Laila-Majnun, Romantika Cinta Agape?

laila

Saya suka berbicara tentang cinta. Namun tidak begitu suka jika disuruh mendefinisikannya. Cinta menurut saya adalah kata yang sudah mendefinisikan dirinya. Memaksakan untuk memberi definisi bisa saja justru akan menyusutkan maknanya. Lagipula mendefinisikan cinta bukanlah hal yang begitu penting. Tidak perlu menyamakan persepsi, toh cinta sudah pasti pernah dirasakan semua orang. Perbedaannya hanya terletak pada level atau kualitas saja.

Pada bayi atau balita misalnya, seorang neuroscientist asal Amerika bernama Lisa Eliot mengemukakan bahwa tatapan seorang bayi kepada orang tuanya sebenarnya adalah ungkapan rasa cinta. Tatapan tersebut kemudian berlanjut dengan aktivitas-aktivitas penuh cinta lainnya seperti memberikan senyum terbaik, menjalin interaksi (protoconversation), selalu ingin berada di dekat orang tua, meniru gerak-geriknya, bahkan meminta perlindungan sebagai wujud kepercayaan (fase stranger anxiety). Jadi, cinta itu mutlak ada pada siapa saja. Minimal cinta kepada orang tua atau sanak saudara.

Mengutip beberapa tulisan tentang cinta, filosof Yunani membagi cinta dalam 3 jenis; eros, philia, dan agape. Pembagian ini menurut saya bukan hanya membagi cinta berdasarkan kualitasnya, tetapi juga menentukan tingkatan atau levelnya.

Eros sering disebut dengan cinta seksual, yang penuh nafsu akan fisik antara lawan jenis maupun sesama jenis. Philia berarti cinta dengan ketulusan. Saling memberi sehingga terjadi juga saling menerima. Menurut Aristoteles, philia bersifat penuh kebajikan dan tidak agresif. Biasanya dirasakan pada hubungan persahabatan, persaudaraan dan keluarga. Sedangkan agape adalah jenis cinta yang paling puncak.

Cinta jenis ini adalah cinta tak bersyarat. Cinta dengan totalitas. Agape adalah cinta penuh membuncah pada objek yang dicintai sampai tidak lagi memikirkan diri sendiri. Mencintai dengan tidak memperdulikan apakah akan balik dicintai. Terus memberi tanpa harus menerima. Tidak menghendaki balasan. Bahkan tidak merasakan pengorbanan. Meskipun cinta jenis ini identik dengan cinta Tuhan pada ciptaan-Nya, namun adapula kisah yang menceritakan sebaliknya, pengalaman cinta hamba pada Tuhannya.

Dalam tradisi sufistik Islam, dikenal beberapa kisah tentang cinta. Salah satu yang paling fenomenal adalah kisah cinta dalam epik roman yang berjudul Laila-Majnun yang oleh beberapa kalangan disebut sebagai alegori cinta hamba pada Tuhannya. Kisah tersebut sampai saat ini belum ada yang bisa memastikan fiktif atau nyata. Cerita cinta antara Laila dan Majnun dikisahkan oleh Nizami Ganjavi, seorang penyair asal Persia sebagai bentuk pengabulan atas permintaan rajanya. Kisah ini disebut telah menginspirasi banyak sastrawan besar dunia untuk mengabadikan kisah percintaan melalui tulisan, seperti William Shakespeare dengan Romeo and Juliet-nya, Alphonse Karr dengan Magdalena dan Stevan-nya, bahkan di Indonesia ada Buya Hamka dengan Hayati dan Zainuddin-nya (Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk).

Menilik kategorisasi cinta yang telah dipaparkan sebelumnya, cinta Majnun (Qays Ibn Mulawwih) kepada Laila kelihatannya termasuk cinta agape. Dalam beberapa penggalan kisah, disebutkan bahwa saking besarnya cinta Majnun terhadap Laila sampai-sampai Majnun rela menyamar sebagai pengemis, menanggalkan identitas fisik yang melekat pada dirinya hanya untuk meminimalisir jarak dari sang kekasih. Bahkan di satu kesempatan, Majnun berpura-pura menjadi kambing (atau domba) dan berada di tengah kerumunan kambing untuk bisa berjalan dengan bebas menuju rumah Laila. Semua yang dilakukannya adalah perwujudan rasa cinta.

Erich Fromm dalam bukunya The Art of Loving mengemukakan bahwa pribadi yang mencintai itu mengalami empat gejala: care, respect, responsibility, dan knowledge. Sikap peduli, hormat, dan bertanggung jawab adalah indikasi dari adanya rasa cinta. Bangunan dasarnya adalah pengetahuan. Sebagaimana yang dikatakan Paracelsus, “Dia yang tak tahu apapun, tak mencintai apapun”. Lalu bagaimana dengan cinta pada pandangan pertama (love at the first sight)? Cinta pada pandangan pertama bisa saja ada, dengan catatan sudah ada pengetahuan sebelumnya tentang objek yang dicinta. Bahkan bagi seorang pecinta, tak perlu lagi mata untuk melihat kekasihnya.

Membaca kisah Laila-Majnun sebenarnya tidak membuat saya terkagum, apalagi harus menangis karena ending yang tragis. Plot ceritanya biasa saja. Dua orang yang saling jatuh cinta tetapi tidak bisa bersama karena dipisahkan keluarga, adalah cerita yang sudah banyak kita temui bahkan pada ftv-ftv. Kekuatan ceritanya hanya ada pada ekspresi cinta seorang Qays terhadap Laila. Qays menurut saya beruntung karena cintanya pada Laila tidak bertepuk sebelah tangan. Seandainya Nizami mengubah sedikit ide cerita dengan menjatuhkan rasa cinta Laila kepada orang lain, maka ceritanya mungkin lebih seru karena dramatis.

Hahaha…. Oleh karena itu, cinta Qays belum cukup teruji menurut saya. Ekspresi cinta Qays yang diceritakan Nizami sebenarnya juga sudah lumrah kita jumpai. Perilaku mencintai dengan menciumi tembok rumah Laila, hampir sama dengan orang yang mendekap dan menciumi baju kekasihnya kala merindu. Penyamaran Qays menjadi seekor kambing hampir sama dengan aksi seorang kekasih yang rela memanjat pagar rumah yang tinggi, mengendap-ngendap di tengah gelap dengan resiko tertangkap dan dihukumi sebagai maling hanya demi menemui si objek cinta. Tak perlu sampai ke level agape, ekspresi cinta eros pun tidak jarang yang seperti ini.

Cinta yang luar biasa menurut saya justru tidak membutuhkan ekspresi yang muluk-muluk. Dengan memberi, seorang pecinta justru merasa menerima. Dia dan yang dicintainya adalah satu. Mirip konsep fana’ dalam dunia sufistik Islam. Diri seorang pecinta itu “hilang”, melebur dengan objek yang dicintainya. Seperti syair lagu Dewa-Satu yang sebenarnya diduga mengutip sebuah hadis qudsi:

Aku ini adalah dirimu
Cinta ini adalah cintamu

Dengan matamu kumemandang
Dengan telingamu kumendengar
Dengan lidahmu aku bicara
Dengan hatimu aku merasa.

Jika ditanya perihal kisah cinta mana yang paling luar biasa, menurut saya ada dua. Yang pertama adalah kisah cinta hamba pada Tuhannya. Salah satu tokohnya adalah Rabiah al-Adawiyah. Yang kedua, cinta antar dua insan-manusia, Muhammad dan Khadijah. Cinta yang menurut saya luar biasa justru karena ke-biasa-annya. Kapan-kapan kita bahas tentang mereka.

 

“Kamu, adalah aku dalam wujud yang lain”

– Umaima –

Penulis :

Total Views : 386 , Views Today : 2 

%d blogger menyukai ini: