Kematian yang Lain

 

( Photo by Cottonbro from Pexels ) 

Setelah semua ini, kita menjadi asing. Menjadi dua orang yang bersepakat seolah tak saling mengenal. Dan kita saling lupa. Ingatan kita berhenti di titik retak. Kita memulai hari dengan dada sesak. Tapi rutinitas tak peduli apa gerangan yang dada kita rasakan. Begitulah seharusnya. Rutinitas pekerjaan dan masalah pribadi sudah sepatutnya tidak dicampur aduk. Ada dinding pemisah diantaranya. Tapi kita tak bisa berbohong. Dada kita memang sakit.

Sesekali kita berjumpa kembali. Saling melihat. Sebatas itu. Entah kata ‘kita’ cocok untuk ku sematkan padamu, atau hanya aku yang berharap bahwa kau tak melupakan sepanjang jalan yang kita lalui, meski kenyatannya mungkin tak seperti itu. Tidak. Kau pasti terluka. Kau menyembunyikan lukamu, sama sepertiku. Atau kau menenggelamkan dirimu dalam dunia yang sibuk, membuat dirimu seolah mati rasa sembari berusaha melupakan sakit di dadamu, walau sebentar saja.

Aku yakin, bila kau sendiri. Kau akan mengingatku. Matamu akan berkaca-kaca, secara perlahan kenangan memenuhi ingatanmu dan kau pun menangis sesegukan. Pasti itu yang kau hindari. Sama sepertiku. Itulah mengapa kau berpura-pura nampak biasa saja. Nampak bahagia. Toh dulunya kalau kau ingin menangis, kau berusaha terus menahannya hingga nafasmu sesak dan dadamu sakit. Pada akhirnya kau juga menangis di dadaku meski akulah penyebab tangisan itu.

Ku akui kau wanita yang kuat dan sabar. Entah kata ‘kuat’ tepat untuk kusematkan padamu atau tidak, sebenarnya aku masih ragu. Mengingat kau mudah menangis. Tapi bila ku ingat kembali betapa satu-satunya wanita yang sanggup menemaniku sejauh dan selama ini. Mungkin kata itu pantas untukmu. Kau sabar. Bersikukuh untuk tetap menemani langkah yang ku pilih meski sering kali aku memilih meninggalkanmu. Entah apa kau ini. Bodoh atau berkomitmen. Aku tak tahu. Karena batas antara keduanya setipis kulit bawang.

Esok adalah hari ulang tahunmu. Seharusnya itu akan menarik, seperti tahun-tahun lalu sewaktu kita tak memutuskan mengakhiri semuanya dan memulai hari penuh senyum palsu. Ku bilang senyum palsu karena aku benar-benar kehilanganmu. Sepanjang waktu aku menutupi rasa kehilangan dengan bibir yang kulengkungkan tanda bahwa aku baik-baik saja. Sekali lagi, aku yakin kau juga sepertiku. Menipu diri. Memunafikkan diri dan apalah itu.

Kau tahu? Akhir-akhir ini aku mendengar kabar bahwa kau telah memiliki yang lain. Sedikit bertambah sakit dadaku ini ketika kudengar kabar itu. Tapi lagi-lagi aku yakin bahwa kau hanya mencari pelarian, pelampiasan. Tentu kau menghargai sepanjang jalan yang kita lalui. Dan kau pasti merawat ingatan tentang kita meski salah satu bagian lain dalam dirimu menolaknya. Tapi kau takkan tega dan tak semudah itu melupakan segalanya. Meski dulu aku tak begitu memahamimu, namun aku yakin untuk hal ini aku benar.

Sebenarnya sah-sah saja bila kau mencari pelampiasan. Aku tak marah. Apalagi cemburu. Tunggu…cemburu? Apa hak ku mengatakan itu. Tak ada. Aku hampir lupa setiap kali melihatmu bahwa kita telah selesai. Dan walau lelaki itu adalah pelampiasanmu, rasa sakit justru tetap semakin berbunyi nyaring di telingaku. Di kepalaku. Jadi ku putuskan untuk berhenti dari tempat kerja ini. Sebab melihatmu saja aku serasa gila. Lebih lagi melihatmu bergandengan tangan dengan bos sialan itu.

Semoga surat ini sampai padamu. Dan kau membacanya dengan segenap cinta kasih dan sayang yang tak kurang sedikit pun, sama sepertiku.

Dari Nocturno.

***

Tak ada yang bisa ku lakukan selain menjahit. Hanya itu keterampilanku. Aku bukan lulusan universitas negeri ataupun swasta. Menamatkan bangku sekolah dasar saja tidak. Jadi aku tak tahu musti bagaimana lagi dengan hidupku sejak ku putuskan untuk berhenti dari tempat kerjaku karena satu alasan.

Sebenarnya bukan karena pekerjaan sehingga aku tak tahu harus berbuat apa dengan sisa hidupku ini. Ada alasan yang menyakitkan. Tapi rasa sakit ini akan berhenti malam nanti. Toh aku sudah mempersiapkan segalanya. Semua sudah lengkap. Tinggal menunggu pukul 12 malam saja, aku mengunci pintu dan aku terbebas dari semua rasa sakit ini. Tujuh jam lagi. Tujuh jam yang terasa lama saat aku menantikan sesuatu. Tapi tak apa. Aku harus bersabar. Sebab setelah itu semua ini berakhir dengan damai, hening, tenang dan tanpa rasa sakit.

Penulis :

 

 

Total Views : 429 , Views Today : 4 

%d blogger menyukai ini: