Pandji Yang Tidak Mati-Mati

Saya pertama kali melihat Pandji Pragiwaksono secara langsung pada 1 Maret 2014, di Soehanna Hall, Jakarta. Saat temu relawan Turun Tangan Nasional.

Pada waktu itu, kami dari beberapa perwakilan relawan Turun Tangan se-Indonesia, deklarasi untuk bantu orang baik terlibat mengurusi negeri ini. Deklarasi tersebut bertajuk “Revolusi: Orang Baik Turun Ke Politik”.

Turun Tangan adalah gerakan edukasi sosial politik yang digagas Anies Baswedan. Saat ini, platform Turun Tangan adalah inkubator kepemimpinan pemuda melalui gerakan sosial kerelawanan.

Komunitasnya tersebar di seluruh Indonesia. Turun Tangan hingga kini masih aktif melakukan beragaman program edukatif. Dan relawannya masih memegang teguh prinsip, sebagaimana yang telah dideklarasikan pada waktu itu.

Dihadapan perwakilan relawan seluruh Indonesia, Pandji yang juga bagian dari yang sebagai di Turun Tangan, didaulat menjadi pembawa acara pada malam puncak. Pada acara yang dipenuhi oleh semangat anak muda, Pandji berhasil membawa acara dengan penuh gelora dan geliat tawa. Acara berjalan berbalut semangat, substansinya dapat, dan semua meninggalkan gedung dengan senyuman penuh.

Sebelum moment tersebut, saya adalah penikmat karya-karya Pandji. Saya mengikutinya di sosial media dan membaca tulisannya di blog. Video Stand Up Comedy spesial yang pertama kali saya nonton secara utuh adalah Mesakke Bangsaku.

Saya melihat sesuatu dari Pandji. Ia memiliki narasi yang menggugah. Stand up comedy tidak sekadar dijadikan sebagai medium untuk menghibur orang, melainkan ada misi persatuan yang ia bawa.
Buku karya Pandji yang pertama kali saya baca adalah Indiepreneur. Sebuah buku yang berisi tentang bagaimana cara hidup dari karya. Bukunya tak sekadar berbicara tentang teori langit-langit pemasaran, melainkan bagaimana cara membumikan daya cipta menjadi sebuah produk ekonomi.

Pada sisi yang lain, soal apa yang Pandji telah lakukan untuk negeri ini, tidak cukup jika harus dituliskan pada satu esai ringkas. Dengan bantuan google dan stalking sosial media, mungkin akan membantu jika anda ingin tau tentang gagasan, karya, dan gerakan-gerakannya.

*

Pada pekan kedua Desember kemarin, saya main ke Rumah Buku Firza, salah satu toko buku alternatif di Kota Kendari. Secara tak sengaja, di rak discount Buku Firza, saya melihat ada dua buku lawas karya Pandji yang tergeletak. Buku tersebut kebetulan belum saya baca. Tanpa berpikir panjang, saya langsung ambil keduanya.

Ya, walau mengagumi karya Pandji, saya adalah orang yang mudah tergoda dengan aneka lintas tema pengetahuan. Saya bukan tipikal yang begitu mengagumi seseorang dan tau info tentang karya terbarunya, langsung membelinya. Saya adalah tipikal penikmat karya yang mengalir begitu saja. Cara saya adalah, begitu ada rejeki, baru ke toko buku. Bagaimana mood saat ada rejeki, maka buku itulah yang saya beli.

Semacam tak terstruktur memang. Kadang dalam menikmati sebuah karya, tak runut berdasarkan urutan waktu rilisan karya tersebut keluar. Tapi mending begitu. Sebab, lebih baik loncat dan telat, ketimbang update tapi membaca lewat salinan pdf atau hasil bajakan.

*

Saya baru saja selesai membaca buku Juru Bicara ini. Salah satu dari sekian banyak buku Pandji.

Juru Bicara adalah bukunya yang terbit pada tahun 2016. Sebelumnya, Juru Bicara merupakan tajuk tur Stand Up Comedy yang dibawakan di 5 benua. Garis besarnya, pada buku ini Pandji mengajak orang untuk berani berbicara.

Selama logis, bisa dipertanggung jawabkan, jangan pernah takut. Meski konsekuensinya, apabila pendapat anda berbeda dengan pendapat mayoritas, bisa kena bully atau tak didengar.

Pada buku ini, Pandji menjelaskan bahwa ia mengidentifikasi dirinya sebagai Vincinian; orang yang hidup lintas profesi. Orang yang hidup dengan memaksimalkan potensi, untuk memuaskan rasa penasaran pada dirinya.

Ya, Vincinian itu rasa-rasanya tepat. Sebab medium berkesenian Pandji memang tidak sekadar menulis dan stand up comedy. Ia juga mahir sebagai musisi, presenter tv, aktor, dan penyiar radio. Ia kini juga memfasilitasi komika dan komedian untuk memasarkan karynya melalui platform digital comica.id.

Yang kerennya, ia semacam memiliki nafas yang panjang dalam berkarya. Tiap tahun, selalu saja ada karya baru yang ia keluarkan. Pertulisan ini dibuat, buku terbarunya berjudul “Pecahkan” sedang open pre order per pekan ketiga Desember 2020.

Beberapa resep sebenarnya sudah ia bocorkan di kanal youtubenya. Tapi tidak semua orang bisa menempa diri untuk bisa sepertinya. Nafas yang panjang, topik dan medium yang beragam, dengan kualitas yang terjaga.

Di buku Juru Bicara, saya paling suka tulisan berjudul “Padahal Resepnya Bagus”. Ia membahas tentang perenungannya saat naik pesawat. Pada saat mendengar pramugari membacakan safety demonstrasion, ia mengkomparasikan delivery pramugari dengan delivery dalam stand up comedy.

Seni pertunjukan adalah tentang seni perulangan. Penampil pada saat show sebenarnya sedang menampilkan pengulangannya dari hasil latihan. Namun, beberapa orang terkadang, karena sudah berkali-kali membawakan hasil latihan tersebut, ia lupa menaruh hati pada setiap penampilan.

Padahal, sebagus apapun kualitas penampil, seberkali-kali bagaimanapun tampilan itu sudah disajikan, akan sulit ia masuk ke hati penonton, ketika yang membawakan luput memakai hati pada setiap tampilannya.

Penulis :

Total Views : 831 , Views Today : 2 

%d blogger menyukai ini: