Berbagi Kebahagiaan, Membuat Orang Lain Bahagia?

Kalimat “Bahagia itu sederhana”, seringkali dijadikan caption pada postingan sosial media. Kalimat tersebut biasanya menyertai gambar yang menunjukkan kebahagiaan dari sesuatu yang sangat sederhana. Padahal tolok ukur kebahagiaan menurut masing-masing individu itu berbeda. Hal yang menurut saya sederhana belum tentu sederhana dalam ukuran orang lain. Begitupun apa yang membahagiakan saya belum tentu adalah hal yang membahagiakan bagi orang lain. Misalnya suatu ketika teman saya mengambil gambar makanan enak yang hendak disantapnya lalu mempostnya ke sosial media. Ini sering dilakukannya setiap kami bertemu. Saat saya tidak tahan untuk bertanya motif mengapa dia melakukan hal tersebut, dijawabnya, “Yang penting saya bahagia.”

Segala yang dilakukan manusia di dunia pasti berorientasi pada kebahagiaan. Dalam aspek psikologi, kebahagiaan sering dikaitkan dengan istilah well-being atau kesejahteraan. Petani bekerja di sawah, mengusahakan pemenuhan dan perbaikan kualitas hidup keluarganya yang adalah kebahagiaannya. Cleaning service di kantor saya, pagi-pagi sudah bekerja dengan sapu di tangannya, melaksanakan tugas sambil berdendang ria berusaha mewujudkan kebahagiaan lainnya. Intinya, semua orang berlaku untuk mengejar kebahagiaan masing-masing. Bagaimanapun bentuknya.

Saya menyinggung soal kebahagiaan karena sejujurnya merasa risih dengan status maupun cuitan beberapa teman di media sosial yang men-share ekspresi kebahagiaan mereka bisa lulus dalam proses penjaringan pekerjaan yang paling banyak diidamkan orang di negeri ini. Iya, menjadi seorang PNS (Sekarang ASN). Kebanyakan memposting screenshoot softfile pengumuman hasil kelulusan mereka. Status itu kemudian dilike dan dishare oleh beberapa kawan lainnya. Semua orang akhirnya tahu bahwa dia lulus termasuk orang-orang yang tadinya juga ikutan tes tapi tidak bernasib sama. Yang saya pikirkan adalah bagaimana perasaan orang-orang yang tidak lulus itu membaca postingan tersebut. Alih-alih ikut merasa bahagia, potensi mereka untuk cemburu, iri, dengki atau minimal kecewa lebih besar kemungkinannya.

Setahu saya, membagikan berita bahagia itu memang dianjurkan di sebagian perkara. Berita tentang pernikahan misalnya. Selain bertujuan untuk meminta doa kepada khalayak, walimah diselenggarakan agar ihwal pernikahan tersebut diketahui oleh masyarakat umum sehingga tidak menimbulkan desas desus fitnah. Begitupun berita kebahagiaan orang tua yang baru saja dikaruniai buah hati. Ada anjuran untuk segera melaksanakan acara aqiqah dengan memotong kambing sebagai syariat, dan mengundang sanak saudara serta tetangga untuk datang, mengajak mereka turut merasakan kebahagiaan dan tentu saja, mendoakan.

Namun, apakah semua kabar bahagia itu membuat orang lain juga bahagia?

Ini zaman kejayaan sosial media. Zaman dimana hampir setiap orang sudah tidak memiliki privasi lagi. Semuanya bebas membagikan apapun, dimanapun dan kapanpun. Objek postingannya bisa terkait dengan dirinya, orang lain atau apa saja, termasuk ekspresi perasaan. Rasa bahagia salah satunya. Cara mengekspresikannya bisa dalam bentuk video, foto atau tulisan yang tidak jarang dishare di media sosial dengan tujuan minimal sekadar mendapatkan jempol atau like dari teman jejaring lainnya, tanpa berfikir panjang dampak sosial apa yang akan ditimbulkan.

Sebenarnya saya sering bertanya-tanya, mengapa orang-orang suka membagikan sesuatu tanpa memikirkan terlebih dahulu manfaat apa yang bisa didapatkan orang lain dari membaca atau melihat postingannya itu. Alih-alih manfaat, orang lain bahkan lebih berpotensi untuk hasad. Sukur-sukur kalau dengkinya bermuatan positif, seperti membuatnya semakin termotivasi untuk berbuat hal yang lebih baik atau lebih maksimal dari sebelumnya. Tapi kebanyakan dengki justru menggiring seseorang ke arah kiri. Menimbulkan perasaan tidak suka kepada objek, mencari kekurangan, bahkan ada yang saking dengkinya sampai mengirimkan santet (baca: guna-guna) kepada orang yang lebih daripada dirinya. Entah itu lebih kaya, lebih cantik, lebih sukses, lebih banyak teman, dan sebagainya.

Bagi sahabat-sahabat muslim, dalam al-Qur’an Allah sudah diperingatkan bahaya orang-orang dengki pada QS. Al-Falaq ayat 5. Dalam al-Kitab, kawan-kawan nasrani juga telah diserukan dalam Yakobus 4:2 bahwa iri hati itu bukan sikap atau perbuatan yang disukai Tuhan. Dan saya rasa, agama apapun itu tidak ada yang mengajarkan nilai-nilai iri hati, cemburu atau dengki dimiliki oleh umatnya. Semua sepakat bahwa dengki adalah rasa yang berpotensi sangat besar untuk merusak.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang sampai merasa dengki. Salah satunya adalah tidak memiliki rasa percaya diri. Merasa tidak bisa melakukan apa yang dilakukan oleh orang lain. Penyebab yang lain adalah faktor eksternal. Orang-orang mendengki kepada orang lain yang memang sengaja atau tidak sengaja memperlihatkan kelebihannya. Dan itulah yang paling banyak terjadi saat ini. Karena kecanggihan teknologi, semua orang mampu mempertontonkan kesuksesannya, membagikan rekam jejak kebahagiaannya dan membuat orang lain melihatnya. Hal ini bahkan sudah menjadi candu. Jika dahulu orang-orang membagikan kabar gembira untuk memberi kebahagiaan kepada orang lain atau mengharapkan doa dari orang lain, maka hari ini saya rasa kebanyakan telah menjelma menjadi manusia-manusia narsis. Manusia yang suka mempertontonkan kebahagiaan, kesuksesan atau kelebihan diri tanpa niat apa-apa. Mungkin hanya demi mendapatkan like atau jempol saja.

 

Penulis :

Total Views : 502 , Views Today : 6