Nanggala-402, Firasat Seorang Anak, dan Masyarakat Indonesia yang Saling Baku Sayang

( Ilustrasi : Representasi )

Kapal selam Nanggala-402. Di mana-mana orang membicarakannya. Pembicaraan itu terdengar tulus dari hati yang paling dalam. Seakan kejadian itu adalah hal yang paling tidak diharapkan terjadi. Tetapi sesuatu yang telah terjadi tidak mungkin diubah karena itu sudah menjadi takdir Tuhan.

Salah satu yang mengharukan dari kejadian itu adalah kisah seorang anak bernama Azka dan Bapaknya salah seorang awak kapal Nanggala. Dalam sebuah video yang viral, Azka melarang bapaknya pergi dari rumah. Dia bersikeras melarangnya bertugas di kapal selam Nanggala. Dia mengunci bapaknya di kamar. Tetapi bapaknya beralasan ingin keluar dari kamar itu, walau Azka tetap saja mendorongnya dan menguncinya di kamar.

Siapa sangka anak sekecil itu sangat mempunyai insting yang kuat terhadap orang tuanya. Tetapi pengaruh itu tidak cukup. Sebab sudah jadi takdir Tuhan. Walaupun kita berandai andai dapat memutar waktu kembali, kita tidak akan bisa menahan kepergian Bapak Azka. Sebab kita tidak bisa melawan kehendak Tuhan. Jalan itu sudah menjadi jalan Tuhan yang mutlak, yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun. Kisah firasat sebelum kepergian yang dititipkan ke seseorang semacam itu sebenarnya sudah banyak terjadi. Hanya saja tidak semua firasat yang Tuhan perlihatkan mampu ditafsirkan oleh hambanya. Yang pergi tetap akan pergi. Dan yang pulang tetap akan pulang.

Dari tragedi kapal selam Nanggala ini, barangkali ada banyak hikmah yang bisa kita dapat. Walaupun kita tidak saling kenal, rasa saling peduli di negeri ini ternyata masih saling berikat kuat. Masyarakat Indonesia ternyata saling baku sayang. Kepedulian itu terlihat betul saat kapal selam itu dinyatakan hilang kontak. Orang saling berdoa mendoakan keselamatan. Saling membantu berharap kapal selam itu bisa ditemukan secepatnya. Negara-negara tetangga pun turut membantu. Berkat bantuan mereka juga kapal itu ditemukan. Kapal itu ditemukan telah terpisah tiga bagian di kedalaman sekitar 838 meter laut Bali, yang susah untuk dijangkau oleh tangan manusia. Baja ternyata bisa pikot seperti botol mineral yang diinjak pada saat masuk di kedalaman itu. Apalagi manusia. Hal itu menandakan betapa lemahnya kita dihadapan Tuhan. Mau sekuat apa manusia, tak ada yang perlu terlalu dibanggakan sebenarnya dari kehidupan ini.

Perihal Nanggala yang belum selesai dari ingatan. Di hampir setiap tempat yang saya kunjungi orang-orang membicarakannya. Di sebuah toko obat-obatan kemarin, dua pelayan seakan larut dalam kisah Nanggala. Mereka duduk di atas kursi sambil membicarakan Nanggala yang sungguh memprihatinkan. “Apalah kita yang berada di atas bumi, kita tidak tahu menahu perihal di kedalaman laut. Kita juga tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi di kedalaman sana.” Begitu sedikit perbincangan mereka yang saya dengar sekilas.

Tadi juga saya dari membeli kertas A4 di salah satu toko alat tulis di Kota Kendari. Sehabis mengambil kertas A4, saya bayar ke kasir. Setelah itu kasirnya melanjutkan pembicaraan ke temannya perihal Nanggala. Lagi-lagi Nanggala. Sambil duduk di atas kursinya, mereka terlihat mendalami kejadian itu. Sampai mereka lupa memberikan nota harga kertasnya ke saya. Saya juga jadinya ikut larut. Ingin ikut cerita sama mereka tapi situasinya lagi di toko. Menyimak sedikit, saya langsung keluar dari toko. Nyalakan motor lalu jalan. Akhirnya karena lupa, saya dua kali pulang bale ke toko itu. Untuk kembali mengambil nota yang lupa saya ambil.

Ah, Nanggala. Kami semua sedih atas tenggelammu.

 

Penulis :

 

Total Views : 565 , Views Today : 6 

%d blogger menyukai ini: