Bunuh Diri dan Alasan Memilihnya

(Photo by Elijah O’Donnell from Pexels.com)

 

“Tiap-tiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.” Kira-kira seperti itu redaksi terjemahan potongan ayat pada Surah Al-Anbiya ayat 35 mengenai kabar kematian dari Tuhan. Ayat tersebut memberikan kabar bahwa kematian adalah sebuah kemutlakan yang tidak bisa ditawar. Kematian memang identik dengan akhir. Namun secara implisit, ia merupakan pintu menuju fase berikutnya. Ia adalah tanda. Dengan mati, seseorang telah menyempurnakan perannya di dunia. Tapi tunggu dulu, itu tidak mengindikasikan bahwa kematian adalah hal yang dirindukan dan pertemuan dengannya ingin disegerakan, meskipun malakul maut kapan saja bisa datang tanpa harus menunggu soal kesiapan.

Kali ini kita tidak membahas soal kematian. Kita hanya akan fokus berbicara tentang cara yang dipilih dalam menjemput kematian. Karena berbeda dengan kelahiran yang memiliki satu pintu, kematian menyediakan beragam pintu yang bisa dipilih. Salah satunya adalah bunuh diri.

Belum pudar dalam ingatan kabar kematian Chriss Cornel, vokalis band Audioslave dan Soundgarden setelah manggung di Detroit pada pertengahan tahun 2017 lalu. Hanya berselang beberapa bulan setelah kepergian sahabatnya itu, Chester Bennington, vokalis Linkin Park, legenda bagi generasi 90-an pun menyusul sang sahabat. Ironisnya, dengan jalan yang yang serupa; gantung diri. Chester menambah daftar panjang pelaku yang memilih pensiun sebelum usai masa tugas di kalangan para legenda. Seakan mewarisi pilihan para pendahulunya, seperti  Kurt Cobain, Marlyn Monroe, dan lain-lain.

Fakta ini tentu mengundang beragam respon dan tanya terkait motif dibalik tindakan mereka yang jauh dari kesan elegan. Apakah mereka sudah tiba di puncak depresi? Atau apa ini semacam pelarian dari kenyataan hidup yang mereka duga tidak lagi menyisakan kebaikan? Ataukah mereka merasa telah menyempurnakan tugas selaku abdi hingga tidak lagi ada alasan untuk tetap hidup? Persisnya tidak ada yang benar-benar tahu selain mereka sendiri dan Tuhan tentunya.

Harian Kompas pada 8 September 2016 lalu mengulas tentang kematian yang disebabkan oleh bunuh diri terus mengalami peningkatan di seluruh dunia. Di Indonesia saja data yang ditemukan menyatakan bahwa bunuh diri menjadi penyebab utama kedua kematian pada usia produktif kisaran 15-29 tahun. Jika dirincikan, peristiwa bunuh diri setidaknya merenggut satu nyawa pada setiap jamnya.

Emile Durkheim dalam karyanya yang berjudul “Suicide” (1897) berpendapat bahwa bunuh diri dapat dipicu oleh penyebab psikologis, biologis, dan fisika kosmis yang terkadang tidak bisa diterangkan secara eksakta. Kita hanya bisa menangkap gejala luar dan memberikan prediksi tanpa bisa mengukur dan menatapkan secara pasti dan akuratif alasannya.

Senada dengan tulisan “Fenomena Bunuh Diri” di Geotimes oleh Fadly Sentosa yang juga mengungkapkan bahwa secara subjektif, perasaan atau intensi bunuh diri menjadi suatu hal yang tidak dapat diteorikan secara absolut. Hal itu dikarenakan adanya perbedaan pengalaman interaksi historis yang bersifat subyektif dalam hubungan manusia itu sendiri. Nah, dari sini kita tahu bahwa pemicu bunuh diri tidak terlepas dari faktor internal individunya, seperti cemas, depresi, perasaan marginal, dan sebagainya. Juga faktor eksternal, seperti lingkungan sosial, sistem yang berlaku, keluarga, ekonomi, dan sebagainya. Namun sejatinya, sekali lagi yang mengetahui alasannya secara pasti hanya mereka dan Tuhan.

Berdasarkan pada faktor pemicunya, Durkheim mengelompokkan fenomena bunuh diri ke dalam tiga kategori. Pertama, bunuh diri egoistik. Bunuh diri ini dipicu oleh keterlepasan pribadi individu dari ikatan sosial. Artinya, individu yang tidak terintegrasi dan termaginalkan dari lingkungan sosial biasanya cenderung berfikir suicidal atau mengakhiri hidupnya. Perasaan tidak diterima dan berbeda dengan yang lain menumbuhkan rasa cemas dan depresi yang berlebih. Dan berujung pada tindakan yang mayoritas umat beragama melihatnya sebagai laku khianat terhadap qadha-Nya. Pada tipe egoistik ini, faktor internal atau kelemahan pada diri individu tersebut yang merupakan pemicu intinya.

Kedua, bunuh diri altruistik. Untuk kategori kedua ini dipicu oleh keberadaan dan pengaruh individu yang diduga mampu menyelematkan eksistensi kelompoknya, baik dari bencana atau hal lainnya. Biasanya bunuh diri semacam ini terjadi di dalam lingkungan komunitas yang masih primitif. Tipe altruistik ini merupakan bagian dari kepercayaan atau tradisi yang telah berlangsung lama dan dianggap sebagai bentuk persembahan. Makanya, bunuh diri senantiasa dilakukan secara sengaja dan sukarela. Selain bentuk persembahan pada sesuatu yang dianggap memiliki kekuatan, Seppuku atau Harakiri pada tradisi masyarakat Jepang termasuk dalam kategori ini. Seppuku atau Harakiri merupakan ritual bunuh diri dengan cara merobek perut, yang sejak dulu telah berlangsung dalam tradisi kebudayaan masyarakat negara Sakura. Hal itu dilakukan untuk memulihkan kembali nama baik setelah merasa gagal dalam menjalankan tugas atau menerima aib karena lalai dari amanah. Adegan ini bisa disaksikan di film-film Jepang yang mengisahkan aksi heroik para Samurai, The Last Samurai” dan “47 Ronin,” misalnya.

Ketiga, bunuh diri anomik. Bunuh diri kategori ketiga ini dipicu oleh perubahan sistem dalam masyarakat, baik sistem ekonomi, sosial, dan budaya yang menyebabkan gangguan kesejahteraan dan keamanan kolektif. Dampak dari perubahan sistem ini yang akan mempengaruhi psikologi individu. Hal ini mungkin kerap kita saksikan, baik melalui televisi, koran, atau bahkan secara langsung. Salah satu contohnya adalah regulasi di masa pandemik ini yang kadang tidak bersahabat bagi sebagian orang. Sebab, tidak sedikit di antara mereka, dapurnya berhenti mengepul sehingga berujung depresi dan memilih mati sebagai solusi. Selain soal himpitan ekonomi, era pandemik ini ternyata meningkatkan angka kematian dengan jalan bunuh diri. Seperti yang terjadi di Jepang. Pemicunya ada pada tekanan psikologis yang diakibatkan oleh regulasi pembatasan interaksi berskala besar atau lockdown. Menurunnya intensitas interaksi dalam durasi yang cukup panjang menyebabkan stres dan depresi berlebih sehingga berujung kematian. Maka, untuk mencegah hal tersebut berlanjut, Pemerintah Jepang mengambil tindakan membentuk Kementerian Kesepian dan menunjuk Sakamoto sebagai menterinya. Upaya ini dilakukan untuk menekan rasa sepi warganya akibat terisolasi secara sosial.

Keempat, bunuh diri fatalistik, bunuh diri kategori ini dipicu oleh kondisi tertekan secara berlebih akibat adanya aturan, norma, keyakinan, dan nilai-nilai dalam menjalani interaksi sosial sehingga menyebabkannya kehilangan kehendak dalam hubungan sosial tersebut. Karena kehendak merupakan nature dan bagian dari diri setiap individu, maka jika hal itu tercerabut dan tidak punya kendali atau power untuk merebutnya kembali, maka menjadi martir adalah pilihan yang dipandang paling tepat.

Pada peringatan Mayday tahun 2015, Sebastian Manuputi, seorang buruh memilih menjadi martir bagi rekannya sebagai bentuk protes terhadap ketimpangan kesejahteraan buruh dengan membakar diri dan melompat saat Ahmad Dhani dan bandnya tengah beraksi di stadion GBK. Aksi nekad yang ia lakukan terinspirasi dari dua kejadian serupa yang jauh terjadi sebelumnya, aksi nekad seorang buruh di Korea bernama Chun Tae II di depan kantor kepresidenan dan Sondang, seorang mahasiswa yang juga melakukan hal sama di depan Istana Negara.

Apa yang mereka lakukan, tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan oleh para prajurit Spartan saat menantang ribuan tentara Persia. Spartacus dan pasukan kecilnya memberontak kekaisaran Romawi. Pada salah satu peristiwa pemberontakan, Thalhah menerjang musuh demi membuka jalan untuk Rasulullah SAW saat terpojok di bukit Uhud, atau saat Socrates lebih memilih meneguk racun dibanding berdalih untuk membela diri saat persidangan tentang ideologi yang dibawanya. Semua adalah kasus bunuh diri kategori fatalistik, mati sebagai martir.

Sekalipun bunuh diri merupakan pilihan, namun tetap saja tidak dapat diterima apalagi disarankan untuk menempuhnya. Sangat tidak bijak pula jika sepenuhnya menyalahkan si pelaku. Sama sekali saya tidak membenarkan atau menyalahkan pelaku bunuh diri. Sebab tugas kita bukan memberi nilai. Itu otoritas-Nya. Namun sebaiknya diupayakan untuk meminimalisir kejadian-kejadian yang memicu tindakan tersebut. Bisa saja kita adalah pemicunya. Sebab, selain internal, pemicunya juga bisa berasal dari faktor eksternal. Semestinya yang dipikirkan adalah bagaimana menekan lonjakan angkanya dengan mengenali gejala dan pemicunya. Dengan mengenali gejala dan pemicunya, tindakan antisipatif bisa segera dirumuskan. Tidak akan ada yang ingin melukai diri sendiri, apalagi sampai menghabisi nyawa sendiri, kecuali dengan alasan yang tidak sanggup lagi ditolerir.

Waspada dengan sekelilingmu. Bukan tidak mungkin kalau seseorang yang berada di dekatmu berniat demikian. Sebab, hal ini berlaku dalam teori behaviourisme. Dalam teorinya, kecenderungan seseorang terbentuk berdasarkan kepribadian dan kepribadiannya terbentuk oleh lingkungan sosial di mana ia berada. Artinya, kita turut menyumbang kebaikan atau keburukan baginya jika ia berada dalam lingkaran sosial kita.

Memang dari sekian banyak aspek, bunuh diri akan selalu tampak sebagai wajah yang keliru. Apapun alasannya akan tetap salah di mata mayoritas umat. Jangankan mendapat simpati, empati, atau dukungan setelah mati, justru individu yang terlampau berani melakukan bunuh diri akan memperoleh sematan pendosa dan dipercaya neraka merupakan tempat kembalinya.

Nah, disinilah munculnya konsep assisted suicide atau euthanasia sebagai bentuk dukungan moralitas bagi individu pelaku bunuh diri. Assisted suicide dan euthanasia menjadi fenomena yang terkesan pro pelaku bunuh diri yang relatif baru dan juga kontroversial. Secara etimologi, euthanasia merupakan kematian terhormat atau kematian tanpa penderitaan. Hal ini mendapat penolakan keras karena seakan mendukung tindakan bunuh diri, padahal tujuan sebenarnya untuk meringankan penderitaan seseorang. Memang, tidak bisa dipungkiri bahwa tujuannya adalah kematian, namun fokusnya pada kematian yang seperti apa? Dan siapa yang berhak mendapatkannya? Ada banyak syarat yang mesti dipenuhi agar tidak melanggar prinsip kemanusiaan, seperti, penyakit kritis yang sulit sembuh, dan lain-lain. Intinya, hal ini dilakukan ketika yang bersangkutan menghendakinya. Kabarnya, beberapa negara sudah melegalisasi hal tersebut, termasuk Belanda.

Pada bilah lain, sebenarnya banyak hal yang kerap dipilih sebagai tindakan yang bisa membunuh diri tanpa disadari. Sebagai contoh, menekan gas hingga batas maksimum tanpa disertai keahlian dan perhitungan yang matang di tengah kepadatan kendaraan yang lain, pastinya adalah kebodohan yang memicu maut datang menghampiri. Atau saat melakukan perjalanan, atau kegiatan outdoor tanpa bekal pengetahuan tentang kondisi internal dan eksternal berupa data objek yang sedang dituju. Pasti juga akan berbuah nasib yang sama. Hakikatnya, menghadapi sesuatu di luar batas kelayakan diri sama dengan acuh pada keselamatan. Sebab, ada hukum yang sedang berlaku. Maka manusia diberi keistimewaan berupa akal sebagai wasilah agar tidak ceroboh dalam bertindak.

Sekali lagi, bagaimanapun pembelaannya, di mata mayoritas, bunuh diri tetaplah tindakan yang keliru dan sebaiknya dihindari. Selain alasan dari kacamata agama yang melihatnya sebagai perbuatan khianat terhadap qadha-Nya, nilai kehidupan yang tidak terjangkau juga menjadi alasannya. Tentu merupakan hal yang sangat bodoh jika disia-siakan.

Setinggi-tingginya takaran manusia akan sebuah nilai, belum tentu mampu menjangkau nilai kehidupan. Menjalani hidup adalah pengalaman dan peluang yang tidak akan terulang. Menjadi pengalaman, sebab hanya dijalani sekali. Dan menjadi peluang, sebab saat hiduplah kita mengumpulkan bekal menuju kehidupan berikutnya. Makanya, mungkin terasa bijak jika kita melakoni hidup sampai pada batas qadha-Nya. Sebelum diakhiri, ada satu pesan yang kiranya baik diingat: Hanya ada satu jalan menuju kelahiran. Namun, tersaji sejuta jalan menuju kematian. Pilihlah jalur yang aman!

Penulis :

[ultimate_author_box user_id=”1″ template=’uab-template-4′]




Total Views : 1,128 , Views Today : 2 

%d blogger menyukai ini: