Apa yang Kau Cari Saat Kebenaran dan Kebohongan Tidak Mengubah Apapun ?

Ahuawali
Puncak Ahuwali ( Foto : Dok. Representasi)

Subuh, ketika aroma rerumputan menyegarkan paru-paru dan udara dingin menusuk tulang, terduduk dua orang sahabat yang menepi dari hingar bingar Kota Kendari. Sudah setengah jam mereka sibuk masing-masing. Juma, lelaki yang mengenakan jaket tebal dan topi kupluk sibuk dengan benda di tangannya. Sedang lelaki tanpa topi kupluk hanya menatap langit gelap. Namanya Pian. Sesekali ia memalingkan wajah ke arah api unggun.

“Apakah itu rindu?” suara lelaki berjanggut tipis khusyuk menatap sisa-sisa sinar rembulan memecah hening, kemudian kembali terdiam.

Di dadanya ada kegelisahan yang tidak ia selesaikan. Bukan tak mau. Hanya saja ia tetap berusaha nampak tegar. Sok kuat. Berusaha tetap menahan kecamuk di dalam dadanya.

“Kau salah tempat mengeluh kalau cuma bicara setengah-setengah” suara Jumaredi Juma, lelaki hitam dekil membuyarkan lamunan Pian.

“Apa tadi kau bilang?” Pian yang sedari tadi tenggelam dalam lamunannya, mencoba memastikan ucapan samar-samar di telinganya.

“Kau salah tempat mengeluh kalau….”

“Mengeluh? Wah betul-betul kau ini sob” raut jengkel terlihat jelas di wajah Pian.

“Saya tak mengeluh! Saya hanya bertanya. Salahkah orang bertanya?”

Selain tetap memainkan ponselnnya, Juma tidak merespon apa-apa.

Fajar menyingsing, siluet merah di langit puncak Ahuawali, Konawe memanjakan mata para pendaki. Demikian pula dengan Juma. Sensasi ini telah lama tak ia rasakan semenjak tiga tahun terakhir ia menjabat sebagai manajer di salah satu perusahaan dengan jadwal kerja yang padat.

Pun Pian, benar-benar tak berdaya menyaksikan apa yang terbentang di hadapannya. Tak berdaya bukan karena terpukau. Melainkan karena ia tak tahu lagi seperti apa dirinya saat ini. Dulu saat ia menyaksikan pemandangan, ia selalu berdiri tegak dan kedua tangannya direntangkan. Lengkap dengan senyum yang menegaskan bahwa ia sangat menyukai pemandangan memukau. Kali ini justru terasa lain. Seolah sebagian dirinya tak lagi ia kenali. Jiwanya tak lagi penuh. Sebagian jiwanya mengembara pada satu peristiwa. Kenangan tentang Leony.

“Cobalah cerita. Saya mengambil cuti dan memutuskan untuk menerima ajakanmu ke tempat ini, bukan untuk melihatmu diam saja.”

“Cerita apa?” lamunan Pian terpecah.

“Tak perlu menutupinya. Saya ini sahabatmu. Sahabat sejak kita masih ingusan.”

“Saya tak memiliki masalah. Saya mengajakmu ke sini karena ku kira kau pasti jenuh dengan keadaan Kota Kendari yang begitu-begitu saja.”

“Okelah kalau tak mau cerita. Saya akan melipat kembali tenda-tenda itu. Kamu tunggu di sini.”

Baru saja Juma hendak beranjak dari posisi duduknya, tiba-tiba Pian memegang bahunya.

“Satu jam lagi. Saya ingin berdua denganmu lebih lama lagi.”

“Baiklah, satu jam. Matahari akan semakin panas bila kita berlama-lama di sini.”

“Apakah rindu harus bertemu, Juma? ”

“Kalau rindu yang membuatmu seperti ini, maka temuilah Leony. Tentu saja ia yang kau rindukan. Apalagi setelah putus cinta begini. Rawan memang.”

“Bukan itu masalahnya”

“Jelas itu masalahnya. Kau baru saja putus cinta. Orang putus cinta itu kalau tidak galau seperti kamu ini, ya pasti nekat. Cuma dua itu.”

Angin dingin yang sedari tadi menyambar kulit dengan pongah, seolah menegaskan bahwa manusia adalah makhluk tidak berdaya bila berhadapan dengan alam secara langsung. Udara dingin kini berganti terik. Matahari menanggalkan rasa malunya, menegaskan bahwa ia berada di atas angin dingin.

Tak ada sesiapa lagi selain sepasang sahabat yang sedang merebus air. Orang-orang menuruni Gunung Ahuwali ketika sepasang sahabat ini tenggelam dalam percakapan di hadapan nyala api. Bukanlah manusia bila tak meninggalkan jejak pada setiap tempat yang pernah disinggahi. Pada sepi puncak, jelas sekali puntung rokok ada di mana-mana. Plastik-plastik makanan ringan, botol air mineral, bungkus rokok dan lain-lain menjadi penegas bahwa manusia memang paling handal dalam merusak alam.

“Bagaimana kalau saya memilih nekat?” sorot mata serius menghiasi kornea Pian.

“Jangan. Kau pernah melakukan itu sekali. Hasilnya? Kau mendapatkan hotel gratis. Hotel prodeo dengan segala fasilitas yang tak disediakan di hotel manapun di muka bumi”

“Dua kali”

“Maksudmu?” Juma dengan gerak refleks menghadapkan posisi duduknya ke Pian. Jauh di dalam hatinya tumbuh rasa penasaran yang haus.

“Dua kali saya membunuh. Yang kedua, saya tak ketahuan. Jangan bilang siapa-siapa. Cuma saya, kamu, Tuhan, Malaikat di kanan dan iblis di kiriku yang tahu.”

“Kenapa kau melakukannya?” pertanyaan singkat yang semakin menghauskan rasa penasaran.

Pian menghening. Ia tertunduk. Bulir-bulir keringat berlomba-lomba mencari jalan pintas agar sampai ke tanah. Hari semakin terik. Sepasang sahabat itu memutuskan untuk kembali ke dalam tenda.

“Kau belum menjawab pertanyaanku” pikiran Juma tak pernah sedetik pun berpaling dari cerita yang keluar dari mulut Pian meski mulut itu diam.

“Kau tak takut padaku?” Pian berjanggut tipis mengulur cerita. Ia belum sepenuhnya siap untuk membuka kunci brankas rahasia di mana pembunuhan tak terendus itu ditutup rapat-rapat.

“Saya tak pernah takut padamu. Sedikit dan sedetik pun tak pernah. Kau sahabatku. Sejak kita belum tahu melap ingus. Selain itu, cuma kau satu-satunya makhluk yang ku kenal yang tak pernah meninggalkanku baik saat jatuh dan bangunku.”

“Cepatlah cerita. Tak usah mengalihkan ke sana-sini. Hari semakin terik. Kita harus pulang. Sore nanti saya ada janji dengan dokter pribadiku. Penyakit sialan ini semakin menggerogoti tubuhku.”

“Tapi kau harus berjanji untuk tidak menceritakan ke siapapun dan tetap berada di sisiku, Juma.”

“Saya berjanji. Kau tak perlu meragukan janjiku. Kau pasti tahu itu. Jadi, tak usah bertanya lagi, lanjutkan saja ceritamu.”

Pian yang mendapati dirinya tak bisa mengelak lagi, sesaat berpikir. Pikirannya mengembara jauh. Ia menyesal telah spontan membuka satu jalan kebenaran yang secara otomatis akan menghubungkan ke jalan kebenaran lain. Situasi ini menyulitkannya. Satu sisi ia tak ingin mengungkapkan kebenaran, di sisi lain ia tak sanggup terus menerus mengunci kebenaran itu. Bila hendak mengelak pun tak bisa, obat yang ia kantongi pun tak bisa dijadikan alasan

Di kepala Pian berkecamuk segala kemungkinan. Ia berusaha meneguhkan hati untuk berterus terang.

“Persetan semua pikiran yang menggangguku. Saya akan berterus terang padamu. Dengarkan baik-baik, saya tak akan mengulanginya walau hanya sekali, Juma.”

Juma menyimak dengan khusyuk. Wajahnya agak maju ke arah Pian, persis seperti binatang jinak ketika di beri makan tuannya.

“Pembunuhan ke dua saya lakukan atas dasar cinta! Kami sudah lama dekat. Sangat dekat. Hubungan kami intim. Namun tak pernah berhubungan intim. Lama ku pendam perasaanku, namun saya tak punya keberanian untuk mengungkapkannya. Saya bahagia menikmati wajahnya diam-diam dari kejauhan. Semakin bahagia ketika ia merangkul pundakku. Saat semua momen itu mengisi hari-hariku, tak bisa lagi ku tahan perasaanku. Ku putuskan untuk berterus terang. Pepohonan hijau, udara segar, awan putih dan cahaya matahari tenggelam akan menjadi saksi bahagia terjalinnya cinta sepasang manusia. Itu yang ku harap. Jadi saya mengajaknya untuk mendaki gunung. Gunung yang sama di tempat kita berpijak ini.”

“Angan-angan memang memabukkan, Juma. Angan-angan perlahan menjelma menjadi harapan, Juma. Jika harapan itu tak terpenuh, efek nekat akan bergerak dengan semaunya. Di sudut sana, ku nyatakan cintaku. Dadaku serasa terisi ribuan personil marching band yang memainkan lagu gugur bunga saat ia mengatakan ia tak memiliki perasaan yang sama. Saat ia dengan wajah jijik yang tak dapat ia sembunyikan mengatakan bahwa ia menganggapku saudara. Seketika rasa marah memuncaki ku. Saya ditunggangi emosi. Emosi seorang pahlawan yang gugur memperjuangkan kemerdekaannya atas cinta. Namun saya tak terang-terangan menunjukkan rasa amarah itu.”

Pian menghening. Ia menyalakan korek membakar rokoknya.

“Apa yang terjadi setelahnya?” Juma tak dapat menahan rasa penasarannya

“Saya membuatkan kopi, dalam beberapa menit mulutnya berbusa. Ku nikmati saat-saat terakhirnya.”

“Siapa perempuan itu? Apakah saya mengenalnya, Pian?”

* * *

Para dokter bersiap meninggalkan tempat prakteknya. Gembira karena pergantian shift, jam kerja telah selesai. Waktunya pulang merengkuh kehangatan pelukan istri. Namun, seorang dokter masih terduduk di ruangannya. Menunggu seorang pasien sekaligus sahabat dekat yang  untuk pertama kalinya mengingkari waktu temu yang telah disepakati.

Gawai berdering. Dokter botak Nurhadi mengangkatnya. Beberapa menit perbincangan yang diakhiri dengan wajah datar si dokter botak Nurhadi. Telepon itu dari suster yang membawa kabar bahwa Juma telah menunggunya, sehingga dokter botak Nurhadi bergegas ke luar ruangan.

Setibanya ia di hadapan Juma, dokter botak Nurhadi menggeleng-geleng kepala. Ia tak ingin memercayai bahwa di hadapannya itu adalah sahabatnya, sebab baru semalam mereka membuat janji temu di tempat prakteknya. Namun hari ini, kenyataan berkehendak lain. Kenyataan mempertemukan mereka di kamar jenazah.

Penulis :



Total Views : 716 , Views Today : 2