Puisi : Surat Cinta, Ich liebe dich, Mappettuada

Surat Cinta, Ich liebe dich, Mappettuada

 

Surat Cinta

Seperti cinta ibu, aku selalu ingin mencintaimu dengan tenang, dengan kalem, dan tak perlu banyak khawatir.
Seperti rindu ibu, aku ingin mengirim rinduku melalui doa-doa.

Aku ingin mencintaimu dengan pengetahuan, dengan akal sehat, dengan logika, dengan waras, anteng, tak berisik, tak gegabah, tak bodoh dan banyak luka-luka.

Aku tak perlu kau bawakan cinta Romeo, relati mati bunuh diri untuk Juliet. Pun cinta sampai gila, seperti sakitnya rindu Qais pada kekasihnya Layla – Tak juga kisah cinta penuh romansa, seperti milik Pablo Neruda untuk istrinya si manis Mattilde.

Sebagaimana rahim yang ramah aku ingin jadi rumah.
Sebagaimana telapak kaki ibu aku ingin jadi surga.
Sebagaimana Hawa untuk Adam, Ali pada Fatimah; aku ingin hikmat dan semua doa-doa.

Pada Tuhanku, aku belum sepenuhnya taat.
Pada bapak ibuku, aku gupuh menunaikan hak kewajiban.

Sedang engkau padaku, maharkan hidup, darah, dan keringat.
Sedang engkau padaku, akadkan surga, zamrud, dan permata.

Sedang aku padamu – hanya punya rahim; mana berani aku mencintaimu.

 

Ich liebe dich

Padamu kutemui banyak hal. Ada dia nona yang manis, ada pipi yang berlesung, ada semua putri Ibu Pertiwi, ada Kartini modernisasi.

Kristal cantik bola matamu; aku mau tidur siang lama-lama. Mandi hujan sore-sore. Tangkap ikan rame-rame. Makan sinonggi dan kare-kare.

Pada nyaman, hangat, kokoh lenganmu. Aku mau menulis puisi-puisi, baca buku dan minum kopi, merawat rindu kita sepi-sepi, memasak makanan kesukaan dan menunggumu pulang kerja.

Di kepalamu aku mau mati bunuh diri – Di harimu sediaku lahir sepuluh ribu kali.

 

Mappettuada

Labuan bajo kekasihku, bahagia telah kau hantarkan ke rumah bapak, menjadikan ibu sangat cantik.

Pada pasir-pasir putih pantaimu, hangat pelukan para kekasih, dan rindu kita sepi-sepi – Pada punggung, lenganmu yang tualang, ranum bibir kelopak mayang, dan bulu matamu padang ilalang. Demi ombak di lautan, bulu babi, dan batu karang.

Maharkan padaku, bola tandre dari pohon cendana, aju tippulu, daun rumbia, dan batang lontar – Akadkan aku, semua doa-doa, firdaus zafir dan zamrudnya permata.

Sediaku setia jadi rumah; menyambut lelahmu pulang, memasak makanan kesukaan, merawat luka-luka, mengobati kesepian-kesepian, melahirkan, membesarkan anak-anak. Apapun sayang, ku ingin jadi milikmu.

Penulis :

Total Views : 392 , Views Today : 2 

%d blogger menyukai ini: