Istana, Jokowi, dan Literasi

Catatan Perjalanan

 

Langit Kendari di penghujung April dipelihara oleh mendung. Gerimis bahkan mulai turun sejak senja berdatangan, sampai Magrib tiba. Saya jadi teringat sebuah lagu pop yang teramat populer, mendung tak berarti hujan, yang dirilis tahun 1991. Lagu ini ditulis oleh Dedi Dores dan dipopulerkannya bersama Ella, penyanyi terkenal dari Malaysia. Yah, walau mendung memayungi deru kendaraku senja itu, lalu gerimis membuat tubuhku sedikit gemetaran, tetapi hujan tak jadi turun. Barangkali hujan tengah gugur di kota lain. Mungkin kotamu.

Yah, sebelum April benar-benar raib, tanggal 27 itu, sebuah momen baru akan lahir.

Di sebuah hotel cukup ternama di Kendari, saya memarkir kendaraan roda dua. Bergegas saya menuju hotel. Saya takut jika hujan benar-benar runtuh atau telat hadir di acara Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara yang sementara menghelat Pemilihan Duta Bahasa 2017. Saya panitia di dalamnya.

Langkah kaki tergesa melewati bar yang sementara mengalunkan musik instrumentalia. Orang-orang duduk melingkari meja, menyuruput kopi, dan mengepulkan asap rokok ke langit-langit bar yang temaram. Percakapan sunyi mereka gelar dengan suasana yang puitik. Entah mengapa, ketika senja perlahan mengenakan pakaian kirmizi, matahari mulai redupkan matanya, laut Kendari yang digerogoti sunyi, gerimis bagai zikir yang basah, dan suasana bar yang digeletarkan musik instrimuentalia: momen puitik lahir.

Bagi penyair, saat itulah kata-kata hadir . Penyair tinggal memetiknya. Saya petik kata itu lalu kusimpan dalam kepala. Sebentar ketika sampai di rumah, ia saya tuliskan.

Nah, saat momen puitik itu hadir, sebuh momen lain sementara bekerja. Ia mulai bekerja melalui nada getar telepon di saku celanaku. Saya abaikan saja telepon itu. Saya terus melangkah ke ruangan acara.

Di belakang meja, sambil mempersiapkan naskah sertifikat peserta, telepon itu bergetar kembali. Sebuah panggilan dari nomor tak dikenal. Apakah ia dari tukang kredit yang biasa memanggil di tanggal tua?

Sekali lagi, nomor yang sama kembali memanggil. Ponsel saya bergeletar melingkar-lingkar di atas lantai. Saya matikan lalu mengiriminya sms. “Mohon maaf, bisa di-sms saja, saya lagi rapat” jawab saya singkat.

Bukannya membalas ulang dengan sms, sang penelpon malah kembali memanggil. Berarti ini penting. Mungkin ini kabar dari kampung atau dari seseorang yang memiliki maksud mendesak. Bisa jadi juga si tukang kredit itu yang tengah mendesak saya. Telepon saya angkat.

Sementara itu, ibu Sandra Safitri Hanan, Kepala Kantor Bahasa Sultra, sementara mewawancarai peserta duta bahasa. Para generasi muda itu, mempersiapkan diri paling baik, guna menjadi yang terbaik di antara sesama peserta. Yah, mereka akan menjadi bagian dari generasi muda yang akan bergiat di dunia literasi kelak.

“Halo, maaf dengan siapa ini” jawabku setengah berbisik.

“Saya Yuda, pak. Demikian ia memperkenalkan namanya, yang dalam pendengaran terbatas saya di ruang yang ramai itu, menyebut dirinya Yuda, jika tak salah.

“ Ya ada apa Pak Yuda.”
“Saya dari Sekretariat Negara. Benar ini dengan Syaifuddin Gani, pengelola Pustaka Kabanti Kendari yang berlokasi di BTN Puri Tawang Alun?”
“Ya benar sekali pak.”
“Saya menyampaikan undangan dari Bapak Presiden untuk hadir pada acara Temu Penggiat Literasi Inspiratif di Istana Negara, tanggal 2 Mei, saat Hari Pendidikan Nasional” jawab Yuda di ujung telepon.

Reaksi saya tidak langsung percaya dengan informasi itu. Dari mana nama saya didapatkan? Lalu mengapa saya diundang?

Tetapi, sekelebat bayangan pekerjaan literasi saya hadir di kepala. Saya jadi ingat ketika berjuang mendirikan Pustaka Kabanti Kendari di halaman rumah saya. Saya harus diskusi serius bahkan “bertengkar” dengan Winda, istri saya, untuk menyatukan pandangan mengenai pendirian taman baca tersebut. Bukan soal pendiriannya, tetapi pada tempatnya. Kami sadar bahwa mendirikan pustaka di halaman rumah adalah menjadikan ruang privat menjadi ruang publik. Kami mafhum itu. Melalui momen diskusi yang panjang, saya dan istri sepakat.

Di sini saya akan sampaikan sekaligus menjawab sejumlah pertanyaan dari teman-teman Kendari. Dari mana anggaran saya dapatkan untuk membangun pustaka yang berada di sebuah kompleks perumahan itu? Membangun pustaka atau taman baca, bagi saya adalah sebuah cita-cita sejak mahasiswa. Itulah sebabnya, membangun Pustaka Kabanti adalah juga membangun rumah saya. Rumah bagi literasi. Makanya, saya dan istri sepakat untuk meminjam uang di bank. Uang itu, selain digunakan untuk membuat dapur rumah yang belum selesai, juga sekaligus membangun ruang pustaka yang menggunakan seluruh halaman rumah saya. Saya memanggil seorang teman lagi, Iwan Konawe penyair Kendari untuk sama-sama mendirikan Pustaka Kabanti.

Pustaka Kabanti pun mulai dikerjakan. Mendirikan sebuah taman baca di halaman rumah.

Kembali ke soal dering telepon itu.
Begitulah sekelumit pertanyaan dalam benak saya menanggapi telepon tersebut. Tidak lama kemudian, telepon kembali bergetar. Nomor yang sama kembali terpampang di layar.

“Mohon izin pak, saya ingin bertanya sedikit kepada bapak. Apakah bapak sudah pernah naik pesawat?”
“Oh ia sudah pernah pak” jawab saya singkat.
“Terima kasih pak” jawabnya pula.
“Sebentar pak, apakah ini bukan hoax?” tanyaku serius.
“Bukan pak. Ini undangan serius dan benar. Boleh bapak masuk di situs Sekretariat Negara lalu mencari nama saya dan juga nomor telepon seknes (sambil meninggalkan sebuah nomor”.
“Lalu di mana undangannya pak?”
“Undangan akan diserahkan saat semua tamu tiba di istana. Jika dikirim ke masing-masing undangan, khawatir disalahgunakan pak.”

Saya pulang ke rumah dengan dering telepon masih berbunyi di kepala. Saya lalu sampaikan kabar itu ke istri, Ita Windasari. Ia lalu menjawab, “Betulkah itu, pa?”
Saya jawab bahwa sepertinya berita itu betul. Bahkan sang penelepon meninggalkan nama lengkap dan nomor Sekretariat Negara. Kami bersyukur karenanya.

Berita itu saya simpan. Tidak sampaikan kepada teman-teman di Kendari. Juga tidak saya sebar di kantor tempat bekerja. Selain karena masih menunggu kepastian kebenaran undangan ini, juga agar tidak menjadi pembicaraan ramai.

Dalam hitungan jam setelah telepon itu, pembicaraan menjadi ramai di grup whatsapp TBM Indonesia. Ternyata banyak teman-teman penggiat literasi yang mendapat telepon yang sama.

Pak Samto, Kasubdit Direktorat Keaksaraan dan Budaya Baca Kemdikbud, menyatakan ia akan konfirmasi terlebih dahulu ke sekretaris Pak Muhadjir selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan agar mengonfirmasi ke istana, perihal kebenaran undangan tersebut. Tak lama kemudian, hadirlah kabar membahagiakan itu, yah membahagiakan. Undangan dari Presiden Jokowi, benar adanya.
***

“Ayo baca buku, ayo baca buku gratis.”

Begitulah teriakan saya sepanjang jalan di Pulau Ponda, Teluk Kendari, saat pertama kalinya di bulan April 2016, mengantar buku ke Teluk Kendari. Kedatangan kami yang saya sebut Gerakan Literasi Teluk Kendari itu, ibarat meraba-raba sebuah kemungkinan. Penentuan Pulau Ponda di Teluk Kendari hanyalah sebuah keberanian, karena benar-benar baru pertama kalinya dilakukan. Ketika melihat gerombolan anak-anak teluk di depan rumah dan lorong-lorong sempit mereka, di sanalah saya memantapkan hati untuk singgah.

Anak-anak Teluk Kendari keluar dari lorong-lorong sempit rumahnya. Mereka memburu motor yang saya gunakan. Saya berboncengan dengan Hakim, relawan Pustaka Kabanti.
Motor berjalan pelan hingga tiba dan berhenti di sebuah pinggir teluk yang terdapat sebuah bangkai perahu.

Tas berisi buku saya turunkan. Buku digelar di bibir teluk. Anak-anak pun memamah bacaan. Benarlah sebuah anggapan bahwa minat baca anak-anak Indonesia sebenarnya tinggi, tetapi ketersediaan buku yang langka! Delon, salah satu di antara mereka yang usianya sekitar 14 tahun, bahkan melahap sampai tiga buku! Di Teluk Kendari, beberapa perahu nelayan tengah berlayar mengangkut ikan tangkapan.

Pustaka Kabanti melakukan program Gerakan Literasi Teluk Kendari sepanjang tahun 2016 sampai 2017 ini. Saya tidak pindah tempat, tetapi setia di teluk yang terancam pendangkalan ini. Niatnya adalah ingin terus-menerus menggelorakan semangat mengantar buku, berbagi ilmu, membaca, dan menulis agar tercipta ekosistem kecil literasi di sana.

Alhamdulillah, tahun 2017, saya memantapkan hati, setelah melhiat antusiasme warga dan anak-anak di sana, saya dirikanlah Pustaka Teluk Kendari yang berlokasi di rumah Usman Tatto, persis di bibir teluk. Putrinya yang bernama Riski Agusman saya percayakan sebagai kordinator di sana.
***

Langit Kendari cerah. Hanya beberapa gerombol awan seputih kapas menggelantung di atas sana. Hutan-hutan subur nan hijau, menghampar sepanjang Anduonohu, Renomeeto, dan Abeli. Hutan-hutan di Kendari tersebut ikut mengirim cuaca cerah pada penerbangan saya pagi jelang siang itu.

Yah, 1 Mei 2017, saya berangkat dari Bandar Udara Haluoleo Kendari. Setelah menempuh sekitar 3,5 jam, akhirnya tiba di Jakarta. Sejak kedatangan saya pertama kali ke Jakarta tahun 2005 silam sampai saat ini (2017) langit Jakarta tidak berubah warnanya. Tetap kelam. Bahkan duhulu, saya kira ada kebakaran dari jauh, sebab tampak ada asap pekat yang menyelimuti belantara gedung. Kini saya tak kaget lagi.

Langit Jakarta memang memiliki kadar polusi yang cukup tinggi.

Dari Bandara Soekarno-Hatta, saya naik damri, dan turun tak jauh dari istana. Saya, juga teman-teman lain, menginap di Hotel Sriwijaya.

Memasuki halaman hotel, ternyata di sana sudah ada beberapa kendaraan dari Pustaka Bergerak seperti Bendi Pustaka dan Motor Pustaka.

Saya langsung menuju meja resepsionis untuk menanyakan kamar saya. Saya sekamar dengan Wilfried Labuan dari Nusa Tenggara Timur, seorang pastor yang taat dan aktif menggerakkan literasi di sana. Literasi telah mempertemukan kami dalam suasana keberagaman.
***

Pagi yang berkah. Jakarta bagai seorang ibu, menerima segala keluh-kesah, juga harapan-harapan baru. Tetapi, langit Jakarta masih tetap kelabu. Kelabu yang abadi. Lalu-lalang kendaraan pagi itu mengarus tiada henti. Arus yang abadi. Macet sudah dimulai sejak fajar menanggalkan pakaian beningnya. Macet nan abadi. Inilah pekerjaan terbesar presiden dan juga gubernur DKI: mengurai kemacetan. Tantangan abadi bagi siapapun pemimpin di republik ini. Tetapi bagaimana mungkin kemacetan diurai, jutaan kendaraan memenuhi jalan-jalan ibukota tercinta ini? Saya setuju dengan sebuah gagasan: ibukota harus dipindah!
***

Pagi, 2 Mei 2017, tepatnya Hari Pendidikan Nasional. Itulah sebabnya Presiden Jokowi mengundang kami dalam momentum semangat pendidikan. Semua penggiat literasi sejumlah 38 orang sudah berkumpul di teras hotel. Di sanalah saya bersua lagi dengan Firman Venayaksa, Ridwan Alimuddin, Vudu Abdul Rahim, Nero Taopik Abdullah, Melvi, dan Wilfried Labuan teman sekamar saya. Melvi yang juga pengurus Forum TBM, banyak memberi masukan terkait dengan perjalanan kami ke istana pagi itu.

Di sinilah letak kecerdasan seorang Jokowi: mengundang tokoh-tokoh informal, pinggiran, antimainstream, dan nyentrik yang bergerak di bidang kebudayaan, khususnya literasi, kerja tanpa pamrih dalam semangat kerelawanan ini. Begitulah batin saya berkata.

Sebuah pesan dari pihak istana masuk ke ponsel Firman Venayaksa bahwa tepat pukul 10.00 pagi, mobil istana akan datang menjemput. Kami sudah harus siap sebelumnya.
Selaku Ketua Forum TBM Indonesia, Firman menyiapkan 8 butir rekomendasi yang akan diserahkan ke presiden nantinya. Kawan-kawan dari Pustaka Bergerak Indonesia juga siap. Sebuah gerobak pustaka dengan kepala banteng di bagian depan atapnya, sudah siap menderum ke istana pagi itu. Sebuah Angkot Pustaka, siap membuat sejarah: memasuki istana milik orang nomor satu di negeri ini.

Jarum jam berderak. Tak lama kemudian dua mobil hitam tiba. Seorang staf kepresidenan turun dan mengajak kami berbaris dan melakukan penghitungan. Saya jadi ingat masa-masa SMA tatkala ikut paskibraka. Setelah dianggap lengkap, kami lalu naik mobil. Sebuah perjalanan yang akan tak saya lupakan. Bukan semata-mata karena ke istana atau bertemu presiden, tetapi lebih dari itu, mengapa saya diundang ke istana.

Kami melewati salah satu sisi Masjid Istiqlal yang megah itu. Ini tidak hanya pengalaman sosial, tetapi juga pengalaman spiritual. Amalan sosial dan amalan agama bersekutu jadi satu.

Saya lupa dari sisi sebelah mana kami masuk ke istana pagi itu. Saat mobil yang kami tumpangi berdepan-depan dengan pagar tinggi istana, tiba-tiba pagar itu lenyap ke dalam bumi! Aneh, sebab biasanya pintu pagar digeser ke kiri atau ke kanan. Oh, jadi begini rupanya yah. Pagar istana itu tidak bergeser ke samping, tetapi lesap ke bawah.

Pemeriksaan pertama dimulai. Sejumlah pasukan bersenjata lengkap penjaga pintu pertama itu, bekerja. Semua barang bawaan kami harus melewati sinar detektor. Semua kendaraan diperiksa satu per satu. Kami lalu masuk ruang area istana.

Kami diarahkan ke sebuah gedung megah. Di sana, barulah kami akan mengambil surat undangan secara resmi itu. Akan tetapi, pemeriksaan kedua menanti. Semua jenis barang bawaan kembali melewati sinar detektor. Aparat bersenjata berjaga-jaga dan mengawasi.

Kami kembali ke luar, bagian depan Istana Negara berlambang Burung Garuda itu untuk berhimpun. Sempat muncul desas-desus bahwa Tuan Presiden tidak ada. Ia lagi di luar negeri. Wah, jadi siapa dong yang akan menjamu kami.

Persis ketika kami di hadapan istana itulah, kami memanfaatkan momen bersejarah itu. Kami berfoto bareng.

Saya lalu menghubungi dua rekan jurnalis di Kendari untuk memberitakan kehadiran saya di istana. Dua sahabat saya tersebut adalah Muhammad Taslim Dalma dari zonasultra.com dan Didul Interisti dari sultrakini.com. Mereka siap. Teks mentah berita dari istana saya kirimkan, foto juga saya kirimkan.

Tak lama berselang, kami diarahkan masuk ke gedung istana, tempat kami akan dijamu Sang Presiden. Wartawan istana menyongsong kami dengan sorotan kamera.

Inilah pemeriksaan ketiga atau terakhir. Semua barang-barang bawaan harus kembali melewati mesin pemeriksaan. Ini lebih ketat lagi. Semua telepon genggam harus dititip. Rencana kami bersama buyar, yakni ingin ber-swafoto (selfie) dengan presiden.

Apa boleh buat, memang tidak mudah bersua dengan presiden. Ada aturan ketat harus diikuti. Bukankah dia adalah orang terpenting di negeri ini yang harus dipastikan keselamatannya?

Kami melenggang masuk ke pintu istana. Paspampres sudah berderet sejak dari depan pintu sampai ke dalam. Mereka masih muda-muda. Barangkali masih 20-27 tahun belaka. Tubuhnya atletis dan bugar. Di telinga mereka terpasang alat pendengar dan juga sejenis hadset untuk berbicara. Akan tetapi mereka sangat ramah.

Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuhu, batin saya. Saya telah memasuki gedung bersejarah ini. Gedung tempat Soekarno pernah memimpin negeri ini di masa-masa awal kelahirannya. Presiden pertama tersebut adalah proklamator, tokoh jenius, pemersatu, tetapi harus lengser dengan cara yang tragis.

Di Istana Merdeka ini juga tempat bersemayamnya Presiden Soeharto selama 32 tahun lamanya. Terlama dalam sejarah Indonesia. Akan tetapi, mengikuti pendahulunya, ia harus mengundurkan diri sebagai orang nomor satu Indonesia tahun 1998, setelah mendapat demo besar-besaran dari mahasiswa, dan tokoh reformasi.

Ruang istana itu megitu megah, klasik, sunyi, magis, dan terasa spiritual. Pilar-pilar besar menopang langit-langit istana yang tinggi. Gambar-gambar besar presiden Indonesia terpasang di sisi kiri pintu masuk. Lampu-lampu kristal menggelantung. Saya termenung dalam suasana meditatif. Di gedung inilah banyak rencana besar bangsa diguratkan. Dari sinilah sejarah banyak berawal.

Yah, di ruangan ini juga Presiden Habibie memimpin negeri dalam waktu yang singkat. Saya jadi ingat sebuah buku karangan beliau sendiri, saat-saat menentukan ketika memulai tugas sebagai presiden.

Yah tak lama berselang, Habibie lalu digantikan oleh Presiden Abdurrahman Wahid yang didampingi Megawati sebagai wakilnya. Gus Dur hanya bertahan selama dua tahun (1999—2001), lalu diganti oleh Megawati.

Di istana ini jugalah Soesilo Bambang Yudoyono (SBY) tampil menjadi presiden terpilih bersama Jusuf Kalla sebagai wakilnya, tahun 2004—2009, lalu terpilih lagi pada 2009—2014 yang didampingi Boediono sebagai wakilnya. SBY dan JK adalah pasangan yang pertama dalam sejarah Indonesia, terpilih melalui pemilihan umum.
Saat ini, saya sementara berada di istana yang dihuni Presiden ke-7 Indonesia, Joko Widodo. Ia didampingi oleh Jusuf Kalla sebagai wakilnya. Presiden yang mengundang jamuan makan siang para pegiat kebudayaan yang bertajuk Temu Pegiat Literasi Inspiratif. Hanya hitungan berapa bulan antaranya ketika Raja Salman, pemimpin tertinggi Kerajaan Arab Saudi, juga berada di ruangan ini. Kami terasa terhormat mendapat undangan itu. Kami berada di ruangan itu untuk membicarakan sebuah gerakan kebudayaan, khususnya di dunia literasi. Dunia keberaksaraan.
***

Karpet-kerpet istana begitu tebal berwarna merah. Dindingnya disaput warna krem yang permai. Karena usianya yang sudah lebih dua abad, istana ini pantas saja ia berbau purbawi. Pilar-pilar tinggi seakan menopang sang waktu, sang sejarah. Puluhan wartawan sudah menanti kami dalam barisan tertentu. Dalam hati, saya berdoa, “Ya Allah perkenankanlah anak-cucu saya kelak ke istana ini di kemudian hari, karena prestasi dan kebaikan untuk bangsa”.
***

Yah, inilah istana yang mulai didirikan sejak 1796 pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Pieter Gerardus van Overstraten. Prosen pembangunannya selesai tahun 1804 pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Johannes Siberg. Gedung tersebut semula merupakan rumah peristirahatan luar kota milik pengusaha Belanda, J A Van Braam (Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Istana_Negara). Kini ia menjelma “rumah rakyat” yakni rumah bagi pemimpin yang dipilih dan dipercaya rakyat untuk tinggal di sini. Usianya sudah mencapai angka 221 tahun. Betapa tuanya. Sungguh abadi!
Kami lalu diarahkan dalam dua kelompok, sebelum duduk. Kami akan langsung melewati sesi pemotretan.

Ternyata desas-desus yang semula beredar bahwa presiden tidak ada, tidak benar adanya.

Buktinya, seseorang bertubuh kurus dengan senyum lebar yang membuat matanya menipis itu datang dari arah kiri, persis di sebelah pintu masuk, tempat saya berdiri paling ujung. Saya mengamati dari jarak paling dekat dengan sosok yang dipercaya rakyat itu menjadi presiden sejak tahun 2014.

Pak Presiden langsung di arahkan masuk ke tengah kelompok kami untuk berfoto. Ia didampingi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Muhadjir. Apa boleh buat, saya berdiri paling ujung kiri dalam momen itu.

Sesi kedua pemotretan untuk kelompok dua juga berlangsung. Setelah itu, Presiden mengajak kami duduk.

“Ayo duduk di sini, kita ngobrol” begitu ajakan pertama Presiden.
Meja memanjang yang diapit kursi-kursi antik, terhidang. Presiden menuju ke bagian tengah meja. Kami lalu berupaya duduk di dekat presiden. Tetapi ternyata setiap kursi punya nama. Jadinya kami mencari nama masing-masing. Nama saya tertera di ujung meja, SYAIFUDDIN. Itulah sebabnya ketika sebuah foto di kompas.com dengan sudut pengambilan dari depan, saya terkesan duduk sebagai fokus dan seakan-akan memimpin pertemuan. Di media sosial, beredar komentar bahwa kursi itu, biasanya digunakan Jokowi saat memimpin rapat kabinet. Wah.

Pembicaraan dimulai dengan sambutan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang mengabarkan kepada presiden bahwa kehadiran pegiat literasi ini mewakili sekitar 6000 penggiat di seluruh Indonesia. Lantas, ia persilakan presiden berbicara.

“Terima kasih bapak-ibu semua telah memenuhi undangan saya. Saya telah mendengar semua apa yang bapak-ibu lakukan di daerah. Sesuatu yang luar biasa.”

Kami menikmati kalimat demi kalimat yang meluncur dari ucapan Sang Presiden.

“Bagaimana kalau kita mendengar langsung pengalaman kalian bersama komunitasnya.”
“Tetapi kita nonton video dulu yah.”

Kami lalu menonton video dan foto para penggiat literasi melalui dua televisi besar. Puluhan wartawan membidikkan kameranya.

Usai tonton video, Presiden kembali memulai pembicaraan, tanpa moderator. Beliau sendiri yang memimpin pertemuan dengan santai.

“Saya telah mendengar semua cerita perjuangan bapak-ibu. Ada yang pake motor, perahu, bendi, dan gerobak” lanjutnya
“Ayo, siapa duluan yang mau cerita pengalaman masing-masing.”

Lalu dimulai kisah-kisah dari laut, lembah, ngarai, gunung, kota, dan desa itu. Ridwan Alimuddin dari Perahu Pustaka Mandar menyampaikan petualangannya mengantar buku dari pulau ke pulau, dermaga ke dermaga. Pak Misbah dari Noken Pustaka, turut berbicara mengenai lika-likunya mengantar buku di bumi Papua.

Firman Venayaksa, Ketua Forum TBM Indonesia berbicara mengenai kondisi literasi Indonesia. Ia menyerahkan semacam rekomendasi kepada presiden berisi 8 Bulir Pesan Literasi.
***

Presiden pun berbicara yang sangat berkesan di lubuk hati saya. Sebuah pandangan yang menjadi poin penting pada pertemuan kami itu.

“Saya harus jujur katakan bahwa ternyata ada langkah penting yang kalian lakukan tetapi justru kami tidak pernah pikirkan di sini (istana).”
“ Langkah yang kalian lakukan itu adalah mengantar buku ke pelosok terjauh yang selama ini tidak terjangkau buku.”
“ Perjuangan yang tanpa pamrih itu telah memutus mata rantai kebodohan dan keterbelakangan sebagian anak-anak Indonesia.”
“Kerja bapak-ibu, sekaligus membuka cakrwala baru bagi upaya pencerdasan anak bangsa.”
***

Saya terkesan sekali dengan apa yang dikatakan presiden. Ia adalah sosok yang mendengar dan memberi ruang maksimal kepada kami untuk curhat. Ia adalah seorang humanis dan memandang manusia secara egaliter.

Ia lanjutkan, “Apa yang kalian lakukan itu adalah sebuah kerja tanpa pamrih, penuh keikhlasan, untuk mendorong minat baca anak yang rendah.”

Langsung saja Nirwan Ahmad Arsuka, pendiri Pustaka Bergerak Indonesia, menjawab.
“Saya kira kita jangan mengulang kesalahan anggapan yang sama, bahwa minat baca anak Indonesia itu rendah. Itu hanya benar dalam angka statistik saja. Karena di lapangan tidaklah demikian. Hal yang benar adalah minat baca anak Indonesia sangat tinggi, tetapi ketersediaan buku yang tidak memadai” demikian Nirwan berbicara.

“Apa yang dilakukan oleh teman-teman di daerah sudah membuktikan hal itu” lanjutnya. “Ketika buku mereka antar, langsung diserbu oleh anak-anak yang selama ini tidak pernah melihat buku.

Nirwan terus menyampaikan gagasannya.
“Kendala kita adalah karena Indonesia adalah negera kepulauan sehingga pengiriman buku sangat mahal.”

“Saya usulkan, jika ada yang disebut car free day¸ maka kenapa tidak ada yang disebut cargo for literacy, yakni sehari dalam sebulan bebas biaya pengiriman buku ke setiap komunitas di berbagai di Indonesia”.

“Jika ini terealisasi maka para dermawan akan dapat membantu mengirim buku dan anak-anak kita di berbagai pelosok akan menerima dan membaca buku-buku itu” terangnya.
“Seandainya hal ini terealisasi, maka Indonesia akan diikuti oleh negera-negara Afrika dan Amerika Latin” sambung mantan Redaktur Bentara Kompas, tersebut.

Masih banyak kawan-kawan lain yang turut berbicara di kesempatan itu, tetapi sudah samar di ingatan saya.

Jika tidak salah ingat, sebelum menjawab, Jokowi mengajak kami makan siang yang sudah disiapkan.

Presiden belum langsung menanggapi pendapat Nirwan. Beliau mengajak kami makan siang bersama.
“Ayo kita makan siang dulu. Bapak-ibu pasti sudah lapar yah” ajaknya santai.
***

Kami pun bangkit. Presiden berada di depan, kami antri di belakang. Hal yang membuat saya kembali terkesan adalah beliau mengambil sendiri makanannya dari makanan yang juga kami makan, di meja perjamuan yang sama. Tidak ada perbedaan di sini.

Sambil makan kembali diskusi dibuka. Saya harus memanfaatkan momen ini, batinku. Jika tidak, saya akan menyesal tiba di Kendari sebab tidak sempat menyampaikan pengalaman dan harapan di hadapan Presiden.

“Mohon izin Pak Presiden, saya dari Kendari” kata saya sambil berbicara lewat pelantang.

“Oh dari Kendari, silakan.”

“Saya Syaifuddin Gani, pendiri dan pengelola Pustaka Kabanti. Pustaka saya berlokasi di halaman rumah saya yang berada di kompleks perumahan. Pembaca pertama pustaka saya adalah keluarga, lalu warga, terutama anak-anak di kompeks perumahan.”

Saya lalu sampaikan bahwa Pustaka Kabanti dibuka setiap hari dan pengunjung utamanya adalah anak-anak usia SD, SMP, dan juga SMA. Selain itu juga sering dikunjungi sesame penggiat komunitas dan mahasiswa. Pustaka Kabanti memiliki program Gerakan Literasi Teluk Kendari, yakni mengantar buku ke Teluk Kendari untuk anak-anak nelayan di sana. Selain itu, untuk mengguratkan jejak literasi, setiap Minggu saya mengadakan Program #KompleksPuisi yakni pelatihan baca, tulis, dan diskusi puisi bagi anak-anak kompleks. Akan tetapi kendala saya adalah masih minimnya buku dan terbatasnya alat transportasi untuk mengantar buku ke berbagai tempat.

Saya lega, sudah berbicara di momen itu.
***

Presiden lalu berbicara, juga menanggapi yang disampaikan Nirwan Ahmad Arsuka.
“Saya sepakat apa yang disampaikan Pak Nirwan tadi, bahwa minat baca anak kita tinggi tetapi ketersediaan buku yang terbatas.”
“Tadi saya sudah telepon Menteri BUMN untuk segera mendukung rencana ini, yakni pengiriman buku gratis setiap bulan.”
“Tadi saya juga sudah telepon Dirut PT Pos Indonesia untuk segera melaksanakan kebijakan ini.”
“Untuk sementara, PT Pos yang akan mengawal program ini, karena bisa kita kendalikan.”

Kami serentak tepuk tangan sebagai perayaan kegembiraan dan senang atas kebijakan yang diambil Presiden saat itu juga. Alhamdulillah. Sebuah keputusan yang cepat, taktis, dan strategis.

Tetapi bukan hanya itu, masih ada hadiah dari Presiden kepada kami.

“Selain itu, saya akan mengirim buku 10.000 setiap titik.’
“Di sini ada Pak Muhadjir. Di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, kan banyak uangnya, to.”
Pak Menteri Muhadjir mengangguk tersenyum dan kami pun semua tersenyum dan tertawa.
***

Pertemuan pun berakhir. Dugaan saya, Presiden akan langsung pergi. Tetapi ternyata belum. Di luar agenda protokoler, ia meminta sesi foto per orang. Jadilah kami diabadikan oleh fotografer istana bersama Presiden Jokowi. Saat antrian itu tiba kepada saya, saya sampaikan, “Saya Syaifuddin Gani dari Pustaka Kabanti Kendari, Pak Presiden.”

“Oh Kendari yah.”

Klik. Fotografer istana mengabadikannya.

Jadilah saya berpose bersama sang nomor satu di negeri ini.

Sementara itu, Presiden Jokowi sudah melenggang keluar. Ia didampingi Pak Muhadjir, asisten, paspampres, dan Nirwan Arsuka. Tak lama kemudian muncul Melvi dan mengajak Firman Venayaksa ikut rombongan Presiden. Nah, di momen itulah, Presiden menaiki Motor Pustaka yang diabadikan wartawan dan menjadi pemberitaan di media.
***

Kami lalu antri kembali di ruang yang memampang foto-foto presiden Indonesia. Saya tiba-tiba berada masa lain. Tersedot ke masa silam.

Saat memandang Soekarno teringat perjuangan fisik yang melelahkan, memakan korban jiwa yang besar. Terpampang di imajinasi saya saat pemuda-pemuda Indonesia mendesak Seokarno dan Hatta untuk segera mengumumkan kemerdekaan Indonesia, di bulan Agustus 1945. Bahkan tanggal 16 Agustus 145, Soekarno-Hatta sempat diculik para pemuda ke Rengasdengklok, dalam suasana genting, untuk mendesaknya segera nyatakan proklamasi kemerdekaan. Lalu tibalah tanggal 17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur, Soekarno didampingi Hatta, membacakan Naskah Proklamasi yang menyatakan kemerdekaan Indonesia.

Hari ini, yakni 2 Mei 2017, masa berjarak 72 tahun ketika tanggal 17 Agustus 1945, Presiden Jokowi membacakan “naskah proklamasi” yang lain yakni pengumuman pengiriman buku gratis ke seluruh wilayah Indonesia, satu hari dalam setiap bulannya. Jika Soekarno mengumumkan kemerdekaan dari penjajahan Belanda dan Jepang, Jokowi memproklamirkan kemerdekaan Indonesia yakni berbagi buku berbagi kemerdekaan. Sebab membaca buku adalah memberi rasa kemerdekaan bagi rakyat Indonesia untuk cerdas, berimajinasi, berpikir, dan berkarya bagi bangsanya! Genaplah Indonesia sebagai Negara Kepulauan yang dihubungkan oleh buku-buku antarpulau, yang digerakkan oleh kaum penggiat literasi inspiratif!
***

Kami, masing –masing undangan menerima puluhan buku cerita nusantara yang disiapkan dalam tas besar bertuliskan “Hadiah Presiden Joko Widodo”. Bahkan, pada saat meninggalkan meja jamuan sebelumnya, saya mengambil nama saya yang tersemat di papan nama di meja. Tatakan gelas teh dan bungkus gula pun saya amankan di dalam amplop undangan. Ternyata, banyak sebagaian besar dari kami melakukan hal yang sama.
***

Perjamuan berakhir. Kami meninggalkan Istana Negara nan megah itu. Kami tidak langsung ke hotel. Ada dua undangan yang beredar siang itu. Satunya ke acara Najwa Sihab di salah satu tempat di Jakarta dan Temu Pegiat Literasi di Kemdikbud, Senayan. Kami terbagi dua. Saya memilih undangan Kemdikbud. Di sana kami bertemu dengan pegiat taman baca yang juga Pengurus Forum TBM seperti Wien Muldian, Ariful Amir, dan Virginia Evi. Juga bersua dengan Pak Samto dan Pak Alipi.

Tak lama berselang hadir pula Prof. Dadang Sunendar, kepala Badan Bahasa yang juga Ketua Gerakan Nasional (GLN). Beliau didampingi Sekretaris Badan Bahasa, Ilza Mayuni. Prof. Dadang menyampaikan selamat kepada kami yang telah mendapat undangan istimewa dari Presiden Jokowi. Beliau meminta kami untuk mendukung GLN yang dipimpinnya, setelah kembali ke daerah masing-masing.

Di sela-sela pertemuan itu, muncul Melvi, slah seorang pengurus Forum TBM, sambil membawa foto dari istana. Kami lalu mengerubuti sang foto untuk difoto lagi dan disebar ke media sosial. Saya mencari fotoku dan segera meng-klik-nya dan saya kirim ke dua media daring di Kendari. Hanya hitungan menit saja, dua media itu menayangkan masing-masing dua berita tentang pertemuan saya dengan presiden. Tautan berita tersebut bahkan dibagikan ratusan kali dan mendapat tanggapan luas di Kendari, juga dari kampung asal saya, Salubulung, Kab.Mamasa, Sulawesi Barat.

Usai pertemuan itu, saya, Firman Venayaksa, Ariful Amir, Amel, Wien, dan Opik berkunjung ke ruangan Pak Samto. Di sana kami menyeruput kopi literasi dan dapat menghirup rokok. Kami lalu berkisah tentang perjuangan literasi dan dukungan Kemdikbud bagi TBM di berbagai pelosok tanah air. Pak S
amto memberi kami hadiah berupa baju kaos bergambar wajahnya yang bertuliskan “Membaca adalah Bermimpi dengan Mata Terbuka”. Sebuah pesan literasi yang sangat menggugah.

Terima kasih Presiden Jokowi atas undangan ini! Saya kembali ke Kendari dengan beban semakin berat: terus berjuang di lapangan literasi!

Nama bapak akan kami ceritakan ke anak-istri kami, keluarga kami, kampung halaman, dan masyarakat kami. Terutama kami akan guratkan nama bapak dalam jejak literasi kami!

Pustaka Kabanti Kendari, 7 Juni 2017

Penulis :

Total Views : 305 , Views Today : 2 

%d blogger menyukai ini: