Berpuasa di Masjid Nurul Iman Kendari

Masjid Nurul Iman Kendari
Masjid Nurul Iman Kendari (Foto: Representasi)

Bulan puasa begini, andai bisa memutar waktu, rasa-rasanya saya ingin kembali jadi kanak-kanak lagi. Kembali mengulang masa yang sangat menyenangkan bersama teman-teman menghabiskan waktu berpuasa di Masjid Nurul Iman.

Masjid ini letaknya di dekat rumah. Di Jalan Drs. Moh. Hatta No. 6, Kelurahan Sanua, Kecamatan Kendari Barat, Kota Kendari. Saya hanya butuh sekitar 30 langkah kaki dengan menyebrangi jalan poros untuk mencapainya.

Bagi anak-anak yang tinggal di area Kota Lama Kendari, utamanya yang berdomisili di sekitar radius 5 kilometer perbatasan antara Kelurahan Sanua dan Kelurahan Dapu-Dapura yang dipisah oleh sebuah sungai kecil, Masjid Nurul Iman jadi pusat kami menghabiskan waktu puasa.

Masjid ini dua lantai. Kran wudu bagi jamaah laki-laki didesain seakan menyatu dengan tembok bagian kiri. Itu untuk memaksimalkan ruang dan kepentingan estetik. Pada pojokan di samping kran tepat di belakang pagar depan, terdapat dua toilet masing-masing berukuran sekitar 1,5 kali 2 meter. Dulunya, itu semua adalah kotak-kotak kayu dengan cat hijau tempat jamaah menyimpan sandal. Soal sandal, jamaah kini tak perlu risau lagi. Soalnya sudah ada sisi tivi yang dipasang pada area luar. Dulunya lagi, semua jamaah masjid ambil wudu di satu titik kran pada bagian sebelah kanan di keliling sebuah bak besar dengan tegel putih tepat di bawah tangga, yang kini ditutupi tembok dengan pintu masuk khusus buat para jamaah perempuan saja. Di area itu juga ada toilet. Kini, para jamaah laki-laki dan perempuan yang ingin mengambil wudu atau buang hajat sudah dipisah pada bagian kiri dan kanan. Masing-masing jadi nyaman tanpa khawatir saling bersentuhan yang bisa membatalkan wudu.

Monitor CCTV yang terletak di lantai 2 Masjid Nurul Iman Kendari. (Foto: Representasi)

Nurul Iman saat ini tidak lagi sekadar jadi tempat salat. Karena letaknya yang strategis, masjid ini jadi berlimpah barokah untuk melangsungkan banyak aktifitas. Bangunannya juga bikin nyaman jamaah. Tak heran jika tiap jum’at ketika pengumuman arus kas, masjid ini seakan tak pernah kehabisan kas. Mengapa demikian? karena lokasinya di pinggir jalan utama, juga dekat dengan Pasar Sentral Kendari. Jamaahnya yang didominasi oleh pedagang sentral kota adalah jamaah yang taat dan juga loyal mengisi celengan setiap habis salat. Tak heran jika Nurul Iman acapkali berbagi dengan mengadakan bakti sosial di dalam maupun di luar kota. Di luar bulan puasa, tiap hari jumat masjid ini juga selalu menyediakan sarapan bubur bagi jamaah subuh dan nasi dos bagi jamaah jum’at. Apabila lebaran haji, ada banyak kilo daging sapi dan kambing yang dibagikan kepada masyarakat. Berbagi adalah Nurul Iman.

(Dok: Pengurus Masjid Nurul Iman Kendari)

Ada banyak yang mengurus Nurul Iman hingga masjid ini jadi pelita di tengah warga. Pertahun, selalu ada regenerasi yang silih berganti wakafkan diri mengurus masjid. Strukturnya sangat rapih. Pengurus masjid adalah orang-orang pilihan yang penuh komitmen dan militansi.

Di Nurul Iman selalu tersedia Al-qur’an, sarung, dan mukenah bagi para jamaah. Nurul Iman juga menyediakan perpustakaan bagi yang hobi membaca buku. Juga saat Ramadhan begini, selalu menghadirkan Imam masjid yang bacaan sholatnya merdu di telinga demi menyamankan para jamaah. Tak luput pula biasa diadakan lomba-lomba bagi remaja. Seperti lomba qori’, adzan, tata cara sholat, ceramah, dan lain-lain. Regenerasi di masjid ini InsyaAllah tidak akan pernah putus. Sebab, selalu ada yang lahir dari hasil penempaan melalui aktifitas belajar mengajar mengaji yang dikelola oleh Remaja Masjid yang karib disebut RIMNIS.

