Di Tepi Sungai UHO, Madecca Coffee Rindang Berdiri

Di tepi sungai Universitas Haluoleo Kendari, kedai itu berdiri. Madecca Coffee namanya. Berpijak di area taman kampus.

Lokasinya di pinggir ujung dalam kampus. Berderet dengan warung lesehan yang sudah tidak terpakai. Tidak berjauhan dari Asrama Putra Bidik Misi. Depan Perumahan Dosen.

Kedai ini dinaungi dengan pohon ketapang yang rindang. Di sekitarnya, juga terdapat banyak pohon yang masih alami. Pepohonan itu mengelilingi sungai dan kedai.

Berada di Madecca, seakan menyatu dengan alam secara langsung. Saya tertarik untuk nimbrung, memesan kopi, dan menuliskan cerita ini.

Kebanyakan pengunjungnya adalah mahasiswa. Bila hari telah siang, kedai ini mulai dikunjungi. Hingga sore datang, satu persatu orang mulai duduk menikmati kopi. Malam adalah waktu padat kunjungan.

Dilingkari oleh dinding-dinding gipsum tebal yang tidak terlalu tinggi, sungai di sampingnya jadi tidak terlihat. Pandangan jadi tertuju pada rimbun pohon di atasnya. Juga pada langit biru dengan bercak awan putih.

Dihalau oleh dinding gipsum itu, kata-kata dari setiap lingkaran meja pengunjung jadi saling memantul mengitari sudut ruangan. Suara deru sungai dibalik gipsum masih tetap kendengaran. Walau hanya sayup-sayup, suara itu jadi semacam ambience penghangat suasana.

Di malam-malam yang dingin, pengunjung Madecca terkadang memperlihatkan sisi intelektualitasnya. Dimana kedatangan pengunjungnya bukan hanya datang minum kopi, atau memadu kasih dengan pasangannya. Tetapi juga saling beradu gagasan. Begitu biasa yang terlihat.

Sehingga itulah alasan saya berkunjung di Madecca tidak cukup jika hanya satu kali.

Saya biasa memilih bangku di luar. Agar bisa melihat pemandangan dari banyak sisi.

Di bangku ini, selain bisa melihat suasana ruang dalam Madecca, saya sekaligus bisa melihat pasangan muda-mudi dan anak anak kampus yang berjalan beriringan di jalan raya sambari bercerita. Entah mereka bicara apa. Dua kuping ini tentu tidak mampu menampung semua pendengaran. Duduk di sini adalah tentang untuk memanjakan mata.

Di bangku yang sedang saya tempati ini, juga sering memperlihatkan romantisme jalan raya. Bagaimana anak muda-mudi diatas motor sering lewat sambil boncengan. Dari belakang, pasangan yang dibonceng kadang memeluk dari belakang tanpa suara. Dari eratnya pelukan, pemandangan cinta di jalan raya seperti itu adalah sebuah lalu lalang ketulusan.

Kembali ke area dalam Madecca. Pada sudut-sudut ruang kedai, saya melihat sekelompok orang sedang serius bermain catur. Melihat mereka, saya teringat film The Queens Gambit yang diresensi oleh abangda Riqar Manaba. Dari kerutan wajah yang dikeluarkan, yang saya bisa tangkap dari permainan mereka adalah bagaimana dalam mengolah strategi, suasana santai dan serius bisa berada pada ruang dan waktu yang bersamaan.

Di dinding ruangan kedai ini juga terdapat beberapa lukisan yang absurd. Lukisan itu ditempel pada rata-rata tengkuk barista. Saya ingin menanyakan arti lukisan itu, tapi tidak jadi. Biarlah dia diinterpretasikan oleh yang melihat. Lagi pula ini bukan di tempat pameran lukisan, dan belum tentu barista yang berdiri di bar itu adalah pelukisnya.

Saya tertarik dengan buku-buku yang di pajang di pinggir toples kopi. Kelihatannya buku-buku itu baru selesai dicetak. Plastiknya masih baru. Belum terbuka. Saya menanyakan buku itu pada barista. Dia mengatakan bahwa buku yang dipajang itu adalah kepunyaan anak Hukum di UHO. Fajar penulisnya. Tetapi menggunakan nama pena, Sabda Lara. Buku itu adalah sebuah novel. Judulnya Catatan Semesta. Memang buku itu belum lama dicetak. Madecca membantu memperkenalkan buku itu. Siapa tahu ada yang terpesona, membelinya, lalu terinspirasi.

Interior pada ruangan kedai ini terlihat tertata rapih dengan sepenuh hati. Kebanyakan tempat duduknya dirakit dengan menggunakan kayu. Ada juga tripleks. Tapi itu hanya khusus kursi di dalam warkop yang beratap. Sementara yang tidak beratap dibikinkan kursi kayu. Kayu-kayu yang dibentuk bundar.

Kursi-kursi itu mengelilingi meja yang dibuat berpetak-petak. Beberapa ruangan sengaja dibuatkan di luar tanpa atap. Mungkin agar pengunjung dapat bersentuhan langsung dengan matahari di pagi sore, serta cahaya bulan dan embun tipis pada malam.

Pada sisi yang lain, ada beberapa tanaman bunga. Bunga talas yang tumbuh subur menghampiri tingginya dinding gipsum. Sementara di ruangan yang beratap ada satu bunga yang tumbuh di dalam pot. Yang diletakan persis di atas kulkas.

Saya merasa berada di suasana yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya.

Oh, iya. Saat ini saya seperti sedang menginjak sesuatu yang tidak rata. Kalian penasaran ini apa? Di bawah kaki saya ini batu kerikil. Di depan pintu masuk kedai ini ditaburi kerikil. Begitupun pada area dalam yang tidak beratap. Barangkali tujuannya supaya saat hujan nanti pengunjung tidak terjiprat terkena tampias air hujan. Dan air hujan tidak tergenang di halaman kedai.

Rasa-rasanya sudah terlalu panjang saya bercerita.

Pemilik kedai datang menghampiri saya. Saya melempar senyum padanya. Sebagaimana dia menyambut saya dengan sepenuh hati.

Saya memanfaatkan momen ini untuk dapat informasi lebih tentang kedai ini. Saya melempar pertanyaan, kenapa bikin kedai ini? Ia senyum. Lalu duduk di sampingku. Dan kami mulai terlibat dalam percakapan di bawah pohon nangka.

“Saya sengaja bikin dua ruangan yang bersambungan secara langsung. Ruangan yang beratap dan tidak beratap. Pengunjung dipersilakan untuk memilih sesuai selera.” Begitu katanya

Soal pertanyaan awal, itu hanyalah pancingan agar mendapat perhatian. Tentunya orang bikin kedai untuk bisnis.

Saya masih menyimak penjelasannya sembari sesekali menyeruput kopiku sedikit-sedikit. Sebab perbincangan baru dimulai, namun kopiku mulai mendekati dasar cangkir. Sudah mau habis.

Ingin pesan lagi, tapi ini sudah cukup. Ingin beranjak ke kost, tapi kami sedang asik cerita. Saya terjebak oleh suasana yang saya bikin sendiri. Apa enaknya ngobrol tanpa kopi.

Untung ada pengunjung yang baru datang. Ia memesan ayam geprek madecca yang hanya bisa dibuat oleh pemilik kedai.

Saya selamat. Kopiku kuhabisi dengan sekali seruput. Lalu beranjak pamit ke kost.

Sebelum ke dapur menyiapkan pesanan dari pengunjung itu, pemilik kedai tadi sempat menjelaskan alasan memilih nama Madecca sebagai nama kedai.

Kata dia, “nama madecca ini hanya sepintas lalu. Saya tidak terlalu berpikir panjang untuk memutuskan nama ini. Madecca maknanya bisa luas. Dia semacam bunyi. Terpantul. Dan bergaung. Harapannya, biar kedai ini kecil dan berada di sudut kota, tapi bisa bergaung di luar sana. Dan semoga gaungnya positif. Biar ini tempat bisa jadi ruang publik bagi semua kalangan.”

Teman-teman tentu curiga dengan kata-kata pemilik kedai yang ngomongnya sangat terstruktur, bukan? Ya, secara jujur itu bukan kata-katanya. Ini adalah intisari dari kata-katanya yang saya narasikan ulang.

Saya musti bikin keren pemilik kedai ini. Karena kalau tau aslinya, ngomongnya pemilik Madecca ini kental dengan okkots. Biasa kekurangan kata, lebih sering kelebihan kata.

Semoga ketika cerita ini dibagikan, pemiliknya membacanya jadi senang. Agar ketika nanti saya datang nongkrong lagi, saya bisa dapat kopi gratis.

Penulis :

Total Views : 1,746 , Views Today : 4 

%d blogger menyukai ini: