Layar Alternatif Kopa Kopi, Agak Intim Namun Sedikit Bising

Harapannya adalah tempat ini bisa menjadi ruang untuk mengapresiasi karya teman-teman penggiat,  bukan hanya film, ke depan bisa jadi kita melakukan untuk diskusi buku atau karya-karya lainnya’
Farel Kopa Kopi Seturan.

 

Sabtu, 25 Januari 2020, saya memilih menempatkan diri di Kopa Kopi, sebuah warung kopi yang terletak di daerah Seturan, Yogyakarta. Saya hadir bukan sekadar untuk menunaikan ibadah kopi, yang lebih penting dari malam itu adalah adanya woro-woro di media social tentang pemutaran film yang akan dilaksanakan di warung kopi ini.

Demi memanipulasi ketidakadaan kegiatan di malam minggu, saya kemudian memilih untuk datang lebih awal ke tempat acara. Kopa Kopi adalah sebuah coffee shop yang jika dilihat dari bangunannya merupakan transformasi dari sebuah hunian pribadi. Tidak terlalu luas namun mampu menjaga keintiman.

Kopa Kopi masih sepi ketika saya datang. Hanya ada beberapa anak muda yang sedang sibuk mempersiapkan partikel-partikel kebutuhan pemutaran. Saya disambut ramah oleh beberapa barista Kopa Kopi dengan senyuman khas pemuda jogja.

Menemani penantian pemutaran dan diksusi film malam itu, saya memesan setelan vietnam drip. Pukul 20.00 WIB sesi acara dimulai, sedikit molor dari waktu seharusnya. Mas Farel membuka acara, menyampaikan terimakasih dan sedikit basa-basi. Lalu selanjutnya layar mulai terkembang dan pemutaran film dimulai.

Ada dua film yang diputar malam itu; Lumbung dan Sasmita Narendra. Ke dua film merupakan karya cipta dari Sansekerta Pictures, sebuah rumah produksi yang digawangi oleh kawan-kawan ISI Jogja.

Pemutaran film berlangsung sederhana, sesekali suara kendaraan yang melewati jalanan kompleks mendistorsi pendengaran, namun bukan pecinta film namanya jika masalah sekecil itu bisa mengganggu kekhidmatan dalam menonton film.

Saya dan penonton film malam itu duduk tenang dan selalu berujung tepuk tangan setiap film selesai diputar. Sayang saya tidak bisa duduk lebih lama untuk ikut menimba ilmu pada sesi diskusi para pembuat filmnya. Waktu terlalu cepat menggerutu dan saya harus segera pulang. Namun pertemuan dengan Mas Farel dan Kopa Kopi tidak usai sampai di situ. Saya sudah menaruh janji untuk bercakap-cakap lebih dengan Mas Farel.

Melalui sambungan whatsapp, saya mencoba mengulik bagaimana Mas Farel dan Kopa Kopi menginisiasi pemutaran film malam itu. Ia dan kawan-kawan memang sedang bergeliat membranding Kopa Kopi, dan salah satu harapannya adalah Kopa Kopi bisa menjadi ruang apresiasi bagi sebuah karya. Baginya, sebuah karya apapun bentuknya harus bertemu dengan penikmatnya. Sehingga melalui karya, kita bisa saling mempelajari. Dan Kopa Kopi hadir untuk menjembatani pertemuan itu.

Penulis :

Total Views : 1,317 , Views Today : 2 

%d blogger menyukai ini: