Kemarau Belum Selesai

kemarau yang belum selesai

Di selasa sore yang dingin, La Neagi tampak masih mondar-mandir di sisi luar pagar. Sudah sepekan ia melampiaskan kekesalannya pada pekerjaan ladang yang melelahakan. Mulai mengumpulkan batu-batu dari dalam kebun, mencari tali dan kayu di hutan, lalu menambah dan menambal pagar yang sudah ada. Ia bekerja setiap hari tanpa peduli sengatan matahari dan guyuran hujan.

Rasa kesalnya berasal dari Wa Monu yang sudah hamil empat bulan. Pada malam pertemuan dua keluarga, Wa Monu tetap menuduhnya—hanya karena mereka sepasang kekasih dan mengarang sebuah kejadian palsu bahwa saat melakukan itu La Neagi sedang mabuk. Tak terima, La Neagi menepis semua tuduhan dengan kekuatan baja, karena baginya ini adalah penghianatan, sebab bayi itu bukan anaknya. Tapi apa boleh buat, hubungan mereka sudah berakhir dua minggu silam di rumah ketua adat yang berujung pada mereka berdua harus bersumpah, satu-satu jalan yang bergantung pada takdir semata.

La Neaigi tetap bekerja meski sejak siang tadi hujan begitu deras. Ada kekuatan yang terus mendorongnya untuk bekerja, dan sesungguhnya ia lebih tampak sebagai manusia pemurung yang pasrah. Kekuatan dan kepasrahan yang terlihat padanya merupakan hasil tempaan dan pukulan cinta. Ia ingin melupakan Wa Monu dengan cara masuk ke dalam hutan mencari tali dan kayu, namun kekasihnya seolah berada di balik pohonan. Ketika mencungkil batu dari dalam tanah, rasa ibah dan pengkhianatan ikut mencuat. Bila batu teratas sudah disimpan, kebenciannya pada laki-laki yang menghamili kekasihnya tak terelahkan lagi. Luka hatinya hampir-hampir tak tertahankan, syukurlah lelah akibat kerja sepanjang hari membikin lelap tidurnya.

Ia akan mengulang hal yang sama esok harinya, bahkan setelah pamannya memberi tahu tentang dua anak gadis La Ndepira. Betapa pun di balik kebeciannya, masih ada cinta untuk Wa Monu. Dan karena itulah ia menyimpan ibah setelah mengetahui mantan kekasihnya itu tetap menutup rapat-rapat bibirnya. Lagi pula tidak akan ada laki-laki yang berani datang mengakui sekaligus menerima semua resiko.

Bibi dan pamannya tidak ambil pusing dengan sikap La Neagi karena mereka memahami mengapa anak muda itu menjadi sangat marah. Hingga pada satu malam jauh sebelum pagar itu rampung, La Neagi diberi tahu kemana ia harus pergi.

“La Ndepira memiliki dua anak gadis,” pamannya memulai “kau boleh memilih dan kalau kau mau aku yang akan memintanya langsung, mereka tidak akan menolak.”

“sebaikya aku melihatnya terlebih dahulu, lagi pula pagar belum rampung.”

“kau pasti suda melihat mereka, tahun lalu hasil panen mereka yang paling berlimpah dan kau ikut membopongnya ke kampung.”

“Sebaiknya aku rampungkan dulu pagar, paman.”

“ada banyak perempuan di dunia ini Neagi, lupakan Wa Monu.”

“termakasih paman,  aku hanya perlu mencari satu untuk seumur hidupku. Dan alangkah baiknya paman pemberitahu mantra yang bisa membuatku tidak bisa lelah,”

“itu hanya boleh ditahu oleh orang-orang yang sudah menikah. Sebaiknya kau tahu mantra ini saja”

La Neagi berhasil mengetahui satu mantra untuk mengembalikan guna-guna yang paling mematikan ketika malam sudah larut. Ia beranjak ke sambil mengulang-ulang mantra yang panjang itu dan hampir melupakan kegalauannya. Dan karena mantra itu juga, di kemudian hari ia dituduh pembunuh berdarah dingin yang memiliki guna-guna paling ditakuti. Tuduhan itu hanya menjadi buah bibir yang tidak pernah terbukti kebenarannya, sebab La Neagi bukan pembunuh. Ia hanyalah laki-laki yang memiliki kebaikan hati yang dilandasi takdir sebagai yatim piatu sejak usia dua belas tahun, semangat kerja tak berkesudahan, dan memilih hidup bersama paman dan bibinya dari pihak bapak.

Sambil menyaksikan jangung tumbuh dan berisi akhirnya pagar dirampungkan, namun La Neagi belum juga kehilangan kekuatan untuk bekerja. Bahkan lelah yang ia rasakan tidak bertahan lama jika hari kembali pagi. Ketika jagung sudah dipanen dan sebagian besar dibiarkan tua, tanpa keluh kesah ia mengikuti langkah kaki pamannya membopong hasil panen itu ke kampung. Masa itu, anak muda sepertinya selalu memiliki semangat dan kekuatan yang tiba-tiba muncul untuk menarik perhatian seorang gadis, namun giat La Neagi hanya demi mengusir rasa cintanya pada Wa Monu yang sekali lagi tak mau pergi.

Sesudah masa panen cuaca perlahan bergeser. Mata air kecil yang menyemul di dalam kebun pelan-pelan berhenti mengalir, seolah ditarik ke dalam tanah oleh tangan gaib. Angin berhembus lebih giat mendorong awan hitam ke langit yang jauh. Mula-mula hujan hanya turun sekali seminggu, kemudian dua kali sebulan, dan akhirnya tidak sama sekali selama berbulan-bulan. Pada saat inilah kabar kelahiran anak Wa Monu sampai di telinga La Neagi.

“kapan dia melahirkan?” tanya La Neagi kepada sepasang suami istri yang mebawa kabar itu dari kampung.

“selasa, dua hari lalu. Seorang anak perempuan yang cantik dan sehat” Jawab sang suami.

Ia ingin bertanya lagi “bagaimana kabar ibunya”, namun lebih baik tidak, demi menyembunyikan sesuatu dalam hatinya. Lalu sebuah pengalihan ia katakan terburu-buru,

“bagaimana keadaan kampung?”

“kampung? Masih begitu-begitu saja,”

Setelah bercakap-cakap sejenak, suami-istri itu melanjutkan perjalanan menuju kebun mereka. La Neagi yang saat itu sedang mengasah parang di kolong rumah, berdiri dan memandangi mereka hilang di belokan jalan yang sudah tinggi rumputnya. Kepalanya diliputi kesedihan sekaligus kebahagian yang sedikit, karena sampai hari itu Wa Monu melahirkan seorang anak yang tidak memiliki ayah. Ia masih mengucap syukur karena bayi terlahir sehat dan mungkin saja Wa Monu juga baik-baik saja. La Neagi bisa menyimpulkan itu dari percakapan tadi yang sama sekali tidak menunjukkan ada yang ganjil dari Wa Monu.

Satu bulan berlalu, kabar duka tiba di kebun dengan keterlambatan yang menyakitkan. Bayi yang lahir sehat tiba-tiba sakit, tubuhnya panas—tidak mau menyapih, dan menangis setiap beberapa menit sepanjang malam sebelum akhirnya terdiam selamanya di pangkuan malaikat Izrail. Empat hari setelah dimakaman, sang ibu jatuh terpeleset di tangga yang cukup untuk mematahkan satu tulang rusuknya. Hanya butuh lima hari untuk betahan dari rasa sakit, Wa Monu menghebus napas terakhirnya pada satu sore yang hangat. Pagi sebelum meninggal ia menceritakan semua rahasianya pada kedua orang tuanya; siapa yang telah menghamilinya, di mana dan kapan itu terjadi, dan penuh penyesalan ia mengakui bahwa rasa bersalahnya sangat besar pada La Neagi.

“Andai dia ada di sini saat ini juga, aku akan mencium kakinya hanya untuk memohon maaf.” Ucap Wa Monu sambil tersedu. Namun permintaan maaf itu sampai melalui ayahnya empat hari setelah ia dimakamkan.

Ketika seseorang memberi salam, La Neagi masih duduk di bilik dapur—di samping jendela. Bibi maupun pamannya yang duduk di beranda langsung membalas salam dari si tamu. Sesuatu yang aneh terasa begitu saja ketika ia melihat pemilik suara yang memberi salam adalah ayah Wa Monu.

“ada apa ini?” Tanya pamannya setelah menjawab salam dan mempersilahkan duduk orang yang masuk, “apa yang sudah terjadi sehingga anda mendatangi kami?”

“begini, pertama-tama aku meminta maaf dari lubuk hati yang paling dalam.” Ayah Wa Monu memulai setelah semuanya duduk.

Kemudian ia bercerita tentang semua yang telah terjadi pada anak dan cucunya, serta tentang rahasia anaknya dengan wajah basah, sambil permintaan maaf berulang-ulang ia sampaikan pada La Neagi. Bibi tidak bisa menahan air matanya sejak kalimat permata disampaikan si tamu, paman masih cukup kuat untuk mendengar semua yang harus mereka dengar, sedang La Neagi berusaha menahan kesedihannya demi mengetahui nama laki-laki yang telah menghamili kekasihnya. Mendengar nama laki-laki itu ia tidak langsung mengenalinya, ia kembali memeriksa ingatannya, anak siapa dan di bagian mana rumah orang itu, namun pamannya tiba-tiba memberi tahunya,

“Neagi, kau bisa saja memenggal leher anak muda itu, tapi pikirkan lagi, tanganmu tidak perlu dikotori oleh darah orang semacam itu.”

“biar aku yang menemui anak itu.” Ucap ayah Wa Monu demi mencegah amarah La Neagi.

Dalam pertemuan yang haru biru itu, La Neagi lebih banyak tunduk menumpahkan air mata bahkan setelah tamu mereka sudah pulang. Bibi dan pamannya saling berbicara mengenai Wa Monu, “Seharusnya Wa Monu tidak mengambil sumpah” kata paman.

“mungkin dia punya alasan yang besar sehingga melakuan itu.”

“selama yang kudengar dan saksikan sendiri, belum ada yang selamat dari sumpah semacam itu sejauh mereka berbohong.”

“lagi pula siapa yang tahu umur seseorang. Bila sudah tiba waktunya pergi ya musti pergi.” tandas bibinya.

Sejenak berikut La Neagi menyibukan diri pada parang yang diasah lagi setiap pagi. Setelah itu ia mengambil satu kayu yang paling membara dari tunguku untuk membakar rumput yang telah ia cabut dua hari lalu. Bibi dan paman hanya melihat sambil berharap ia tidak berlarut-larut dalam kesedihan. Sambil membakar rumputan ia menyeka air matanya, mungkin juga ia membakar semua kenangan tentang Wa Monu.

Penulis :

Total Views : 2,168 , Views Today : 2 

%d blogger menyukai ini: