Pesona Gunung Mekongga, Sulawesi Tenggara

Saat memulai perjalanan saat liburan semester genap kemarin, akhirnya kubumikan salah satu mimpiku; memuncaki Gunung Mekongga, Sulawesi Tenggara. Dengan bantuan PETA, GPS dan arahan dari teman-teman MAPALA Kendari, saya bersama 3 orang teman berhasil memuncak setelah 4 hari berjalan melewati banyak rintangan.

Gunung Mekongga adalah gunung tertinggi di Sulawesi Tenggara dengan ketinggian 2.620 mdpl. Jika dibandingkan dengan gunung-gunung di pulau Jawa, dalam hal ketinggian, Mekongga mungkin tak seberapa. Misalkan jika kita bandingkan dengan Gunung Semeru yang mencapai 3.676 mpdl.

Namun, ketika memuncaki gunung Semeru, pendakian diawali dengan ketinggian 2100 mdpl dari basecamp awal Ranupane. Artinya, untuk mencapai puncak 3.676 mpdl Semeru, kita hanya melewati dakian dengan jarak sekitar 2.660 mdpl saja. Beda halnya dengan Gunung Mekongga. Perjalanan dimulai dari 1-17 mdpl. Basecamp awal berada di desa Tinukari. Dan desa tersebut hanyalah satu-satunya desa terdekat dari Gunung Mekongga. Bila ditotal, perbedaan pendakian Mekongga dan Semeru hanya berkisar 40-47 mdpl saja.

 

Keindahan dari Puncak Gunung Mekongga

 

Mari Berkenalan dengan Gunung Mekongga

Gunung Mekongga masuk dalam jajaran pegunungan verbeck, dimana puncak tertingginya terdiri dari jenis batuan karst dataran tinggi. Puncak tertinggi Gunung Mekongga disebut Mosero-Sero oleh penduduk sekitar.

Wikipedia menyebutkan, secara geologis, wilayah pegunungan ini terbentuk dari atol yang terangkat sekitar ratusan juta tahun lalu. Fenomena ini memberi ruang kehidupan bagi jenis flora dan fauna menjadi biota endemic yang hanya terdapat di wilayah ini.

Saat perjalanan, saya memang banyak menemukan tumbuhan aneh yang tak kuketahui jenisnya. Ribuan burung-burung yang tak pernah kulihat sebelumnya juga sangat banyak di sana. Sangat sering burung-burung tersebut mengeluarkan kicua merdu yang harmonis diserap telinga. Kicau burung satu dengan burung yang lain membentuk sebuah nada indah dengan instrumen alam yang alamiah. Hal tersebut setia mengiringi langkah demi langkah kami di pagi hingga sore hari saat pendakian. Lelah terhapus atas decak kagum pada fenomena tersebut.

Dari cerita rakyat di sana, Mekongga berasal dari kata Kongga, yaitu seekor burung raksasa. Suatu ketika, laku burung raksasa tersebut meresahkan penduduk sekitar karena ulahnya yang sering buat onar dan mengganggu kehidupan rakyat, utamanya saat mereka bertani. Lalu, muncullah seorang kesatria untuk melawan burung tersebut, dan sang ksatria atau bangsawan itu berhasil menewaskan burung tersebut. Sebagai hadiah atas keberhasilannya, raja setempat menikahkan putrinya dengan si bangsawan. Dan untuk mengenang jasa atas tragedi itu, kawasan tersebut diberilah nama dengan Gunung Mekongga.

 

Peta Gunung Mekongga

 

Senja di pertengahan puncak

 

Lolos Adminitrassi.

Saya memulai perjalanan dari basecamp awal di desa Tinukari. Bersama kawan, kami difasilitasi rumah pribadi milik Kepala Desa untuk beristirahat, juga sambil berbincang-bincang dengan Pak Kades. Beliau menuturkan banyak hal, baik seputar mitos maupun temuan-temuan ilmiah yang ada di Gunung Mekongga.

Karena kurang tau soal administrasi, saya bersama teman-teman tidak membawa surat izin pendakian. Hal tersebut coba saya komunikasikan ke Pak Kades untuk mencari jalan keluar. Beliau yang tau saya beserta kawan jauh-jauh datang dari pulau Jawa akhirnya berbaik hati memberi toleransi untuk melakukan pendakian walau tanpa kelengkapan syarat administrasi. Dengan catatan, seluruh carrier yang kami bawa harus disembunyikan pada suatu tempat. Saya tak tau apa maksud dari hal itu. Namun, saya harus mengamini ucapan Pak Kades. Tanya itu tak terjawab malam itu. Akhirnya saya tertidur membawa serta rasa penasaran.

Paginya, saya bangun dengan rasa penasaran yang masih melekat. Pak Kades asik dengan kopinya di depan gubuk. Tiba-tiba, saya mendengar sebuah salam dari luar. Setelah menjawab salam, Pak Kades memberi kami kode untuk tetap tenang di tempat. Ternyata, tamu tersebut adalah orang dinas yang bertugas mengawasi Gunung Mekongga. Dari situ saya mendapat jawaban atas perintah pak kades semalam. Maksud dari perintah tersebut agar kami tak ketahuan oleh pengawas.

Ternyata secara prosedural, untuk mendaki Gunung Mekongga, pendaki haruslah mengurus administrasi pada dinas dan juga BASARNAS setempat. Namun, kata Pak Kades, jarak dari Desa Tinukari ke kota sangatlah jauh. Pun bila kami turun ke bawah untuk mengurusnya, harus meluangkan waktu sehari dan belum tentu juga aparat terkait berada di kantor. Apalagi saat akhir pekan. Pak Kades juga mengatakan, sebenarnya, masyarakat setempat ingin menarik retribusi pada pendaki. Namun, karena pengurusannya ribet, maka rencana tersebut tak dilaksanakan. ‘Lebih baik mereka fokus bertani’, tandas Pak Kades.

 

Tempat sederhana yang menyejukkan

Sungai Indah yang Menantang

Hari pertama memulai perjalanan, kami disambut oleh pemandangan sungai eksotis dengan hambur bebatuan yang memanjakan mata. Saya melihat seekor anjing berenang di sungai tersebut. Kemungkinan, nama sungai itu adalah sungai Mosembo.

Tantangan awal pendakian Mekongga kami hadapi. Setelah melewati sungai Mosembo, sungai Tinokari yang arusnya deras harus kami lalui. Webing kami bentangkan, kamera dan alat eltronik lainnya kami masukkan ke dalam dry bag lalu ke carrierCarrier lalu kami gendong ke atas rata-rata kepala sembari berenang dengan bantuan pegangan tali. Saya selamat dari arus. Namun, salah satu kawanku hampir saja dibawa arus. Untung saja ada batu besar yang menahannya. Dan kami pun menolongnya lalu kembali melanjutkan perjalanan.

 

Sungai indah yang menyambut perjalanan kami

 

Eksotisnya sungai mosembo

Bertemu Anoa, Tersengat Bacet Loreng

Hari kedua dan ketiga, persediaan makanan dan air mencukupi. Kami hanya harus waspada bila saja bertemu seekor Anoa di perjalanan. Hewan Anoa memang sangat banyak di Gunung Mekongga. Bila bertemu hewan tersebut, hanya ada dua pilihan untuk selamat darinya: pertama, berlari sekencang-kencanganya. Kedua, panjatlah pohon setinggi-tingginya.

Anoa adalah spesies yang hampir punah. Sulawesi Tenggara adalah surga bagi hewan ini. Bahkan, Sulawesi Tenggara sendiri juga dikenal sebagai Bumi Anoa. Saya bertemu hewan ini di hari ke empat saat saya mengisi persediaan air di sungai. Ketika bertatapan muka dengan Anoa, sesuai dengan bekal pengetahuan dari Pak Kades, say mendiam diri di tempat seperti patung. Sedikit pun saya tak bergerak dengan nafas sek-sekan. Bila tidak begitu, Anoa bisa langsung mengejar. Untung saja saat itu Anoa-nya agak cepat beralih pada perhatian lain, lalu beranjak dari hadapanku. Bila Anoa melihat manusia, ia tak segan-segan memburu lalu menanduknya hingga tewas. Ada beberapa pendaki yang menjadi korbannya.

Kami tiba dipuncak pada hari ke empat. Tracknya yang panjang, dipenuhi dengan semak belukar berbatu, menambah waktu durasi perjalanan. Kami juga melewati hutan lumut yang indah. Dan di perjalanan, kami banyak menemui pohon yang tumbang. Jalur Mekongga sangat samar, hal itu kadang membuat kami bingung. Untung saja kami lihai membaca kompas dan GPS. Terhitung 3 kali kami membuka jalur baru. Jalur Mekongga tak terbuka seperti gunung-gunung di pulau Jawa. Mekongga memang tak banyak kunjungan seperti Semeru karena alasan medannya. Makanya jalurnya samar. Kami kadang tak bisa membedakan mana jejak kaki manusia dan jejak kaki Anoa.

 

Hutan Lumut yang Indah

Pada saat berjalan, saya yang memakai mantel harus berada di depan untuk membuka jalur. Pacet loreng sempat masuk dalam mataku. Untung saja kawanku mencabutnya. Pacet Loreng adalah hewan seperti lintah. Adapula ‘musuh’ lain dari para pendaki yang ingin kesini, yaitu Kutu Babi. Hewan ini sangat banyak di Mekongga. Hewan ini sangat nafsu untuk menggigit bagian perselangan manusia. Karena di perselanganlah hewan ini nyaman hidup. Bila tersengat, rasa gatal tak henti terasa. Untuk menghilangkan gatal tersebut harus dengan salep ganda. Tak cukup satu kali pengobatan. Karena gigitannya menginjeksi bibit-bibit seperti kutu dalam perselangan.

Akhirnya, setelah melewati banyak rintangan tersebut, kami memanjat batuan karts tanpa alat bantu. Batuan karts adalah tanda puncak sudah di depan mata. Akhirnya kami sampai puncak. Awan dan suara alam kami nikmati. Inilah kemenangan kecil kami setelah bertaruh melawan mental dan picu fisik.

 

Tantangan terakhir sebelum mencapai puncak
Kawasan Karts di Puncak Gunung Mekongga

Pada tahun 2006, LIPI pernah menemukan lebah raksasa unik di Gunung Mekongga. Peneliti LIPI telah memberi tahu warga setempat. Tetapi, hasil penemuan tersebut tak diperlihatkan oleh warga. Alasannya adalah laba tersebut ingin dijadikan sampling untuk diteliti jenisnya. Kabar dari hasil penelitian itu belum ada hingga saat ini. Entah lebah jenis apa yang ditemukan.

Banyak orang yang mengatakan bahwa Mekongga adalah replika dari Gunung Binaiya Ambon, Maluku Utara. Di Indonesia, gunung yang di puncaknya terdapat batuan karts memang hanyalah Mekongga dan Binaya. Walau belum ke Binaiya, saya meyakini Mekongga jauh lebih indah dan menantang. Sayang gunung ini belum popular. Andai saja ada sebuah novel yang mengambil background cerita di Mekongga dan para sineas nasional membuat sebuah film tentangnya, maka para pengunjung Semeru mungkin akan beralih ke gunung yang eksotis dan indah ini.

Sangat banyak hal indah yang tak bisa kuceritakan secara detail. Karena, selain keterbatasan daya ingat, saking kagumnya, ada beberapa pesona Gunung Mekongga yang tak bisa kumaknai dan kuungkap lewat kata.

Jangan mengaku pendaki sejati bila belum menaklukkan Gunung Mekongga.

Penulis : Ghina Alfia

Total Views : 950 , Views Today : 2