LA ODE ARIES : yang bekerja dengan hati

La Ode Aries
(Dok. Istimewa)

Dalam satu pertemuan tidak sengaja dengan seorang perwira polisi, saya memberanikan diri bilang begini, “Kapan-kapan boleh dong Pak saya tanya-tanya soal klub bola Dua La ode.” Sebetulnya itu hanya pertanyaan yang sengaja saya lontarkan untuk menghalau kekakuan yang nyaris terdengar seperti basa-basi. Tapi di luar dugaan, beliau menyahuti “Kontak saja. Kapan pun. Di warkop atau kalau mau ke kantor juga boleh. Pintu ruangan saya terbuka setiap saat.” Katanya sambil tersenyum.

Itu bagian paling saya ingat. Selalu tersenyum. Dulu, sekitar tahun 2009, saya sering melihat beliau duduk dengan beberapa mahasiswa di sekitar pertigaan kampus. Tidak canggung, tidak jaim, tidak jaga wibawa. Membaur seperti masyarakat umumnya. Kadang saya bertanya kepada beberapa kawan, “Dia itu polisi betulankah?”

Kemarin, sekitar pukul 10 kami bikin janji. Ketemu di ruangannya selepas jumatan. Seumur-umur baru dua kali saya datang di Polda Sultra. Pertama waktu nonton pertandingan bola UHO usia 40, dan kemarin. Wah, takut-takut juga sebetulnya. Dalam bayangan saya, Polda urusannya bagian periksa orang. Tapi saya nekad saja.

Di parkiran saya menelepon. Katanya, langsung saja di ruang Diskrimun lantai dua. Saya melangkah mantap. Secara, saya tidak sedang berurusan hukum. Saya hanya ingin diskusi dengan beliau. Topiknya pun urusan bola. Kepada petugas jaga di depan, saya bilang mau ketemu Pak Dir. Katanya, keperluan apa. Saya jawab, cuma mau ketemu saja. Sudah janjian. Ok, baiklah. Saya diantar masuk ruangan.

Sejujurnya saya kaget. Bukan karena saya dibentak atau semacamnya. Tapi cara beliau menyapa saya seolah kami kawan lama yang sudah berpuluh tahun tidak bertemu. Ramah, teduh, dan hangat. Dalam sepersekian detik saya merasa sudah seperti tidak sedang berada di kantor polisi. Saya jadi ingat, barangkali karakter beliau yang seperti inilah yang membuat banyak orang beranggapan bahwa kefiguran beliau sebagai polisi salah satunya karena cara dia memperlakukan orang.

Saya buka bicara. Tanya kabar dan sebagainya.

Ketika saya menyinggung tentang klub bola beliau bilang begini. Saya tidak jago main bola. Bukan fanatik bola juga. Tapi saya senang melihat adik-adik saya yang punya bakat bola itu, memainkan bola seolah tak ingin lepas dari kaki mereka. Senyum mereka itulah kepuasan saya. “O Ya? Hanya begitu?” tanya saya. “Itu bukan ‘hanya’, bagi saya itu kemewahan. Bukankah sudah seharusnya kita hidup untuk bermanfaat bagi manusia lainnya?” terangnya. Saya diam. Belum bisa melanjutkan ke pertanyaan berikut.

Seseorang membawakan kopi. Saya menyesapnya pelan. Dalam hati saya berkata, aduh kayaknya ada banyak hal yang perlu digali. Biarkan urusan bola jadi pintu masuk saja.

“Sebetulnya begini. Gagasan bikin klub bola itu datang dari sahabat saya. Terhadap sahabat saya ini, saya banyak belajar tentang ketulusan dan keikhlasan memberi. Dia, orang yang bisa duduk santai dengan seorang tukang becak tanpa merasa risih, dan bermuka-muka dengan para pejabat tinggi tanpa merasa canggung. Bagi saya itu sesuatu yang luar biasa. Itu satu kenikmatan bagi saya.”
Kali ini saya memilih lebih banyak mendengar.

“Jika ditanya apa hal ternikmat dalam hidup ini, jawaban saya adalah saat melihat orang-orang tersenyum. Itulah mengapa saya memilih bergaul dengan semua orang, dengan semua usia. Saya tidak memandang pangkat, jabatan, atau materi dalam pertemanan. Yang saya kedepankan adalah kesetaraan. Menjadi sebagai sesama manusia. Dan saya menyerahkan diri kepada semua orang dalam cara seperti itu. Demikianlah mengapa saya menyebut diri sebagai orang yang terbuka. Saya menyukai keadaan saya yang bisa berterima di tempat dan suasana manapun. Bertemu dan berbicara dengan banyak orang tanpa perlu khawatir terhadap apapun. Saya bisa menunjukkan diri saya dengan gamblang. Inilah saya, Aries.”

“Saya rasa semua orang ingin seperti itu. Saya pun. Saya seorang polisi. Institusi kepolisian adalah sekolah hidup bagi saya. Didikan dan komitmen saya adalah melayani. Ini yang jadi pilar hidup saya. Orang tua saya mengajarkan hal yang sama. Saya mendapatkan pelajaran itu dalam lingkungan keluarga kami yang dibiasakan hidup sederhana. Rumah orang tua saya adalah tempat tinggal bagi keluarga yang datang dari kampung untuk bersekolah di Raha. Dari sana saya belajar bagaimana harus berbagi.”

“Tapi begini Bang, dalam posisi seperti sekarang, bagaimana cara menghadapi dilema. Misalnya ada keluarga bermasalah. Di satu sisi secara hukum salah tapi di sisi lain ya begitulah”, saya menyela.

“Hukum tidak boleh dicederai. Sekali lagi komitmen saya adalah melayani. Bila kita melayani dengan baik, maka hakikat mengayomi pasti didapat,” katanya.

Seolah saya tidak sedang berhadapan dengan seorang perwira polisi. Di kantor diskrimun pula. Bagi saya beliau punya kemampuan persuasif yang membuat siapa pun berada di dekatnya merasa nyaman dan tidak berjarak.

“Kalau tentang materi?” tanya saya spontan.

“Yang penting cukup,” katanya.

“Maksudnya?”

“Cukup itu artinya banyak tidak lebih, sedikit tidak kurang”, tuturnya.

Wah. Saya kehabisan kata-kata. Saya bilang saya harus pamit. Kapan-kapan saya akan datang lagi.

“Dalam waktu dekat saya akan ke Makassar. Dapat tugas baru di sana. Kalau sempat, mampirlah di rumah. Kita ngopi dan cerita-cerita lagi.”

Saya tersenyum. Beliau pun.

Sebuah kebanggaan bagi saya dapat berbincang dengan intim dengan seorang putra terbaik Sulawesi Tenggara. Beliau, Kombes Pol La Ode Aries El Fathar akan menjalankan tugas baru sebagai Direktur Narkoba di Polda Sulawesi Selatan.

Sambil menuruni anak tangga, saya menghitung dalam diri adakah mungkin saya berguru pada seorang pembelajar kehidupan yang berkomitmen melayani kemanusiaan.

Saya akan coba!

Penulis :

Total Views : 2,222 , Views Today : 2