RIMNIS ini sejak dulu membentuk yang namanya Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) Nurul Iman. Untuk menjadi murid mengaji di TPA, bukanlah hal yang mudah. Ada tesnya. Dan penerimaan kuota murid dibatasi pertahun. Tidak hanya anak Kota Lama Kendari yang mengaji di sini. Ada beberapa orang tua dari kecamatan lain juga yang mengaji-kan anaknya. Mungkin karena TPA diliat punya metode tersendiri dalam mengajar. Tapi memang sih, bagaikan tetesan air yang pelan-pelan melubangi batu, mau nakal bagaimanapun, kalau mengaji di Nurul Iman pelan-pelan kita akan ditempa untuk mengenali Qur’an juga dibekali sisi moralitas. Kepada guru ngaji, kami memanggilnya dengan sebutan Kakak. Karena memang gurunya muda-muda. Sebelum dan sesudah mengaji Kakak Kakak juga selalu memberi penghantar arahan yang disisipi dengan iktibar dari para Nabi, Rasul, dan juga Sahabat. Tak luput pula kami diajarkan lagu-lagu religi seperti sepohon kayu daunnya rimbun yang menekankan pesan walaupun hidup seribu tahun kalau tak sembahyang apa gunanya.

Bagi murid yang telah mahir baca Qur’an, selanjutnya bisa mengikuti ujian untuk diwisuda. Ujiannya adalah wajib memperagakan dan menghafalkan bacaan salat, wudu, adzan, serta beberapa bacaan surat pendek. Jika tidak, ya tidak lulus. Nanti pada tahun berikutnya baru ikut ujian lagi jika mau diwisuda. Saya bisa cerita begini karena saya dulu di umur kelas 1 hingga 6 SD adalah salah satu murid mengaji di Nurul Iman.

(Dok: Pengurus Masjid Nurul Iman Kendari)

Oh, iya. Tapi di luar itu semua, saya mau cerita tentang hal-hal yang tak tampak. Tentang hal-hal di Masjid Nurul Iman yang penuh dengan rasa kekeluargaan, yang banyak menyimpan kenangan, yang sulit hilang dalam rimba ingatan.

Masa kanak-kanak adalah masa dimana tubuh seakan tak pernah kehilangan energi untuk bergerak. Rasanya seperti tak ada beban kehidupan. Puasa yang secara dasar merupakan latihan menahan diri dari haus dan lapar jadi sangat menggembirakan kalau kita di Nurul Iman. Jika puasa tiba, artinya aktifitas sekolah biasa diliburkan. Kami jadi punya banyak waktu bersama. Pilihan kami anak Nurul Iman memilih habiskan waktu di masjid. Mulai dari terbitnya fajar hingga tarwih, pokoknya di Nurul Iman.

Interior lantai 1 Masjid Nurul Iman Kendari. (Foto: Representasi)

Dimulai dari subuh. Usai salat, kami mengaji. Biasanya hingga jam 6 pagi. Apabila kami semua bisa menyelesaikan lembaran Qur’an yang diwajibkan oleh Kakak Kakak, ngajajinya bisa lebih cepat. Habis mengaji, kami lanjut pergi jalan-jalan subuh ke Pelabuhan Feri Kota Lama yang jaraknya sekitar 10 menitan dari masjid. Di sana, kami menghabiskan waktu untuk melayangkan pandang pada terbitnya fajar, memandang laut dan kapal-kapal yang bersandar, juga melihat orang-orang memancing dan mandi-mandi laut. Biasanya, kami berjalan hingga ke ujung dermaga yang memiliki semacam lima bagian yang biasa dijadikan titik ikatan kapal yang kami manfaatkan sebagai titik singgah berjalan menikmati pemandangan.

Sekembalinya, kami tidak langsung pulang ke rumah. Adapun pulang, paling hanya bawa pulang Al-Qur’an, sarung dan tas mengaji, lalu pamit ke orang tua untuk kembali ke masjid. Kami kembali ke masjid tujuannya bukan atas kewajiban dari pengurus TPA. Hanya untuk kumpul-kumpul saja. Biasanya, di masjid kami bantu Kakak Kakak bersihkan piring dan gelas berbuka puasa yang masih ada sisa untuk dibersihkan. Kalau sudah bersih, kami biasa main apa saja di area halaman. Atau tidak, kadang kami menyapu. Menyapu bukan untuk mencari pahala, tapi untuk menyalurkan energi saja. Kami melakukan itu semua dengan riang gembira. Setelah itu semua, di sinilah serunya. Kami kumpul untuk cerita-cerita.

Interior lantai 2 Masjid Nurul Iman Kendari. (Foto: Representasi)

Kadang, kami baku hitung-hitung kalla. Bagi yang ada kallanya, dia akan jadi objek tertawaan. Walaupun sudah mengelak dengan alasan habis bantu orang tua cat rumah atau alasan kurang makan sahur. Pokoknya tetap, dia akan diganggu sebagai orang yang lemah. Sebab rata-rata teman kecil saya adalah orang-orang yang kuat berpuasa. Kami juga biasa saling cerita cerita bola. Terkait cerita bola, yang paling seru itu kalau sudah datang Kakak Kandung saya yang ke empat sama teman-temannya yang namanya Salim, Doang, dan Ansar di masjid. Mereka ini adalah aslinya penggila bola. Kakak saya bahkan sampai sekarang sering keluar kota untuk mengikuti kegiatan komunitas Interisti. Kalau ketemu dengan Salim, Doang, dan Ansar tidak ada yang mau dikalah. Semua akan mengeluarkan referensi dan argumentasinya untuk membela pemain dan tim andalannya. Yang seru kalau si Salim sudah terpojok. Dia biasa dengan ekspresif membela tim dan pemainnya disertai gaya cetak bola atau sleding tekkel untuk mengalihkan perhatian Kakak, Doang, dan Ansar. Kalah itu si komentator yang suka bilang Aaaahhhhhhaaaiiiiiii… Jika masih juga terpojok, Salim akan berkelakar dengan mengungkit cerita-cerita lama timnya yang pernah juara di tahun lampau. Terpojok di klub, dia alihkan ke tim negara. Pokoknya tidak mau dikalah. Salim itu kini domisili di Papua. Cerita begini saya jadi rindu salah satu senior lorong yang seru itu. Sudah hampir 10 tahun tidak ketemu dia.

Jika tubuh lelah dengan aktifitas tadi, kami biasa tidur di masjid. Sampai kadang tidurnya kebablasan hingga dibangunkan oleh Kakak Kakak karena sudah tiba waktu Dzuhur atau Ashar. Biasanya, ada yang mencari sudut untuk pindah lanjut tidur, ada juga yang bergerak langsung ambil wudu.

Sore setelah Ashar, kami baru pulang ke rumah. Biasanya teman-teman yang lain ada yang lanjut buka puasa di masjid. Tapi saya jarang. Walaupun makanan di masjid enak-enak, saya lebih memilih masakan Mamah. Apalagi kalau sudah dibikinkan kepiting, lupa saya sama teman-temanku itu.

Selesai berbuka puasa, kami kembali lagi ke masjid untuk Magrib dan Isya. Di selang waktu hingga Tarwih, kami biasa jajan. Ada banyak yang jualan di sekitaran masjid. Ada yang jualan jagung bakar, kandoang dan aneka makanan ringan lainnya. Kadang di selang waktu itu juga beberapa yang lain biasa baku buru dan baku hantam main-main dengan sajadah atau sarung yang dilipat. Ada juga anak nakal yang kalau lagi salat di area luar menyahuti amin-nya imam dengan main-main.

Selesai tarwih kami biasa masih kumpul di masjid untuk mengisi buku centang sholat dari sekolah. Juga tak lupa berburu tanda tangan dari penceramah. Atau memberi simpati pada orang-orang yang kehilangan sandal. Hampir tiap hari begitu seterusnya. Nanti mau tidur baru pulang ke rumah.

Namun terkadang, aktifitas seru itu tidak setiap tahun selalu sama. Di tahun-tahun tertentu, ada kalanya kami berbenturan dengan pesantren kilat yang diadakan oleh sekolah. Yang sekarang saya berpikir mustinya bagi anak ngaji Masjid Nurul Iman diberikan kelonggaran. Untuk apa yang kilat jika setiap Ramadhan atau di bulan yang lain kami hari-hari pesantren? Tapi mungkin kalau tidak dinamis begitu jadinya kita kehilangan ruang rindu. Tidak ada juga bahan cerita baru saat kumpul di masjid.

Kini, saya kurang tau detail bagaimana aktifitas TPA Nurul Iman sekarang. Ponakan saya satu orang ada yang mengaji di sana. Tapi jika kumpul di rumah bersama teman-temannya, saya tidak pernah dengar keseruan mereka bercerita tentang Nurul Iman. Jika berkumpul, saya melihat mereka lebih riang bermain dengan hpnya. Ah, betapa zaman sudah jauh berbeda.

TPA dan Masjid Nurul Iman Kendari kini semakin dikelola secara modern. Nurul Iman juga kini memiliki website dan sosial media sebagai akses informasi ke luar. Sebuah hal yang tak pernah terbayangkan saat dulu kami kumpul baku cerita-cerita. Namun begitulah. Setiap zaman tentu memiliki keseruan masing-masing.

TPA dan Masjid Nurul Iman Kendari kini semakin dikelola secara modern. Nurul Iman juga kini memiliki website, youtube, dan sosial media sebagai akses informasi ke luar. Sebuah hal yang tak pernah terbayangkan saat dulu kami kumpul baku cerita-cerita. Namun begitulah. Setiap zaman tentu memiliki keseruan masing-masing.

Allahummar hamna bil Qur’an
Waj’alhu lana imaamau wa nuurau
Wa hudaw wa rahmah
Allahumma dzakkirna minhumaa jahiilna
Warzuqna tilaawatahu
aana al laili wa athrofan nahar
waj’alhu lana hujjatal
Yaaa rabbal ‘alamiin…

 

Penulis :

 

Total Views : 1,719 , Views Today : 6 

%d blogger menyukai ini: