Martir

( Ilustrasi shutterstock.com )

Saya belum siap. Saya belum yakin apakah saya siap. Terlalu berat bagi saya. Saya bahkan tidak tahu apa tujuan semua ini. Terlalu banyak pikiran. Saya tidak tahu mana yang benar. Beberapa bulan yang lalu saya datang sebagai pelarian. Saya kabur. Saya dikejar aparat di sana–sini. Saya hanya ingin menyelamatkan diri. Katanya tempat ini aman, tidak akan dilirik oleh petugas.

Saya mendapat tugas yang cukup serius. Saya hanya diberitahu tugas ini demi kemanusiaan. Katanya tugas saya ini untuk menebus dosa-dosa saya yang lalu. Katanya saya mendapat kehormatan yang sangat besar untuk melakukan tugas ini. Tapi saya tidak yakin apakah saya adalah orang yang tepat untuk tugas ini. Tidak ada jawaban yang saya terima. Hingga detik ini saya belum siap.

Saya lahir di tempat tak bernama di ujung barat kota ini. Ibu saya bekerja di jalanan setiap hari. Bapak saya? Jangan tanya siapa bapak saya. Ibu saya pun tak bisa mengingat lagi yang mana bapak saya. Bagi ibu saya, semua cinta bermula di ujung malam dan berakhir di awal fajar. Baik dengan lelaki yang sama, ataupun berbeda–beda. Tanpa lamaran, tanpa romantisme berpacaran, tanpa mas kawin ataupun santunan perceraian. Setelah peluh tertumpah dan kepuasan tercapai, maka uang pun dibayarkan. Status anak haram pun saya dapatkan sejak lahir. Tapi saya sudah terbiasa dengan semua itu.

Masa kecil saya habiskan di peron stasiun. Mulai dari bermain, ngasong, sampai mencopet. Ketika remaja, saya mulai ikut “menjaga keamanan” di pasar. Setiap minggu semua pedagang harus nyetor. Jika tidak, mereka harus bersahabat dengan pukulan dan tendangan saya. Kadang kiosnya pun ikut dirusak.

Bagi saya, hidup itu seperti pembagian tugas singa jantan dan betina. Singa betina bertugas untuk berburu, tetapi singa jantanlah yang makan lebih dahulu. Begitu juga saya. Siapapun boleh mencari rezeki di pasar. Tetapi yang menikmati hasil harus saya duluan. Jika ada yang berani mendahului saya, harus siap berkalang tanah.

Tapi semua tidak berlangsung lama. Sama seperti singa, mereka tidak akan bertahan menghadapi keroyokan hyena. Dalam kehidupan saya, hyena ini berwujud trantib. Mereka datang dengan pentungan secara berkelompok. Menghajar singa-singa pasar yang tidak berdaya dan akhirnya rela melepas teritorinya. Makan memang penting, tetapi nyawa jauh lebih penting.

Setelah adanya penertiban, saya harus mencari pekerjaan lain. Dengan hanya bermodalkan otot, saya diterima bekerja di kota sebagai buruh pabrik. Di sini saya berkenalan dengan beberapa aktivis yang membantu memperbaiki nasib para buruh. Para pemimpi yang tidak tahu dimana ujung imajinasinya. Tiap hari mereka selalu memakai bahasa tingkat tinggi kepada kami orang-orang yang tidak pernah sekolah. Beberapa di antara kami terkesan, tapi beberapa juga hanya menganggapnya sebagai angin lalu saja. Kalau saya, yang penting pembagian rokok lancar dan tiap dikumpulkan untuk berdiskusi dapat kopi gratis sudah cukup. Jadi kesempatan untuk ngutang di warung sebelah pabrik jadi berkurang.

Mereka juga yang membantu saya mencari persembunyian setelah saya dengan tidak sengaja membunuh petugas saat demonstrasi hari buruh. Saya dikejar intel dan dituduh sebagai aktivis radikal. Saya bahkan tidak tahu apa arti kata radikal. Yang saya tahu hari itu kami diajak untuk berkumpul dan turun ke jalan. Katanya untuk membela hak kami sebagai buruh. Sore hari setelah seharian bertahan di terik matahari, terjadi lempar-lemparan batu dan hampir semua teman saya kena tangkap. Ketika ada petugas yang mencoba menangkap, saya mencoba meloloskan diri dengan memukul batu ke kepalanya.

Saya kemudian berlari dan terus berlari. Tidak ada keinginan untuk menoleh ke belakang. Saya takut. Saya baru berhenti setelah benar-benar kehabisan napas. Saya panik. Apa yang harus saya lakukan? Saya baru saja melukai seorang petugas. Saya pasti masuk penjara.

Setelah mengambil napas, saya meneruskan berjalan tanpa tujuan. Yang jelas saya harus pergi sejauh-jauhnya. Telepon genggam murahan yang saya miliki sudah saya buang jauh-jauh. Sampai saya melihat seseorang yang saya kenali dari kejauhan. Berambut gondrong dengan kaos hitam dan celana penuh sobekan di lutut. Ia aktivis yang sering mengumpulkan kami untuk berdiskusi. Dari dia saya mengetahui kalau petugas yang saya serang meninggal dunia. Dia kemudian mengajak saya untuk “mondok” di salah satu desa yang cukup terpencil di kabupaten sebelah utara kota. Saya yang hanya memiliki 1 jalan keluar, akhirnya menerima ajakan ini.

Di sinilah saya sekarang. Bergabung sebagai anak didik. Setiap hari kami diwajibkan belajar dan mengerjakan bermacam-macam tugas, mulai dari terbit matahari hingga terbenamnya. Dan menurut saya ini lebih baik daripada harus mendekam di bui. Setidaknya di tempat ini kami tidak harus memakai seragam dengan nomor tahanan di punggung.

Selain itu, saya juga dibekali dengan beberapa keterampilan seperti menyusup, menyamar, dan bela diri baik tangan kosong maupun dengan senjata. Karena memiliki fisik dan daya tangkap yang bagus, akhirnya saya menjadi menonjol di antara teman-teman yang lain. Saya diberikan pelajaran tambahan tentang senjata api dan bahan peledak. Saya sebenarnya tidak tahu apa tujuannya. Tetapi karena diwajibkan, maka saya harus ikuti.

Hingga tibalah hari dimana saya ditunjuk untuk melaksanakan tugas ini. Saya bingung. Saya belum siap. Tapi mustahil berkata sebaliknya. Saya sudah banyak berhutang budi pada tempat ini.

“Assalamu alaikum”

“Alaikum salam”, jawabku.

“Antum sudah siap? Ini peralatannya. Ingat! Pagi nanti tepat pukul 9. Yakinlah, bidadari istri Antum sudah menanti di gerbang surga.”

“Insya Allah”

Sayapun berdiri dan memakai rompi berbahan peledak yang diberikan oleh rekan saya. Sasarannya adalah rumah ibadah yang akan menjalankan ibadah Minggu pagi nanti.

*

“…..Breaking News! Pemirsa, baru saja telah terjadi ledakan di Gereja Katedral Santo Agustinus yang menyebabkan 9 orang tewas dan 58 lainnya luka parah. Sampai saat ini kami belum mendapatkan informasi siapa yang bertanggung jawab atas kejadian tersebut, tetapi ada kemungkinan aksi ini berhubungan dengan kelompok teroris asal…..”, sayup terdengar suara pembaca berita di televisi.

“Bagaimana Bos? Sudah sesuai pesanan?”, tanya seorang lelaki berambut gondrong di seberang meja.

“Pas! Kalau kerjamu begini terus kamu tidak usah lagi berkelana keliling pabrik mengurusi buruh-buruh kampung itu. Mending jadi staf saya di sini. Atau mau kerja di perusahaan saya jadi komisaris? Semua bisa diatur.”, kata si Bos seraya menyorongkan sebuah tas berisi uang.

“Ah, Bos ini terlalu memuji. Yang penting bayarannya cocoklah Bos.”

Penulis :

 

Total Views : 692 , Views Today : 2 

%d blogger menyukai ini: