Puisi: Tercicipi Debu, Berhati-hatilah Kaum Idealis, Aku Merindukan Mulut Kasarmu

 

Tercicipi Debu

Pada kelembapan sunyi ia merabah jiwa yang baru saja tercicipi debu
Menyalakan lampu-lampu tembok
Lalu membisik angin untuk menyapunya sekarang juga

Hampir setiap sarang laba-laba ia tatap dengan tajam
Sambil menghitung langkah yang mulai sulit untuk mewujudkan dendam

Di tembok
Penuh dengan gambar-gambar yang tak bermutu
Strategi-strategi yang tak pernah terwujud
Serta alur nasib yang tak memiliki kiblat

Ketika waktu kembali melahirkan angka 00.01
Ia masuk ke kamar belakang
Lalu menyapa kekosongan dengan ribuan pertanyaan
Hingga kegelisan menjadi korban dari pertanyaannya sendiri

Tangisannya penuh harapan
Ia selalu menunggu kematian untuk segera menjemput
Karena dunia tak lagi pantas untuknya

Hari ini adalah kiamat kecil baginya
Dan hari esok adalah kiamat besar

Kendari, 20 Oktober 2020

Berhati-hatilah Kaum Idealis

Baru saja ia pulang dari kedalaman warung teknologi yang makin tak terkendali
Menyantap sari-sari karakter yang telah hilang semenjak mahkotanya dirampas gunting
Mendengarkan alunan-alunan kebusukan universitas yang sudah menjadi populer baik di kalangan umum maupun mahasiswa, serta merenungi dirinya yang tak mau ikut campur dengan semuanya
Sebab ia sadar bahwa ini adalah tradisi yang sulit dihilangkan dikalangan intelektual
Siapa yang punya uang, dia yang cerdas

Kecerdasan tidak di ukur dari berapa banyak buku yang kau baca
Bukan dari berapa banyak pengalaman yang kau punya
Bukan dari ketekunan yang kau geluti
Bukan dari kedisiplinan
Bukan, bukan.
Namun dari berapa banyak uang yang kau punya
Uang adalah segalanya, Ia mampu menjadi mata air untuk kaum non idealis dan mampu menjadi racun pembunuh untuk kaum beridealis

Dalam sejarah, Negara ini dibangun oleh kaum beridealis, namun itu hanyalah sebatas sejarah
Faktanya saat ini, siapa yang beridealis, ia yang siap dilenyapkan oleh Negara
Sebab kaum idealis hanya mampu menjadi benalu dalam Negara
Serta penghambat jalan proyek para penguasa

Namun anehnya ada beberapa orang yang tetap membiarkan hidup kaum idealis
Mereka adalah orang-orang yang memiliki kepentingan untuk saling menjatuhkan
Mereka menyuap dengan sekantong janji dan kesejahteraan
Lalu menjadikan kaum idealis sebagai peluru untuk menghancurkan sesama mereka

Maka berhati-berhatilah untuk kalian para kaum idealis
Ingat bahwa masih ada realistis
Realistis adalah jalur aman
Jangan pernah bunuh dia
Gunakanlah jika kau membutuhkannya

Kendari, 24 September 2020

Aku Merindukan Mulut Kasarmu

Kau tetap saja seperti biasanya
Terlalu polos untuk digambarkan

Entah apa yang membuat jari-jariku untuk menerbitkan kata “aku merindukan mulut kasarmu”
Hingga kau hadir dengan anggur merah dan ribuan kepulan asap rokok
Lalu kita sama-sama berlayar di hari kemarin, hari ini, dan hari esok.

Saling mengintip kedamaian dalam rumah
Itu mungkin terlalu mudah bagi kita berdua
karena kita sama-sama lahir dari broken home
Kita hanya pandai mengintip tanpa tahu merasakan secara langsung

Orang-orang begitu mudahnya melahirkan cinta lalu membunuhnya
Seperti orang tua kita
Lalu haruskah kita menjadikan mereka panutan?

Kaulah yang menentukan Buntu !
Sebab saat ini statusmu jauh berbeda dengan statusku
walaupun pernah kita sama-sama menjalani kisah

Ada satu pertanyaan lagi yang ingin ku lemparkan padamu
“Bisakah kau angkat sekali lagi gelasmu?”
Lalu mengizinkan rindu untuk menyelimuti kita
Sebab sebentar lagi malam akan pulang, begitu juga kau

Kendari, 18 Oktober 2020

Penulis :

Total Views : 644 , Views Today : 2