Penerbit Rumah Bunyi dan Perkembangan Sastra di Sulawesi Tenggara

Aktifitas perbukuan di Rumah Bunyi. (Dok. Rumah Bunyi)

 

Sejarah Singkat Penerbit Rumah Bunyi

Sebagai penerbit yang resmi berbadan hukum (memiliki akta notaris), Penerbit Rumah Bunyi didirikan di Kendari pada Agustus 2018 dan terdaftar di Perpustakaan Nasional pada bulan dan tahun yang sama. Sejak saat itu pula, Rumah Bunyi resmi melibatkan diri dalam dunia perbukuan (penerbitan) di Sulawesi Tenggara. Sejak berdirinya pada Agustus 2018 hingga saat ini, buku-buku terbitan Rumah Bunyi didominasi oleh penulis yang bermukim di Sulawesi Tenggara dan Selatan. Terkhusus pada bacaan sastra, hingga pada akhir Desember 2020, Rumah Bunyi telah menerbitkan beberapa judul novel, kumpulan cerpen, dan kumpulan puisi yang beredar tidak hanya dalam wilayah Sulawesi Tenggara saja.

Meski demikian, sebelum berdiri sebagai penerbit mandiri, sejak tahun 2017 hingga 2018 Rumah Bunyi telah memfasilitasi beberapa penulis untuk menerbitkan karya-karya mereka. Untuk mendapatkan ISBN, Rumah Bunyi melakukan kerja sama dengan beberapa penerbit yang ada di Makassar dan Yogyakarta. Semisal penerbit garudhawaca di Yogya dan penerbit P3i Cipta Media di Makassar. Dalam kurun waktu tersebut, jumlah buku sastra yang terbit antara tahun 2017-2018 sebanyak 7 judul.

Daftar karya sastra terbitan Rumah Bunyi;

Tahun 2018

  1. Taduno andoolo sebuah fiksi sejarah, penulis Andi Nur Lapae, editor Mustika
  2. Sogi sebuah novel, penulis Faika Burhan, editor Nurlailatul Qadriani
  3. Pulang ke Laiwoi, penulis Andi Nur Lapae, editor Nurlailatul Qadriani

Tahun 2019

  1. Meretas mimpi : catatan dari Pare tentang Tuhan, aku, dan peradaban, penulis Muhammad Jamil Al Zain, editor Nurlailatul Qadriani
  2. Surat hujan, penulis Ilham Aidil, editor Irhyl R Makkatutu
  3. Tak ada mata(hari) : antologi puisi, penulis Laskar Sastra
  4. Malewa, lelaki yang berjalan di atas air sebuah novel, penulis Andhika Mappasomba Daeng Mammangka, editor Nurlailatul Qadriani
  5. Catatan singkat Gina : kumpulan cerita, penulis Gusno Agus [et al.], editor Masmur Lakahena
  6. Prahara pantai Lapulu , penulis Andi Nur Lapae, editor Nurlailatul Qadriani

Tahun 2020

  1. Pilihan dan serpihan kenangan, penulis Fikhri Putra, editor Mustika
  2. Saat malam, orang dewasa lebih kacau dari kita, penulis Fikhri Putra, editor Zahrani Zainuddin.
  3. Anak kolong Kendari 1960-1970, penulis Andi Nur Lapae, editor Nurlailatul Qadriani
  4. Musim kematian yang sunyi, penulis Nitzh Ara, penyunting, Kahar Mappasomba
  5. Nanti, penulis Dede Wirahadi Pong Sitanan, editor Mustika.
  6. Jeraq pangnguqrangi (pusara ingatan), penulis H. Kamiluddin Daeng Malewa dan Andhika Mappasomba Daeng Mammangka, editor Nurlailatul Qadriani.
  7. S (sajak cinta rahasia), penulis Andhika Mappasomba Daeng Mammangka, editor Nurlailatul Qadriani.
  8. Kinokot, penulis Andhika Mappasomba Daeng Mammangka, editor Nurlailatul Qadriani.
  9. Malam pengantin aisyah (dan cerita lainnya), penulis Faika Burhan… [et al.], editor Elmy Selfiana Malik.
  10. Karya sastra yang terbit melalui perantaraan rumah bunyi

Tahun 2017

  1. Azizah (Novel), penulis Emma Asrah, editor Nurlailatul Qadriani.
  2. Titimangsa (cerpen), penulis Deasy Tirayoh, editor Nurlailatul Qadriani

Tahun 2018

  1. Tinta Air Mata (puisi), penulis Ridwan Wanderer
  2. Bingkai Cinta (novel), penulis Lahingke, editor Nurlailatul Qadriani
  3. Cinta yang Candu (novel), penulis Yusuf IW
  4. Sintas (cerpen), penulis Marini Manga, editor Nurlailatul Qadriani
  5. Senin yang Mencintai Rabu (novel), penulis Fikhri putra
  6. Perkembangan Sastra di Sulawesi Tenggara

Sejak awal berdirinya Rumah Bunyi, baik sebagai komunitas sastra maupun sebagai penerbit mandiri telah berkomitmen untuk menjadi jembatan dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat, khususnya pada ranah kesusastraan. Beragamnya jenis karya sastra yang telah diterbitkan penerbit Rumah Bunyi, dapat dilihat dari sisi kuantitas ataupun jumlah naskah/karya yang diterbitkan dengan beragam tema, gaya dan jika bisa menyebut keragaman “usia” penulisnya.

Banyaknya jumlah naskah yang telah diterbitkan tentu saja berdampak pada intensitas diskusi perihal sastra yang dilaksanakan oleh rumah bunyi (komunitas) dan komunitas atau lembaga lain yang juga memiliki ketertarikan untuk membicarakan sastra. Diskusi yang dilakukan, baik berupa bedah buku, penulisan kreatif karya sastra dan bentuk bincang-bincang lainnya tersebar di berbagai tempat. Khusus di Komunitas Rumah Bunyi sendiri, diskusi yang digelar pada masa sebelum covid 19 terbilang sangat intens. Diskusi-diskusi tersebut biasanya dilakukan dua kali sebulan untuk ruang yang terbatas dan sebulan sekali untuk acara diskusi yang digelar secara terbuka.

 

PRA PENERBITAN

Proses pengolahan naskah pada masa-masa awal merintis penerbitan Rumah Bunyi masih dilakukan secara mandiri. Dengan berbekal pengalaman dan pengetahuan personal, pengelola Rumah Bunyi masih dominan menggunakan pola Self editing dalam menerima dan menyunting naskah hingga akhirnya menjadi sebuah buku yang utuh.

Seiring berjalannya waktu, permintaan untuk menerbitkan buku melalui Rumah Bunyi menjadi semakin meningkat. Peningkatan ini, secara langsung membuat kami (tim Rumah Bunyi) mulai mengevaluasi diri untuk menjadi lebih baik dan tidak lagi menggunakan pola self editing dalam memilih dan menentukan naskah yang masuk. Tim Rumah Bunyi kemudian semakin memperketat proses penentuan dan penyuntingan naskah. Pada beberapa naskah, tim Rumah Bunyi melakukan diskusi secara mendalam dengan beberapa pihak yang dianggap memiliki kapasitas keilmuan dalam penyuntingan naskah (ilmu bahasa). Terkhusus pada naskah sastra, tim Rumah Bunyi juga melibatkan beberapa pihak, baik dari praktisi sastra, maupun akademisi sastra dalam mendiskusikan naskah untuk seterusnya disampaikan pada penulis yang bersangkutan. Cara-cara ini diyakini dapat membuka ruang interaksi intelektual antara penulis, penerbit, dan praktisi serta akademisi yang sedikit banyaknya akan berpengaruh pada karya yang akan diterbitkan.

Saat ini, beberapa editor internal Penerbit Rumah Bunyi yang berasal berbagai disiplin keilmuan telah tersertifikasi dan dinyatakan memiliki kompetensi untuk melakukan penyuntingan. Sertifikasi tersebut didapatkan dari Lembaga Sertifikasi Profesi Penulis dan Editor Profesional.

 

PENERBITAN

Sebagai penerbit minor, biaya produksi (sunting, desain, tata letak, dan cetak) dari naskah yang diterima sebagian besar masih ditanggung oleh masing-masing penulis. Namun demikian, ada pula beberapa naskah (umumnya karya sastra) yang sudah diterbitkan atas pembiayaan dari penerbit Rumah Bunyi, dengan pemberian royalti kepada penulis yang bersangkutan.

Buku-buku yang telah siap untuk dicetak, terlebih dahulu akan diajukan ke Perpustakaan Nasional demi memperoleh ISBN dan nomor seri KDT. Umumnya, proses pengajuan tersebut memakan waktu tiga hari kerja, sebagaimana ketentuan yang ditetapkan oleh Perpustakaan Nasional.

 

PASCA PENERBITAN

Distribusi adalah bagian yang tidak kalah pentingnya dalam melakukan kerja-kerja penerbitan buku. Sebagaimana ungkapan “buku ditulis untuk dibaca” maka segala upaya pemasaran dilakukan Tim Rumah Bunyi dengan semaksimal mungkin.

Ruang-ruang promosi karya juga menjadi bagian penting dalam memasarkan karya yang telah diterbitkan. Dengan mengikuti perkembangan teknologi, maka Tim Rumah Bunyi juga tidak ketinggalan memanfaatkan teknologi informasi, marketplace, website resmi penerbit, hingga media sosial untuk melakukan promosi sebuah karya. Selain itu, peluncuran dan bedah buku juga menjadi jalan untuk mempromosikan sebuah karya yang telah diterbitkan. Untuk mendukung kegiatan tersebut, Tim Rumah Bunyi kerap menghadirkan beberapa akademisi serta melibatkan mahasiswa dan komunitas sastra dan seni yang ada di Kota Kendari.

*Tulisan ini akan disampaikan pada kegiatan Lokakarya Sastra Sulawesi Tenggara yang diadakan oleh Kantor Bahasa Prov. Sultra pada 28—29 JUNI 2021

Penulis :

Total Views : 768 , Views Today : 2