Bahasa Arab; Antara Identitas dan Media Komunikasi

Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Dengan masyarakat muslim sebagai penduduk mayoritas dan Islam sebagai agama dominan di Indonesia, menjadikan sebagian besar aktivitas masyarakatnya kental dengan nuansa dan identitas keislaman. Hal ini dapat terlihat dari perayaan sederhana seperti selamatan atau syukuran, sampai kepada acara hari-hari besar, seperti penyambutan bulan suci Ramadhan, perayaan Idul Fitri, Maulid Nabi SAW, dan lain-lain.

Ada beragam identitas atau simbol yang dilekatkan pada agama. Jenis pakaian, makanan, perilaku, dan produk budaya lainnya. Bahasa Arab termasuk salah satu diantaranya.  Awalnya, pembelajaran Bahasa Arab di Indonesia mempunyai cara pandang yang terbatas pada anggapan bahwa Bahasa Arab sebagai bagian dari agama. Bahasa Arab diperlakukan istimewa karena merupakan bahasa identitas bagi umat muslim. Alasannya sederhana. Berangkat dari latar belakang role model, sang pembawa risalah (Nabi Muhammad SAW), sumber rujukan primer (Al-Qur’an dan Hadis), dan sumber rujukan sekunder (Kitab para ulama Islam) yang berasal dari tanah Arab dan tentunya berbahasa Arab.

Imelda Wahyuni, seorang akademisi dari IAIN Kendari dalam artikelnya mengatakan bahwa Bahasa Arab sebagai representasi Islam tergambar melalui aktivitas ibadah seorang muslim. Aksara Arab pun identik dengan Islam dikarenakan kedua rujukan utama agama Islam yaitu Al-Qur’an dan Hadis tertuang dalam bahasa Arab.

Bahasa Arab yang lebih dikenal sebagai bahasa identitas Islam tentu tidak keliru. Namun kita perlu melihat lebih jauh bahwa peruntukan bahasa tidak hanya sebatas itu. Pembelajar dan pengguna bahasa seharusnya tahu bahwa kedudukan dan peran setiap bahasa adalah sama. Bahasa apa pun itu, termasuk bahasa Arab. Sama seperti bahasa lain, motif mempelajari Bahasa Arab pun beragam. Maka sebaiknya Bahasa Arab juga diperlakukan sebagaimana bahasa pada umumnya, yaitu sebagai media komunikasi, baik pada ranah lokal, nasional, atau internasional. Imelda Wahyuni dalam artikelnya  yang berjudul Bahasa Arab dalam Konteks-Simbol Agama mengutip pendapat Ismail Suardi Wekke menuliskan bahwasanya tujuan Pembelajaran Bahasa Arab di madrasah adalah untuk mengembangkan kemampuan dasar peserta didik dalam kehidupan pribadinya, keluarga, masyarakat sekitar, masyarakat dalam skala nasional dan internasional. Dalam penentuan materi pembelajaran, seyogianya selaras dengan apa yang dianggap sebagai kebutuhan segmen kehidupan. Sebab, apabila diisi dengan materi yang berlawanan dari tujuan tersebut, maka pembelajaran yang diterima tentu akan jauh dari konteksnya.

Pada kegiatan webinar yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Arab IAIN Manado beberapa waktu yang lalu, Sulaiman Mappiasse selaku narasumber memaparkan sebuah data mengejutkan mengenai jumlah penutur Bahasa Arab di dunia yang ternyata telah mencapai angka 422 juta jiwa yang tersebar di 22 negara yang mengakui Bahasa Arab sebagai bahasa nasional. 4 negara telah aktif menggunakan Bahasa Arab namun belum mengakui Bahasa Arab sebagai bahasa nasional, dan 7 negara dimana bahasa Arab digunakan sebagai bahasa kelompok minoritas. Pada kesempatan itu pula, data mengenai pencapaian negara-negara Arab dan Islam di masa golden age pada abad ke-8 hingga abad ke-13 juga disajikan. Meski faktanya agak mengecewakan lantaran bahkan di masa kejayaan, dari 1,6 miliar penduduk negara-negara Islam hanya dua di antaranya yang mampu meraih penghargaan nobel, dan hanya melahirkan 9 ilmuwan per seribu orang. Dari 1.800 universitas yang ada, hanya 320 universitas saja yang memiliki jurnal. Ironisnya, dari 46 negara Islam, hanya 1 persen saja yang menyumbang konstribusi untuk literatur ilmiah. Beragam faktor penyebab kemunduran yang disebutkan, diantaranya adalah sikap anti politik, anti rasionalitas, anti ijtihad, serta dikotomi agama dan sains.

Sebuah kebanggaan yang tidak bisa di-nafik-kan jika setiap tahunnya pembelajar dan praktisi bahasa Arab secara kuantitas semakin bertambah jumlahnya. Baik di negara kita sendiri maupun negara-negara lainnya. Ini fakta yang cukup menggembirakan. Namun akan sangat disayangkan, jika motif mempelajari Bahasa Arab hanya sebatas kepentingan keberagamaan. Sebab hal ini akan menjadikan orientasi pembelajar Bahasa Arab hanya sebatas alat untuk mempelajari agama saja dan menutup mata terhadap fungsi mempelajari ilmu bahasa lainnya.

Selama ini, pembelajaran Bahasa Arab di lembaga-lembaga pendidikan, baik negeri maupun swasta, hanya berkutat pada wacana keagamaan. Sangat jarang ada wacana ekonomi, sosial, politik, dan lainnya. Jika stigma Bahasa Arab sebagai bahasa identitas semakin dominan, maka Bahasa Arab akan terasa eksklusif karena dianggap hanya diperuntukkan bagi umat muslim semata. Padahal bahasa sifatnya netral. Siapapun bisa menggunakan dan menguasainya. Hal ini akan mengawetkan asumsi kemerosotan prospek bahasa Arab dikarenakan ia tidak memiliki nilai tawar sebaik bahasa lainnya. Nilai tawar sebuah bahasa ditentukan oleh perlakuan para pengguna bahasa itu, termasuk orientasi mempelajarinya.

Bahasa Arab hanya diperlakukan sebagai bahasa simbol/identitas tertentu, baik itu identitas kelompok, kesukuan, maupun kegamaan. Ini mempersempit ruang bahasa Arab untuk diakses dan dipelajari. Tidak dapat dipungkiri bahwa polemik kedudukan Bahasa Arab akan terus menjadi perbincangan pada situasi formal atau non-formal. Namun, setidaknya masih terdapat harapan semoga perbincangan ini tidak terhenti pada wacana saja. Kita perlu menyuarakan bahwa kebutuhan terhadap Bahasa Arab seharusnya bukan pada ranah agama saja, melainkan juga melingkupi ranah budaya, ranah komunikasi sebagai media interaksi pada skala nasional atau internasional, dan ranah IPTEK sebagai media keluar masuknya ide. Setidaknya itu adalah langkah praktis yang bisa dilakukan untuk sementara waktu dalam rangka mengambil bagian untuk menumbuhkan budaya literasi agar mampu menilai dan menempatkan sesuatu sesuai dengan porsi dan proporsinya masing-masing.

Penulis :

Total Views : 418 , Views Today : 2