A Resistance: Eksistensi Perempuan yang Melawan dalam Penjara

Perempuan adalah hal yang paling seksi untuk dibicarakan dan dibahas. Semua tentang mereka, adalah alasan dan sebuah jawaban yang memang patut untuk kita amini sebagai sesama perempuan, ataupun lelaki. Seperti yang dikatakan oleh Simone De Beauvoir dalam bukunya Second Sex, bahwa perempuan dapat menjadi subjek, terlibat dalam masyarakat, dan mendefinisi ulang peranannya. Yu Gwan Sun dan perempuan lainnya dalam film A Resistance mempertegas dan membuktikan kalimat yang dikatakan oleh Beauvoir, tentang bagaimana seharusnya menjadi “perempuan”.

A Resistance merupakan sebuah film yang berlatarkan sejarah. Diambil dari kisah nyata semasa pendudukan Jepang di Korea Selatan. Cerita film ini diawali dengan menunjukkan seorang perempuan yang turun dari sebuah mobil tahanan dengan kondisi kepala ditutup dan kaki terantai. Kemudian dimasukan ke dalam sel yang dipenuhi banyak perempuan. Siapa sangka, dari dalam sel dan masuknya Gwan Sun di dalamnya, mengubah kondisi dan keadaan dalam penjara tersebut. Ia ibarat air dan pupuk yang menyuburkan dan memekarkan bunga-bunga perlawanan dalam penjara dengan sikapnya yang berani dan kalimat-kalimatnya yang persuasif.

Poros pertama perlawanan dan bersatunya para perempuan dalam sel menjadi awal penderitaan dan perlawanan Gwang Sun sebagai tokoh utama dalam film ini. Dengan mengatakan kalimat “kami bukan katak” untuk memprotes penjaga sipir yang menyuruh mereka diam ketika menyanyikan lagu Arirang. Berikutnya, ia menyindir Nishida atau Ju Chon Won, seorang Korea yang memilih untuk mengabdikan diri pada Jepang dengan mengatakan “meskipun orang Korea tahu berbahasa Jepang, kami memilih untuk berbahasa korea”. Sebuah kalimat yang menohok dan begitu kerasnya, sampai Gwang Sun mendapatkan tendangan dari Nishida yang malah membuat teriakan perlawanan dari seluruh tahanan perempuan sampai membuat Chon Won gusar dan pergi. Selanjutnya di sisi lain, ia mengatakan bahwa ia lebih baik dari dirinya yang menjadi budak anjing Jepang setelah diberi pukulan berkali-kali.

Anggapan bahwa karena perempuan mempunyai ovarium dan uterus yang menjadi dasar penempatan bahwa mereka adalah kaum lemah dan memiliki batasan-batasan dibandingkan kaum lelaki yang diidentikkan dengan kekuatan, kalimat tersebut menempatkan perempuan dalam kaum kelas dua dan di-opresi. Beauvoir membantah bahwa suratan biologis tak menentukan sosok perempuan dalam masyarakat. Gwang Sun memperlihatkan dan menunjukkan hal yang sama dalam A Resistance. Hal ini dapat dilihat ketika Gwang Sun, dimasukan ke dalam sel khusus dengan pengawasan ketat. Jatah makan dan minum yang sangat kurang. Namun ia mampu bertahan lebih lama dari tahanan lelaki yang hanya tiga hari sudah meregang nyawa, yang pada akhirnya ia mendapatkan pengakuan dari penjaga dan kepala sipir.

Menjadi perempuan intelektual adalah jalan lain untuk keluar dari opresi juga subordinasi. Dengan kecerdasan dan kemampuan pola pikir yang lebih, seorang perempuan dapat bergabung dengan gerakan-gerakan yang mengingini perubahan atau revolusi dalam lingkungan masyarakat.

Gwang Sun dengan kecerdasan yang ia punya bergabung dengan kelompok-kelompok yang menginginkan kemerdekaan. Bahkan dia adalah otak sekaligus penggerak tulisan-tulisan pamflet perlawanan yang ditempel di tiap sudut kampung. Juga menjadi pemicu agar para masyarakat turun ke jalanan dan mendeklarasikan kemerdekaan negaranya atas Jepang. Scene atau bagian ini, kemudian menjawab pertanyaan saya mengapa ia begitu berani menantang kepala sipir dengan tatapannya di awal film ini dimulai. Juga mengapa ia begitu diwaspadai dari semua tahanan yang lain, bagaimana ia menipu Nishida dengan berpura-pura menanyakan tanggal untuk memperingati kematian orang tuanya, serta berpura-berpura pingsan di depan tentara hanya untuk membersamai teman-temanya dalam sel dan memulai sorakan kemerdekaan yang pada akhirnya menginspirasi tahanan di sel lain hingga ke sel tahanan lelaki, lalu menjalar ke masyarakat-masyarakat di luar penjara. Saya tersenyum kecil, takjub, dan merinding menyaksikan peristiwa itu.

Selanjutnya, tentang tahanan perempuan lain bernama Kim Hyang Wa, seorang yang dulunya adalah pelacur atau wanita penghibur sebelum tentara Jepang masuk dan menguasai Korea. Bagi saya, Hyang Wa punya peran lain dan menjadi inspirasi kenapa saya memilih tema tersebut untuk menjadi judul esai saya ini. Ia menunjukan eksistensinya sebagai perempuan pelacur dan menjadikan profesi tersebut sebagai media perlawanannya. Dengan mengatakan bahwa semua orang yang datang padanya, akan mendapat perlakuan dan pelayanan yang sama, terkecuali tentara Jepang.

Lalu ia menegur tahanan lain yang mengatakan kalau seandainya ia menjadi pria maka ia akan berkeliling dan berlibur ke luar negeri. Hyang mengatakan bahwa perempuan juga bisa melakukan hal yang sama. Ada banyak hal yang perempuan dapat lakukan sebagaimana yang dilakukan oleh lelaki. Yang membedakan mereka hanya jenis kelamin dan fungsinya. Perihal melawan, mendapat pendidikan, dan kehidupan serta kebebasan yang layak adalah hak keduanya, tanpa memandang kelaminnya apa. Sebab hanya ada tiga kodrat perempuan yaitu mengandung, melahirkan, dan menyusui. Selain dari itu, perempuan bisa berfungsi atau berperan yang sama dalam masyarakat seperti halnya lelaki. Ia juga tokoh yang membangkitkan kembali semangat Gwang Sun untuk melawan ketika rasa penyesalan datang padanya. Juga menjelang akhir film, ia menghapuskan peranannya sebagai perempuan pelacur, dengan memilih menjadi perempuan bebas serta memutuskan pergi ke Manchuria untuk melanjutkan perlawanan agar mendapatkan kemerdekaan sepenuhnya atas Jepang.

Pada akhir esai ini, saya ingin mengatakan bahwa kalau dulu perjuangan perempuan adalah melawan patriarki dan stigma-stigma kelas dua atas mereka, maka perjuangan perempuan sekarang bagi saya jauh lebih sulit. Sebab selain patriarki, mereka juga melawan kaum mereka sendiri yang saling meng-opresi. Saya kerap menemukan dan mendengar bagaimana sekelompok perempuan berkumpul bersama, dan kemudian membicarakan perempuan lainnya tentang bagaimana ia merias wajahnya, cara berpakaiannya, atau bahkan bagaimana ia menjalani hidup dalam suatu lingkungan masyarakat. Di sosial media, saya dan barangkali anda menemukan bagaimana perempuan lainnya menyerang kaumnya sendiri dengan komentar dan kalimat sindiran yang dirasanya dia lebih baik dari perempuan yang dikomentarinya secara fisik atau perilaku.

Sangat memprihatinkan! Saya tak tahu, apakah para perempuan harus ditempatkan dalam keadaan atau penderitaan yang sama seperti para perempuan dalam A Resistance dulu baru mereka berhenti untuk saling meng-opresi dan mengsubordinasi sesama mereka? Lalu menyanyikan puisi-puisi harapan, dan meneriakan kalimat-kalimat perlawanan mereka bersama? Entah! saya tak bisa menjawabnya sebagai lelaki. Sebab kata Oka Rusmini, sedalam apapun lelaki menulis tentang perempuan, tak akan lebih dalam dari perempuan itu sendiri!
Penulis :

Total Views : 560 , Views Today : 6