Berteman Saja Dibunuh

Namanya Anwar, pria kidal yang bebal dan keras kepala. Baginya, dunia adalah tempat kotor yang menjijikkan. Suatu kesialan untuk dirinya harus bernapas dan hidup di dunia yang abu-abu. Namun, bak satu koin yang memiliki dua sisi, kesialan datang beriringan dengan keberuntungan. Ia merasa sangat beruntung terlahir dari rahim seorang ibu yang hatinya penuh rasa sayang dan cinta kasih, serta hidupnya dicukupkan dan dikuatkan oleh seorang ayah yang tangguh, tak gentar oleh apapun.

Pernah suatu waktu ketika orang-orang telah tertidur pulas dan anjing-anjing berteriak di jalan gelap, Anwar yang terjaga dengan wajah yang datar datang padaku. Ia butuh teman berbicara. Katanya, kepalanya adalah panggung, tempat ia berdiri dan mengeluarkan apa yang ia pendam-pendam.

Di panggung itu, puluhan orang telah mati. Ada yang kepalanya hancur terhantam subreker motor, ada yang biji matanya tercungkil, adapula yang terkapar dengan dua puluh satu pisau tertancap di sekujur tubuhnya.

Khusus malam ini, ia menyiapkan satu pisau baja…hanya satu pisau untuk satu orang dengan tikaman yang amat pelan, namun berkali-kali. Satu orang ini ia perlakukan dengan khusus. Ujung pisau baja yang tajam, ia tancapkan di lambung kiri orang itu, setelah pisau itu tertancap, ia memutar-mutar lalu menusuk lebih dalam, lagi…lagi dan lebih dalam lagi, kemudian menariknya dengan tarikan yang sangat cepat. Ia menjilati darah segar di pisau itu sembari menyelami ekspresi orang yang bertatapan dengan malaikat maut. Sangat memuaskan, katanya padaku.

Setelah bercerita, Anwar yang terjaga meminta sebatang rokok. Ia membakar, menghisap kemudian diam. Sebatas itu. Kami menghening. Cukup lama. Saya memperhatikan gelagatnya. Dalam keheningan itu, kadang kala tatapannya kosong, kadang ia tersenyum kecut bahkan seringkali matanya melotot tiba-tiba.

Sebatang habis, Anwar yang terjaga kembali bercerita. Katanya, saya telah mati beberapa menit yang lalu. Sontak saya merasa kaget dan ngeri. Tapi tetap saja, saya penasaran mengapa ia membunuhku.

Ia tertawa melihat saya. Tawa yang tidak dibuat-buat. Sambil menunjuk-nunjuk ke arahku, ia berkata bahwa ia membunuh saya karena saya mengendarai mobil dengan seorang aktivis tambang.

Penulis :

Total Views : 484 , Views Today : 2