Mengeja Al-Qur’an

Al Quran

 

Al- Qur’an merupakan Kitab paripurna yang diturunkan sebagai mukjizat kepada manusia paripurna pula, melalui mediasi Malaikat Jibril selaku penyampai wahyu.

Sebagaimana termaktub di awal ayat Surah Kedua, peruntukan kitab ini tidaklah semata tertuju kepada pengikut Baginda Rasul. Namun, juga kepada seluruh penghuni semesta, meliputi isi Bumi dan Langit. Hanya saja menerima isinya sebagai pesan ketuhanan, haruslah dengan syarat. Dan bertaqwalah syaratnya. Tanpa taqwa, tentu teks suci yang tertuang di dalamnya, akan terasa hambar sebagaimana yang lain.

Setiap pribadi muslim sudah pasti akrab dengan Kitab satu ini. Namun, defenisi akrab sama sekali tidak mengindikasikan intensitas membacanya, apalagi mengkajinya. Sangat mudah untuk diketahui. Wujudnya hadir di setiap rumah. Namun keberadaannya, biasanya tidak lebih dari sekedar pajangan yang tak jarang berhias debu. Kadang di rak, kadang di lemari, kadang pula terselip dalam tumpukan buku di atas meja kerja. Sekalipun terbaca, tidak memicu keajaiban datang. Tak ada getar, tak ada gejolak, tak ada gemuruh di balik dada. Ia seumpama teks biasa ketika terbaca. Mengapa? Barangkali level taqwa belum melekat pada diri. Namun pertanyaan yang muncul kemudian, taqwa yang bagaimana?

Menjelang Ramadhan, kerinduan menyerbu untuk kembali bersua. Akan tetapi, seringkali relasi yang terbangun dengannya hanya berupa desakan keterpaksaan. Mengapa? Sebab, simbol keshalehan lebih diutamakan ketimbang ia jadi tuntunan. Alasannya, yah, sekedar mengawetkan eksistensi diri. Apalagi di zaman gila pencitraan ini.

Di antara kita, banyak yang rajin membacanya. Menamatkan sekali-dua kali, bahkan berkali-kali. Dan itu menjadi rutinitas setiap Ramadhan kembali berkunjung. Namun sayangnya, kadang yang terbaca tidak sama sekali meninggalkan kesan selain lelah dan dahaga. Dan hebatnya, itu sama sekali bukan soal. Sebab, orientasi saat membacanya sekedar ketuntasan mengeja teksnya. Ada pengaruh atau tidak, menjadi tuntunan atau tidak, sekali lagi, itu bukanlah urusan yang harus mendapat perhatian luar.

Mengulang pertanyaan ihwal taqwa sebelumnya, seperti apa ia? mengenai apa dan bagaimana ia? Pada hakikatnya, jawabannya sedari mula tertera di dalam Al-Qur’an itu sendiri. Taqwa adalah predikat bagi mereka yang melakoni peran kehambaan dengan penuh kesungguhan atau totalitas. Bersungguh dalam menjalankan perintah dan menjauh dari segala laranganNya.

Predikat taqwa pun diutarakan berulang kali di dalam Al-Qur’an. Namun, dalam uraiannya terdapat beragam kategori atau level. Pembahasan mengenai taqwa ini yang terdapat di awal-awal ayat surah kedua menempati kategori taqwa level awal. Disitu dijelaskan bahwa ketaqwaan mampu diperoleh oleh seorang hamba jika ia memenuhi beberapa kriteria.

Yang pertama, Alladzina yu’minuuna bilghaibi artinya seorang hamba wajib mengimani hal-hal yang ghaib atau sesuatu yang tidak bisa ditangkap oleh mata dzahir. Kedua, Wamimma rajaqnaahum yunfiquun artinya seorang hamba wajib berinfaq, memberikan pelayanan terhadap sesama, baik berupa pelayanan harta, ilmu, tenaga, dlsb. Ketiga, walladzina yu’minuuna bimaa undzila ilaika wamaa undzila min qablika artinya seorang hamba wajib mengimani kitab yang disampaikan kepadanya melalui perantara lisan utusan-Nya, baik Al-Qur’an maupun kitab yang diturunkan sebelumnya. Keempat, Wabilakhirati hum yu’qinun artinya seorang hamba wajib meyakini keberadaan akherat sebagai tempat berlabuh setelah fase di dunia berakhir. Dan ujungnya setelah keempat poin ini terpenuhi, ayat selanjutnya menggambarkan uulaika ‘alaa hudaan min rabbihim wauulaika humul muflihuun, merekalah orang yang diberi petunjuk dari Tuhannya, lagi beruntung. Siapa mereka? Mereka adalah muttaqiin (orang-orang yang bertaqwa).

Nah, dari uraian di atas sebaiknya kita bisa memahami bahwa mengaji adalah aktivitas yang tidak berhenti pada tataran mengeja saja. Fokusnya tidak pada permukaan. Dilakukannya musti dengan menyertakan perenungan secara mendalam. Menelusuri sedalam mungkin demi menguak sesuatu yang tersembunyi di dasarnya. Mempelajari hadist dan syarahnya, menulusuri asbab turunnya ayat, membaca sirah nabawiyah, menguasai ilmu lughah, dan lain sebagainya.

Jika tidak, kebiasaan  membacanya tidak akan membawa petunjuk dari-Nya. Padahal kita tahu bahwa semakin jauh ia ditelusuri, maka semakin menambah kemungkinan pesan Ketuhanan ditemukan. Dan itu artinya predikat taqwa akan diraih. Dengan kata lain, kita sementara tertuntun menuju-Nya. Jangan sampai kita hanya senang mengurusi sesuatu hanya dari bungkusnya.

Penulis :

Total Views : 918 , Views Today : 4