophati pada musik tersebut. Sementara Ilal, memainkan part Dewa Budjana dengan menggunakan senar string yang melengking dan jernih.

Saya menikmati permainan mereka hingga selesai. Selain pada persoalan skill, keduanya serasa memainkan musik tersebut dengan sentuhan hati.

Budur lalu bercerita tentang Ilal. Katanya, Ilal adalah temannya. Dia berkeinginan untuk mengenalkannya ke saya. Hanya saja pada waktu itu Ilal masih di luar kota. Kemudian ia lanjut mengisahkan sepak terjang Ilal di dunia musik. Saya hanya manggut-manggut. Sesekali menimpali, turut mengakui permainan gitar Ilal. Mengakhiri cerita, saya lalu merespon, “jika dia sepenuh hati bermusik, entah kapan dan pada momen apa, suatu saat saya pasti akan ketemu dengan dia.”

Waktu berlalu. Di awal tahun 2018, pada sebuah malam yang tidak direncanakan, saya dan Budur berada di sebuah kedai yang sama. Ilal yang ternyata sudah balik dari perantauan, juga datang di kedai tersebut. Budur lalu mengenalkan saya. Percakapan kami langsung mengalir berbincang tentang musik.

Yang berkesan dari pertemuan itu adalah tentang cerita perjalanan Ilal sewaktu meneliti salah satu alat musik tradisional suku Tolaki, Kanda-kanda Wuta, dalam rangka memenuhi tugas akhirnya pada studi SENDRATASIK (Seni, Drama, Tari, dan Musik) di Makassar. Penelitiannya dilakukan di Desa Meluhu, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara. Ilal menganalisis bagaimana ritme dari alat musik tradisional tersebut.

Merujuk postingan Instagram Sineas Kendari, Susilo Rahardjo, Kanda-kanda Wuta yang juga biasa disebut Dimba Wuta adalah salah satu alat musik tradisional suku Tolaki yang terbuat dari bahan baku pelepah sagu, rotan, dan juga bambu yang ditancapkan pada galian tanah. Alat musik itu dulu digunakan untuk mengiringi tarian Lulo Sangia, yaitu sebuah tarian persembahan kepada dewa.

Salah seorang warga Desa Meluhu, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara yang masih melestarikan dan memainkan alat musik tradisional Kanda-kanda Wuta.
(Dok. Susilo Rahardjo)

Cerita Ilal malam itu tentang Kanda-kanda Wuta ingin sekali saya dengarkan dalam waktu yang panjang. Namun karena di kedai tersebut juga ada teman-teman lain yang mengajak saya berpindah meja, saya dan Ilal hanya berbincang secara singkat.

Pertemuan tersebut menjadi sebuah pertemuan yang singkat namun padat. Cerita Ilal tentang antiknya Kanda-kanda Wuta terus menghantui dan bertinggal di kepala saya. Pada beberapa kesempatan, saya sering bercerita tentang Kanda-kanda Wuta ke pegiat seni lain di Kota Kendari. Saya mengimpikan untuk melihat, mengeksplor, dan memainkan secara langsung alat musik tradisional tersebut.

Waktu kembali berlalu. Karena sibuk dengan urusan masing-masing, intensitas temu saya dengan Budur jadi tidak sesering dahulu. Nahasnya, waktu bertemu Ilal, saya tidak sempat bertukar nomor telepon dengannya. Sebenarnya mudah saja untuk komunikasi dengan Ilal, tinggal meminta nomornya melalui Budur. Namun entah mengapa tak ada pikiran ke sana. Mungkin keyakinan bahwa pada soal musik, notasi alam akan terus mempertemukan orang-orang yang sepenuh hati, yang membuat saya membiarkan perkenalan dengan Ilal agar mengalir begitu saja.

Dan lagi-lagi, keyakinan saya kembali terbukti. Setelah tiga tahun berlalu, tepatnya pada dua pekan sebelum Idul Adha, melalui ‘seseorang’ yang baru saya kenal, saya kembali dipertemukan dengan Ilal di sebuah kedai kopi.

Malam itu kami akhirnya berkesempatan ngobrol lebih lepas dengan waktu yang lumayan lama. Saya membuka obrolan dengan mereview pertemuan di tiga tahun lalu. Saya menanyakan soal kemungkinan potensi alat musik tradisional Kanda-kanda Wuta untuk ditampilkan di panggung pertunjukan. Mengingat medium bunyi alat musik tersebut menggunakan tanah, Ilal mengatakan itu memungkinkan jika saja secara kreatifitas kita menciptakan stage di tanah, sebagaimana yang pernah ia bersama perangkat adat di Desa Meluhu tampilkan pada waktu penelitian.

Kami lalu lanjut dengan saling memperdengarkan karya. Saya mendengarkan beberapa musik instrumentalnya yang katanya akan dipersiapkan untuk dirilis dalam bentuk mini album. Namun dia tidak mengatakan tepatnya tanggal berapa karya tersebut akan dikeluarkan.

Dari pertemuan malam itu, saya pelan-pelan sedikit mulai mengenal karakternya. Saat ngobrol, Ilal ngomong secukupnya. Dia juga mengaku sering bepergian secara sendiri di tempat yang sepi untuk menciptakan musik. Dia sepertinya tipikal musisi yang lebih nyaman berbicara lewat instrument gitarnya ketimbang lewat kata-kata. Tipikal musisi yang lebih naim menumpahkan keresahannya melalui nada. Sebagaimana karya musik instrumental yang baru saja ia rilis secara sederhana pada 20 Juli 2021: “Feel you”

Penulis :

Total Views : 1,901 , Views Today : 2