Malam Perak : Catatan Pengalaman Menonton

Pementasan lakon “Malam Perak” oleh Ganda Gong Theater di Aula RRI Kendari, Jumat (09/04/2021).
(foto: pattwah/representasi)

Pada sejumlah kisah cinta yang pernah ditulis, kematian, betapapun suramnya, selalu menjadi akhir yang membebaskan. Ia kerap hadir sebagai penegasan cinta yang kalah atau keras kepala. Meski kematian lumrah bagi tiap yang hidup, tetapi bagaimana kematian datang, itulah yang jadi drama. Karenanya, tidak bisa diterima begitu saja. Ia ditangisi, disesali, dan lebih sering disayangkan.

Kematian Marlina di tangan Halimun pada satu malam di sebuah kafe adalah drama yang utuh. Semula, mereka bicara tentang masa lalu. Pertemuan pertama yang manis dan syahdu. Gairah cinta dan darah yang mendesir karena asmara. Lontaran-lontaran kata dari mulut Halimun membuat Marlina diam, tapi tampak ia menikmatinya. Adegan bergerak cepat. Cerita bergeser menyinggung urusan perceraian. Suara meninggi lagi. Tapi Halimun telah berkali-kali menegaskan hatinya terlanjur cinta. Ia masih mendamba. Untuk itulah ia masih menyimpan foto Marlina di dompetnya, dan menyisipkan pisau silet di sisinya sebagai tanda luka irisan hati yang tak mudah disembuhkan. Halimun tampaknya kalah dalam cinta, tapi jelas ia bukan tipe lelaki yang mudah menyerah.

Sendainya malam itu Marlina mau mengikuti saran Muslimin si pelayan kafe, barangkali ia masih akan menikmati percumbuannya dengan lelaki kekasih hatinya. Atau, kalau saja Marlina menyadari bahwa celoteh Halimun hanyalah siasat yang akan menjeratnya, mungkin saja ia masih bisa menikmati pagi keesokan harinya sembari bercanda mesra dengan lelaki yang menunggunya. Tapi hidup seringkali memang hadir sebagai serangkaian drama. Suka tidak terduga dan penuh kejutan.

Begitulah. Darah yang semula hadir sebagai gairah yang menghidupkan, kini tampil mewakili kematian yang mengenaskan. Tidak ada ekspresi menyesal di wajah Halimun saat pisau silet di tangannya menggorok leher Marlina. Malah sebaliknya, air mukanya seperti gairah orang kasmaran. Seperti wajah penuh kemenangan. Sementara itu, Marlina yang malang bersimbah darah, sekarat dan merana. Dadanya terguncang karena sesak. Nafasnya tingal satu-satu. Muslimin si pelayan kafe yang melihat kejadian itu panik dan gemetaran. Ia berlari macam orang kesetanan berteriak memanggil orang-orang, meminta pertolongan.

Lampu kemudian mati. Bersamaan dengan padamnya lampu di tubuh Marlina.

 

Penulis :

Total Views : 2,002 , Views Today : 2