Deras Aliran Investasi yang Menggenangi Rumah Warga

Sumber daya utama dalam kehidupan manusia adalah tanah, air, dan udara. Tanah merupakan tempat manusia untuk melakukan berbagai kegiatan. Air sangat diperlukan sebagai komponen terbesar dari tubuh manusia. Sedang udara, merupakan sumber oksigen bagi pernafasan manusia. Lingkungan yang sehat akan terwujud apabila hubungan manusia dan lingkungannya dalam kondisi yang baik.

Hutan di indonesia perlu ditangani dengan serius, dikarenakan adanya beberapa faktor yang mempengaruhinya, salah satunya mengenai keadaan kehutanan dan lingkungan yang mengalami kemerosotan akibat munculnya investasi di sektor pertambangan dan perkebunan sawit.

Salah satu daerah yang jadi sorotan terbesar mengenai masalah kehutanan dan lingkungan adalah Sulawesi Tenggara. Masalah kehutanan dan lingkungan yang terjadi belakangan ini tidak terlepas dari campur tangan manusia, dimana manusia menjadi salah satu faktor penentu dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan, sekaligus memiliki peran dan tanggung jawab untuk memberdayakan kekayaan lingkungan guna kelangsungan hidup ekosistem melalui aturan-aturan yang berlaku.

Beberapa kasus menunjukkan bahwa banyak perusahan-perusahan dalam sektor pertambangan dan perkebunan sawit yang masuk di Sultra terbukti telah merusak sebagian daripada ekosistem hutan. Seperti kasus penebangan hutan secara liar, pembakaran hutan, dan pengelolaan lahan yang leluasa yang tidak memenuhi prosedural. Apalagi telah di sahkannya UU Cipta kerja dimana pada UU ini memberikan ruang yang besar terhadap perusahan-perusahan untuk beraktifitas dengan semena-mena tanpa di berikan hukuman yang tegas.

Dampak yang nyata terhadap kerusakan ekosistem lingkungan di Sultra dari beroperasinya perusahaan-perusahaan pada sektor pertambangan dan perkebunan sawit adalah banjir bandang.

Banjir di Sultra telah menjadi langganan setiap tahun terkhusus di daerah Kabupaten Konawe dan Konawe Utara. Yang terbesar adalah banjir yang terjadi pada pertengahan tahun 2019. Daya tampung dari sungai tidak mampu lagi menahan air yang jatuh dari langit karena kerusakan ekosistem yang parah, yang telah diakibatkan dari berbagai aktifitas perusahan pertambangan dan perkebunan sawit.

Pada Juni hingga Juli 2019, banjir di Kabupaten Konawe mengakibatkan 89.130 jiwa merasakan dampak banjir. 7.290 hektar sawah gagal panen. Saluran irigasi yang mengairi 9.000 hektar sawah hancur. 846 hektare perkebunan produktif rusak. Total kerugian yang ditimbulkan ditaksir mencapai Rp 700 miliar. Di Konawe Utara, 7 kecamatan terendam banjir. 18.765 warga terdampak. Ada 370 unit rumah hanyut dan 1.837 unit terendam air. Kerugian ditaksir mencapai Rp674,8 miliar lebih.

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menduga bahwa penyebab terjadinya banjir di Sultra karena adanya perubahan alih fungsi lahan serta perambahan menjadi perkebunan dan pertambangan sehingga ketika terjadi banjir di area terbuka menjadi mudah terjadi erosi tanah. Erosi tanah tersebut kemudian menjadi endapan di sungai yang menyebabkan pendangkalan dan pada akhirnya terjadi penurunan volume sungai.

Jauh hari, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menunjukkan data bahwa ekspansi tambang dan perkebunan sawit menjadi faktor utama terjadinya banjir di Konawe Utara. Dimana pada tahun 2001 hingga 2017 ada 45.6000 hektar lahan kehilangan tutupan pohon. Selain itu, sektor pertambangan dan perkebunan juga telah merusak hutan primer hingga 954 hektar dan hutan alam sebanyak 2.540 hektar.

Pada pasal 19 ayat 3 UU 22/2019 diterangkan bahwa syarat untuk ahli fungsi lahan antara lain dilakukannya kajian strategis, disusun rencana ahli fungsi lahan serta disediakannya lahan pengganti. Selain itu, Undang-undang No 41 Tahun 1999 menerangkan tentang kehutanan, mengatur tentang tumpang tindih pengggunaan lahan antara kegiatan kehutanan dan pertambangan. Jika saja aturan ini ditaati, rasa-rasanya banjir tidak akan menggenangi rumah-rumah warga.

Data dan temuan di atas, seharusnya bisa menjadi perhatian khusus oleh pemerintah terhadap penggunaan lahan dan perubahan penggunaan lahan di Sulawesi Tenggara. Jangan karena angka investasi yang masuk pada sektor pertambangan maupun perkebunan sawit bak derasnya aliran banjir, lalu menggenangi regulasi yang tidak lagi bisa mengendalikan situasi.

Penulis :

Total Views : 872 , Views Today : 2 

%d blogger menyukai ini: