Lintasan Kenangan yang Bersemayam di Kedai Kopi Kahawa

kahawa-susana-malam
Suasana malam di Kedai Kopi Kahawa Kendari (foto: pattwah/representasi)

Di sebuah malam yang dingin, saya dan temanku Riqar merencanakan pertemuan. Pertemuan kami gelar di atas trotoar. Berbagai motif tikar digelar di atas trotoar tempat kami duduk. Tikar itu digelar mungkin tujuannya supaya celana pengunjung tidak kotor saat duduk melantai. Trotoar itu dibuat pemerintah agak lebar dan panjang. Sepertinya pada sepanjang jalan sekitar trotoar itu ada banyak lintasan kenangan yang bersemayam. Entah sudah ada berapa masyarakat urban Kendari yang bertemu dan saling menatap di situ. Hawa kenangan indah serta bayangan kelam rasanya bercampur aduk saat kami duduk. Energi yang beraduk itu kami rasakan di kedai kopi lesehan Kahawa. Tepat di seberang jalan parkiran hotel Claro.

Saya yang memilih Kahawa sebagai tempat pertemuan. Sakira supaya bisa bertemu dengan sepupuku di Kahawa. Padahal dia tidak ada disitu. Saya sebenarnya merindukan traktirannya.

Saya dan Riqar duduk di gelaran tikar, bersandar di belakang menghadap pengunjung kedai Kahawa dan membelakangi laut yang ada tanaman bakaunya. Bakau yang rindang semakin menghiasi pemandangan di belakang kami malam itu. Sesekali saya mengalihkan pandangan ke bakau itu, sayang air di bawahnya keruh. Entah apa yang bikin keruh.

kahawa-lesehan-kopi
Lesehan kopi Kahawa di trotoar jalan Edi Sabara. (foto: pattwah/representasi)

Kemudian di belakang kami yang agak jauh lagi, ada masjid terapung Al Alam sebagai hasil reklamasi teluk. Masjid itu digagas selama masa jabatan Nur Alam dan diresmikan pada masa pemerintahan Plt Gubernur Saleh Lasata. Kini di teluk Kendari selain masjid terapung Al Alam, juga dibetoni oleh jembatan Bahteramas dan proyek Pelabuhan Kendari New Port seluas sekitar 25 hektare.

Terkhusus masjid Al Alam, halamannya luas, pemandangannya indah, dikelilingi rimbunan pohon bakau, yang biasa dipakai juga masyarakat sini sebagai tempat rekreasi. Menanti senja untuk selfie di Al Alam adalah hal yang paling menarik. Apalagi sambil merasakan bagaimana dinginnya kibasan angin laut sore. Serasa kamu akan ditarik langsung dalam suasana keindahannya.

Apakah kamu sudah pesan kopi? tanyaku sama Riqar. Jawabnya sudah. Saya pun ikut memesan menemui salah satu barista. Saya tanya namanya. Katanya Opang. Saya bilang sama dia, kopi apa yang paling nikmat di sini? dia senyum sambil menunjukan daftar menunya. Saya tertuju pada daftar menu terakhir, coklat kahawa. Sebenarnya kahawa ini bahasa muna dari kopi. Sakira yang saya pesan itu adalah susu cokelat dicampur kopi. Dipikiranku itu adalah menu baru yang pertama saya liat. Padahal cuman susu coklat. Karena sudah terlanjur pesan, saya pun memesan coklat kahawa. Padahal tadinya rencana mau pesan kopi.

 

susu-cokelat
Menu yang disajikan oleh kedai kopi Kahawa (foto: pattwah/representasi)

Saya kembali ke tempat duduk tadi. Bertemu teman ke tempat ngopi tanpa saling bicara rasanya tidak nikmat. Saya pun bilang sama bang Riqar sambil menunggu pesanan kami. Pembicaraan kami pertama tertuju pada pengunjung kedai Kahawa. Kedai ini lumayan banyak pengunjung malam ini. Iya, katanya.

Saya dan Riqar diapit banyak pengunjung. Di muka samping kiri kanan kami diisi dengan pengunjung. Pembatas kami hanyalah bunga-bunga yang sengaja ditanam Pemerintah Kota. Bunga-bunga itu ditanam berderet sepanjang tengah jalan trotoar. Kami yang berkunjung bukan berasa seperti di kedai biasa yang tertutup dengan atap seng. Bukan. Melainkan duduk bersila, langsung menyatu dengan suasana alam. Kami duduk saling berpandangan muka satu sama lain. Maklum, ruangannya yang terbuka tidak dapat mencegah kemungkinan kita bisa saling curi pandang. Saling cari perhatian juga bisa saja terjadi. Bahkan mungkin jatuh cinta pada pandangan pertama sangat berpotensi terjadi di tempat ini. Kenapa bisa terjadi? kan katanya cinta itu bisa datang kapan saja. Dan tatapan adalah salah satu pintu masuknya, bukan?

“Pengunjung yang datang membawa pasangannya di Kahawa, dia datang bersama pasangannya karena ada sesuatu yang mau dia tunjukkan terhadap kekasihnya. Apakah perihal betapa cintanya dia terhadapnya, atau betapa sayangnya dia. Dia lalu mengorbankan waktu untuk mengajak jalan kekasihnya. Hal itu dilakukan tentu sekadar mengusir rasa bosan kekasihnya yang mungkin lama di rumah selama pandemi. Tapi dia tidak takutkah itu kalau kekasihnya bertatapan dengan orang baru yang lebih menarik? Dia tidak takut buka potensi hadirnya benih cinta baru pada tatapan liar?” bang Riqar tersenyum. Lalu dia bilang, adakah pacarmu? pertanyaan itu tidak saya jawab. Saya mengalihkan pertanyaannya dengan pertanyaan baru. “Lihatlah. Sebagian dari mereka datang bersama teman-temannya. Mereka terlihat saling bicara. Tapi ada juga yang tidak saling menghiraukan, fokus sama gawainya sambil senyum-senyum sendiri. Entah apa yang membuat dia senyum, yang pasti senyuman itu seperti pertanda hiburan yang diperoleh dari gawainya”, alihku.

kahawa-gaya-barista
Gaya barista Kahawa dalam proses menyajikan kopi dengan sepenuh hati. (foto: pattwah/representasi)

Terlihat barista tadi datang membawakan pesanan kami. Saya bilang makasih. Sama-sama, katanya. Lalu kembali lagi ke tempatnya semula meracik kopi. Dia semakin disibukan dengan urusan pengunjung yang semakin ramai. Semakin jauh malam pengunjung kedai ini ada saja yang datang.

Saya minum susuku. Mantap, bilangku keras. Tiba-tiba bang Riqar menyela. “Bukan hanya soal rasa yang perlu kamu perhatikan di kedai ini. Tapi lihatlah di sekitarmu. Tepat di hadapan kita ada bangunan pencangkar langit. Itu menandakan bagaimana hebatnya persaingan bisnis sekarang ini.” Coba liat itu. Itu komunitas sepeda toh, timpalku tiba-tiba. Ia katanya. Bang Riqar melanjutkan lagi penjelasannya. “Secara tidak sadar para ‘kaum bermodal’ sedang bermuara di sana. Bagi kelas menengah bawah seperti kita tidak mungkin bisa bermalam di sana barang tiga hari. Tidak mungkin.” Tiba-tiba saya dialihkan dengan seseorang yang lewat di depanku. Rambutnya kuning terurai di pundaknya, menyerupai lampu neon di Kahawa malam itu. Badannya tinggi semampai. Kami bertemu pandang, namun dia langsung mengalihkan pandang. Terlihat mengambil cas hp, lalu kembali lagi ke tempat duduknya semula. Sabilang sama bang Riqar teruskan saja yang tadi. Bang Riqar mengambil rokoknya. Lalu menyalakan koreknya dan menghembuskan asapnya ke udara. Seakan penjelasannya tidak lengkap tanpa rokok.

Saya juga mengambil korek apinya. Bukan mau bakar rokok. Sabilang, korek rokokmu unik, bisa diputar-putar karena ada alat putarannya di tengah. Dia bilang, iya lah. Saya memutar-memutar koreknya sambil mendengar lagi penjelasannya. “Untuk bersaing dengan mereka kita tidak bisa. Mereka punya modal banyak. Lagi pula mereka mencari keuntungan sebanyak-banyaknya. Kita tidak punya modal seperti mereka. Standar yang mereka pakai juga berbeda dengan kita.” Tiba-tiba lagi ada seseorang yang lewat di depanku. Rambutnya hitam terurai ke bahu. Dia memakai kacamata, tingginya semampai. Dalam hati, kayaknya orang ini sa kenal. Dia teman SMA. Saya menegurnya. Mendengar itu bang Riqar berhenti menjelaskan. Tapi dia tidak kenal saya katanya. Aduh betapa malunya saya. Sabilang SMA 1 Raha to? Dia bilang, iya. Sabilang lagi, ada itu kelas 10 itu hari yang pernah ditarik kupingnya sama guru matimatika? Oh, kau ka. Sabilang, iya. Dia bilang maaf, soalnya rambut panjangmu bikin lupa. Apakah ini semacam kode keras? dia tertawa, lalu dia memunggungi kami menemui teman-temannya.

Betapa perubahan penampilan sangat mempengaruhi daya ingat seseorang, batinku.

Saya minta meneruskan lagi penjelasan Riqar. “Lihat jalan raya itu. Dia semacam pembelah antara si besar dan si kecil. Lalu pengguna jalan adalah saksi atas berhadap-hadapannya deretan gedung tinggi dan lapakan kecil kaki lima. Ini kaya perang terbuka. Kalau hujan turun, di depan sana masih tetap beroperasi sebagaimana biasa. Lalu di pinggiran sini dengan atap sekenanya musti berhenti berjualan hingga hujan reda.” Eh, iya di. Jadi bagaimana nasibnya ini Kahawa kalau musim hujan? tanyaku. “Perihal Kahawa yang lebih jelas tau adalah pemiliknya.” Supaya lebih jelas, saya pun memanggil salah satu barista.

kahawa-pesan-kopi
Salah satu barista Kahawa sedang menyajikan kopi kepada para pengunjung. (foto: pattwah/representasi)

Seperti yang terlihat, Kahawa memiliki dua barista yang sekaligus merangkap sebagai waitress. Kedai Kahawa ini berdiri di atas trotoar di pinggir jalan baypass Edi Sabara, yang diapit oleh kedai lain termasuk sari laut. Suara-suara percakapan di sini saling bersahutan dengan kendaraan. Kadang juga tiba-tiba ada balap liar yang bisa mengusik telinga.

Barista yang saya panggil tadi datang. Kuminta dia menjelaskan perihal Kahawa. Namun dia bilang dia hanya karyawan biasa. Yang tau itu katanya Opong. Kalau begitu sabilang, kamu namamu siapa. Dia bilang Oval. Sabilang sama dia. Kalian kaya keluarga O saja. Untung muka tida mirip. Dia ketawa. Dia memakai kacamata anti radiasi. Kutanya lagi, kenapa memakai kacamata anti radiasi. Alasanya supaya terhindar dari radiasi hp. Boleh juga, batinku. Tinggi badanya sekitar 164 cm. Dia berbadan kecil, kelihatan lebih muda dari saya. Saya tanya umurnya. Ternyata dia yang lebih tua dari saya. Dia juga bilang saya sudah lama selesai S1. Aduh, padahal tadinya sakira dia baru selesai SMA. Rupanya apa yang terlihat belum tentu sesuai dengan perkiraan kita. Kita perlu menyelam lebih dalam lagi untuk mengetahui seseorang. Betapa kemasan sering mengecoh persepsi.

Saya pun memanggil Opong. Minta menjelaskan kedai Kahawanya. Opong datang. Duduk bersila menghadap kami. Kami pun saling berhadap-hadapan empat orang. Di bawah bulan, bintang-bintang, lampu neon dan dikelilingi bunga-bunga, Opong menjelaskan. “Kahawa ini berdiri tanggal 4 bulan April tahun 2018 lalu. Sebenarnya awal mula nama kedai ini bukan Kahawa. Tetapi dialog kopi. Awalnya, semua sepakat dengan namanya, dialog kopi. Falsafah nama itu diadopsi dari peristiwa ngopi sendiri. Ngopi pasti menghasilkan dialog antara dua aku atau lebih.” Eh, ini bunyi kendaraan kadang bikin kabur penjelasan Opong. Untung dia tetap semangat menjelaskan. “Tapi saya masih ragu dengan namanya. Saya lalu browsing di google. Share nama dialog kopi. Ternyata nama dialog kopi sudah digunakan di Jawa. Akhirnya tidak jadi.”

Akhirnya Opong mengajak kakaknya merundingkan nama yang lebih cocok untuk kedai mereka. Nama dialog kopi lebih baik diganti karena banyak samanya. Maka didapatlah nama paripurnanya, Kahawa. Saya penasaran dengan kakaknya. Kutanya nama kakaknya siapa. Katanya Oning. Ternyata dugaanku benar. Dia ini adiknya Oning. Ini yang dimaksud Oning secara tidak sengaja pernah saya ketemu di kampung tahun lalu. Di momen itu kami saling kenal. Sebagai orang asing, kami ngobrol banyak waktu itu. Oning pernah menjelaskan sama saya perihal kedai ini. Katanya dia mempunyai kedai kopi yang saat ini dihandal adiknya. Saya langsung ingat ceritanya. Oning waktu itu menjelaskan falsafah kahawa adalah diambil dari bahasa muna sebagai representasi dari menu utama kedai itu sendiri.

kahawa-menu-andalan
Salah satu menu kopi susu andalan dari Kahawa (foto: kendari katalog)

Opong juga menjelaskan begitu. Tidak jauh beda dengan penjelasan kakaknya perihal kahawa. Saya tanya sama Opong, adakah rekomendasi kopimu terbaik disini. Katanya kopi gayo wine. Sabilang lagi, rasanya bagaimana itu. Rasanya katanya nanti coba sendiri. Dalam hati kubilang, ngeri cara marketingnya ini barista. Bang Riqar menyela. Bagaimana dengan retribusi tempat ini? “Itu hari per dua hari kita bayar 5 ribu rupiah. Sekarang orang yang datang ambil retribusi sudah jarang muncul. Mungkin karena pandemi. Tapi sekarang ada lagi wacana mau dinaikkan jadi 12 ribu per meter lahan trotoar yang digunakan.” Waduh. Saya sama bang Riqar kaget. Kalau sampai kejadian, itu mahal sekali. Saya sama bang Riqar lalu menghitung-hitung kasar angka 12 ribu itu dengan luas lahan yang dipakai Kahawa. Kami mendapatkan hasil kemungkinan Kahawa musti mengeluarkan 1 juta 800 ratus ribu rupiah per bulan untuk retribusi. Saya menimpali, dari pihak mana yang menagih? katanya Pemkot. Sabilang lagi, tidak memberatkan ka? “Berat juga kalau untuk macam kita ini. Tapi itu masih wacana. Kakak juga sudah komunikasi bilang berat.” Memang pungutan itu terlalu berat untuk para kaki lima. Belum lagi dengan biaya penerangannya. Bang Riqar menyela, listriknya diambil di mana? katanya disambung dari sari laut. Dibayar? “ya tentu saja. kita kan numpang meteran. 150 ribu per bulan.”

Di Kahawa ini, pengunjung juga difasilitasi alat musik bagi yang mau menyanyi. Siapa saja bisa sumbang suara. Tapi sayang saat kami datang soundnya lagi diperbaiki. “Di sini juga pernah diadakan nonton film dan diskusi bareng,” katanya. Satanya film apa? katanya yang ada bajonya itu. Barangkali yang dia maksud film The Bajaunya Dandhy Laksono. Film itu menceritakan kisah hidup orang bajo di perairan Sulawesi. Tentang mirisnya kehidupan laut orang bajo yang pelan-pelan digerus oleh kehadiran perusahaan tambang. Mereka semacam dipaksa untuk tinggal di darat atas nama identitas. Itulah yang buat film tersebut menarik. Makanya orang nonton bareng di Kahawa.

“Tapi sekarang nonton film bareng di Kahawa sudah tidak ada. Soalnya kapasitas listriknya tidak mampu. Di sini kadang sering turun-turun spanen tiba-tiba. Untung meterannya dekat. Jadi bisa handel sendiri.”

Tiba-tiba suara musik DJ keras sekali terdengar. Suara itu muncul dari sepeda yang lewat. Berbeda dengan pengguna sepeda yang lewat sebelumnya. Komunitas sepeda remaja yang lewat ini mengayuh sepedanya sambil menggendong sebuah speaker di tas ransel yang dipunggunginya. Tidak tau apa maksudnya putar musik keras-keras sambil bersepeda. Agak mengganggu di kuping.

Saya dan bang Riqar lalu menghabiskan minum. Mengakhiri percakapan. Lalu pamit pulang.

 

Penulis :

Total Views : 615 , Views Today : 2 

%d blogger menyukai ini: