Menyeruput Narasi dalam Secangkir Kopi The Eye Kendari

The Eye Coffee yang beralamat di Kompeks CitraLand, Anduonohu, Poasia, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara.
(Foto: Yayat/Representasi)

Kala itu langit di ufuk barat sudah mulai merah keabu-abuan. Seusai membersihkan badan dan merapikan rambut, saya segera bergegas ke salah satu kedai bernama The Eye Coffee yang berlokasi di Kompleks Citra Land Kendari.

Saya berencana untuk menemui salah seorang pemuda lelaki berambut agak rapih yang tidak lurus tidak juga keriting, lebih tepatnya mungkin bergelombang bagaikan ombak tipis di lautan. Namanya Riqar. Sapaan akrab saya kepadanya dengan sebutan Kak. Meskipun baru kisaran tiga bulanan mengenalnya, tetapi saya sangat menghargainya. Selain karena inovasi dan gagasannya, bagaimanapun secara usia dia lebih dulu merasakan garam. Untuk itulah saya akrab memanggilnya Kak Riqar.

Tujuanku bertemu dengannya tidak lain tidak bukan untuk menyeruput secangkir kopi dan berdiskusi seputar bagaimana memiliki kemampuan dalam mengolah diksi untuk menjadi narasi yang berarti.

Saya memilih Kak Riqar untuk menjadi teman diskusi soal tulisan karena dia satu diantara sekian pemuda masa kini yang memahami apa yang saya inginkan.

Dia milenial, dia mendalam, dia toleran, dia memiliki kecerdasan, bahkan dia mampu menerjemahkan sesuatu yang belum saya jelaskan. Termasuk kegelisahanku tentang mimpi menjadi penulis besar.

Saya seorang yang bisa dikata sering makan asam garam pergerakan di jalanan. Bersuara lantang seakan menyuarakan kebenaran. Meskipun terkadang saya juga berpikir bahwa apakah yang biasa saya teriakkan itu berpihak pada khalayak atau malah mengusik ketenangan jalan.

Bukan hanya itu, saya juga kadang kepedean mempresentasikan gagasan di forum-formal yang didengar banyak orang. Meskipun terkadang orang lebih senang saya diam. Entah mengapa. Mungkin karena mereka resah dengan pemuda semacamku yang terlalu banyak mengkritik. Atau pendapatku mungkin dianggap bahana tanpa solusi.

Hal penting dari yang sering saya lakukan, bukan soal diakomodir atau tidaknya sebuah aspirasi pergerakan. Ini tentang upaya untuk menunjukan bahwa di bumi Anoa ini masih ada sebagian kalangan yang peduli pada sebuah persoalan. Jika berdampak pada kebaikan, harapannya semoga generasi ke depan menyadari pentingnya untuk menyuarakan persoalan ketimpangan. Ini mungkin terlalu klise dan semu. Namun biarlah waktu yang menjawab.

Bagi seorang yang kerap berdiri di samping kobaran api bakaran ban sepertiku, menuliskan gagasan yang bergizi bukanlah perihal yang mudah. Lebih rumit dibanding menguraikan masalah pemerintahan dengan teriakan yang menggetarkan.

Istilahnya, setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Tetapi jika setiap yang lantang bersuara tidak akan mampu menguraikan gagasan lewat tulisan, menurutku itu persepsi yang perlu diluruskan. Sebab ada banyak orator yang ketika turun ke jalan suaranya lantang, juga tulisan-tulisannya selalu ditunggu-tunggu banyak orang. Salah satunya Soe Hok Gie.

Dari Gie saya perlahan belajar menuliskan sesuatu yang terlintas di pikiran, dan intens belajar bersama kak Riqar soal bagaimana berupaya menuangkan gagasan ke dalam tulisan yang indah dan bergizi.

Suasana ruang The Eye Coffee Kendari. (Foto: Yayat/Representasi)

Setibanya di The Eye Coffee, saya langsung duduk di lingkaran kursi paling depan dekat bar. Belum usai merapikan isi tas ke atas meja dan meletakkan cas handphone ke dalam colokan, pelayan sudah berdiri di samping kanan dengan senyuman, menandakan sudah siap menawarkan menu dan pelayanan. Tidak menunggu lama, saya langsung mengatakan “secangkir kopi susu ya kak”.

Ngopi dan diskusi di The Eye Coffee saat itu bukan kali pertamaku, melainkan sudah kali ke tiga. Menu pesanan favoritku tidak pernah berubah, yaitu secangkir kopi susu. Alasan menyukai menu kopi susunya karena rasanya yang tebal dan begitu nikmat. Di sisi lain, bagi seorang yang pas-pasan dari kampung sepertiku, dengan harga 14 ribu rupiah sudah bisa duduk ngopi di kompleks megah Citra Land, merupakan sebuah kemewahan.

Kopi susu The Eye Coffee Kendari yang lezat di seruput.
(Foto: Yayat/Representasi)

Hal lain dari soal letak strategis dan area The Eye Coffee yang berada di kawasan megah, pengunjung di sana juga beragam. Strata sosial melebur jadi satu ketika duduk di The Eye. Mulai dari pegiat seni, pegawai dinas, pejabat perusahaan, penulis, wartawan, kepolisian, hingga akademisi, semua dilayani dengan perlakuan yang sama. Paling tidak, bagiku yang berstatus mahasiswa, dengan duduk di The Eye bisa merasakan disama ratakan dengan orang yang memiliki ‘kelas sosial’ yang lebih tinggi. Saat tertentu juga saya biasa berinteraksi dengan mereka. Lebih dari kopi, The Eye juga menyimpan potensi sebagai titik penghubung pengunjungnya untuk berbagi jejaring.

Sekitar 10 menit kemudian, kak Riqar dan pelayan datang secara bersamaan. Pelayan dengan senyumnya membawakan segelas kopi susu yang saya pesan. Sedangkan kak Riqar membawa sejuta harapan agar bisa memberikan jalan terang bagiku untuk menemukan kemudahan dalam menuangkan gagasan lewat tulisan.

Saya kembali memesan segelas kopi susu untuk kak Riqar yang baru datang. Saya tau kak Riqar adalah penyuka kopi yang berat.

“Kak, satu lagi kopi susunya”, ucapku kepada barista. “Oke”, jawab Kakak pelayan yang selalu menyertai dengan senyuman.

Kak Riqar tiba-tiba mencegat. “Jangan pesankan saya. Saya lebih lama nongkrong di sini ketimbang kamu.” Beliau lalu menoleh ke barista.  “Mba, saya kopi susunya om Anchu nah.”

“Eh, itu kopi apa, Kak?” tanyaku dengan serius
“Sama saja kopi susu yang kamu pesan. Hanya takaran kopinya yang berbeda. Soal kopi, nanti kita bahas khusus.”
Walau diselimuti penasaran, saya jawab saja, “iye siap.”

Kak Riqar duduk tepat di hadapanku. Begitu kopinya datang, saat itulah tukar menukar cerita dan perbincangan seputar kepenulisan dimulai.

Saya lebih dulu memulai perbincangan dengan say hello.

“Kita start darimana tadi kak?” tanyaku.
“Saya dari rumah ji”
“Owh, iye kak. Siap.”

Usai menyelesaikan basa basi, saya langsung memulai dengan melontarkan sebuah pertanyaan seputar tulisan.

“Kak, bagaimana kalau misalkan saya coba menulis tentang sebuah catatan perjalanan?” tanyaku serius.

Kemudian dia menjawab dengan santai tapi mendalam. Wajar, kak Riqar pernah menjadi mahasiswa ‘kapal kelam’ di salah satu kampus filsafat di Kota Malang, Jawa Timur.

“Bisa, tapi kalau kamu ingin kontenmu itu banyak dibaca atau dinikmati oleh pembaca, tulisanmu harus mewakili perasaan banyak orang”.

Sontak saya menjawab dengan rada pesimis. “Itu dia kak, kelemahanku saya belum maksimal dalam merangkai kalimat, termasuk memuat kerangka dan sistematika tulisan yang bagus”.

Kak Riqar kemudian mengatakan, “seseorang yang ingin memiliki kemampuan dalam mengurai kegelisahan dan pengalaman ke dalam sebuah tulisan, harus mampu menembus substansi, atau makna dari sebuah perjalanan. Menulis dengan jujur adalah modal awal yang baik. Ketimbang mengada-ngadakan hal yang tidak dijangkaunya.”

“Ada banyak orang memiliki gagasan yang baik, tapi tidak mampu menyusunnya secara mengalir. Ya, untuk itu kita harus sama-sama berproses, belajar, dan terus membaca. Karena tidak ada seorang pun penulis yang instan atau tiba-tiba saja bisa menulis. Kalau menulis asal-asalan semua orang bisa, tapi untuk melahirkan produk tulisan yang bergizi dan enak untuk dinikmati orang saat dibaca, itu tidak mudah. Saya juga kadang masih payah. Apalagi bikin sebuah tulisan produk jurnalistik.”

Saat itulah saya menyadari begitu lemahnya diri ini dalam melatih tangan mencurahkan kegelisahan ke dalam tulisan.

“Baik kak, saya harus terus membaca dan berlatih membiasakan diri menulis”, ungkapku.

Kemudian Kak Riqar juga menyampaikan, “untuk menulis sebuah tulisan yang bergizi, tidak harus dari suatu hal yang berat-berat. Banyak perihal di sekitaran yang potensi untuk kita tuangkan dalam sebuah tulisan. Itu bisa saja jadi menarik, karena hal yang dekat dari kita memungkinkan juga dekat dengan orang lain. Sisa melatih kepekaan, memungut makna, lalu dinarasikan. Semisal peristiwa ngopi ini.”

Kami sambung menyambung diskusi. Dari meja depan bar, kami bergeser ke halaman depan The Eye Coffee. Hingga tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 09.30 WITA. Sekitar 30 menit setelahnya, kami beranjak ke tempat tinggal masing-masing.

Suasana halaman depan The Eye Coffee Kendari yang kadang di halaman parkirnya dipenuhi mobil.
(Foto: Yayat/Representasi)

Sebelum pulang kak Riqar menutup dengan sebait kata-kata, “jangan bermimpi menjadi penulis apabila kamu malas membaca.”Perihal diskusi soal kepenulisan, tidak berakhir di momen tersebut. Diskusi masih terus berlangsung hingga saat ini. Kadang juga bersama teman-teman anggota representasi.id yang lain. Pertemuan demi pertemuan intens kami lakukan. Warung Kopi adalah tempat favorit ngumpul kami. Terutama di The Eye Coffee yang kopinya enak dan harganya terjangkau.

Kopi susu The Eye Coffee Kendari yang juga bisa dipesan melalui ojol secara take away.
(Foto: Yayat/Representasi)

Penulis :

 

Total Views : 724 , Views Today : 4