Refleksi Diri Di Tengah Pusaran Anomali

reflection

Apakah sikap malasku yang menjadi-jadi adalah alasanmu marah begini? Seringkali diam, sedih, lantas tiba-tiba marah. Tak masalah, selama itu jujur tentang apa. Lalu terbuka tentang aku harus bagaimana.

Tak bisakah kau sekedar diam? Seharian berkeliling santai, teduh-tenang seperti hari-hari yang kemarin? Cukup memandangi aktifitasku selayak pemantau yang memang diupah untuk itu.

Siaga, Waspada, Awas. Disana-sini menggema. Pertiwi seperti tak mau lagi memendam amarahnya lebih dari ini, lalu engkau hanya bisa sedih dan menangis sehari-hari.

Beberapa yang disebut atau menyebut diri mereka “ahli”, kini tak mampu lagi bersikap “sok tahu”. Hanya sekedar menerka-nerka tentang apa yang sebenarnya kau maksudkan.

Hei… belum cukupkah?

Di sana, Bumi mengganggu tidurku. Di sini, engkau menangis tersedu-sedu. Tidakkah kau saksikan betapa aku pun merana diasingkan waktu? Tahukah engkau bahwa sesungguhnya alasanku datang ke kota ini, tak lain ialah tuk menenangkan sukmaku?

Kata Pak Prof, “Sedang terjadi penyimpangan iklim yang ekstrim”. Pun kata penyair itu, ” dia mulai enggan, bersahabat dengan kita”. Tapi menurutku, kau memang senang merahasiakan perasaanmu. Haruskah ku bertanya pada rumput yang bergoyang seperti saran penyair tua itu?

Di rumah-rumah ibadah, tetanggaku selalu memanjatkan ampun. Di perempatan lampu merah, saudaraku tak lelah mengumpulkan semangat tuk bahu-membahu. Dan di tengah kota, yang miskin sibuk mengungsi di atas batu.

Juga dalam keheningan di tengah keramaian. Yang ku dengar selalu, dampak dari kesedihanmu yang terlalu. Ataukah memang yang kau tuju itu Aku? agar cepat pergi kemudian berlalu?

Maksudku. Terus teranglah padaku, berbisiklah andai engkau lebih nyaman begitu. Jujurlah, kepada siapa amarahmu tertuju? Untuk siapa semua kesedihanmu itu? Apa benar engkau bosan melihat ketamakan kaum tertentu serta muak mendengar kebohongan demi kebohongan yang berakar dan menjadi tabiatku itu?

Andai wawancara imajinerku denganmu tersetuju. Maka ini, barulah sekapur sirih dari bab-bab keingintahuanku. Aku menunggu jujur mu…

 

Penulis :

Total Views : 520 , Views Today : 2