3 Pertanyaan Orang yang Baru Belajar Pascakolonialisme

Sama halnya seperti orang yang baru belajar, saya mempunyai beberapa pertanyaan setelah mempelajari pascakolonialisme. Tentu akan terlihat, terdengar, dan terasa puber intelektual. Namun percayalah, ini sungguh rasa ingin tahu yang sangat murni. Pertanyaan-pertanyaan ini lahir dari rasa ingin tahu yang cukup besar.

Karena berada dalam ranah prodi Sastra Indonesia, jadi studi kasus yang biasa saya cari dan jumpai melalui pendekatan karya sastra. Dari karya sastra tersebut, saya melihat dan memetakan elemen-elemen yang mengandung kolonialisme untuk diuji dalam studi pascakolonialisme. Dalam hal ini, saya tertarik menggunakan konsep yang ditawarkan Homi. K Bhaba.

Saya kemudian berpikir untuk melihat kasus ini dalam lensa yang lebih luas dan riil. Tidak lagi menjadikan karya sastra sebagai objek material, namun melalui pendekatan dari lingkungan dan pengalaman empiris saya sebagai individu. Berangkat dari hal itu, lahirlah tiga pertanyaan berikut.

Pertanyaan #1: Jakarta sebagai Kiblat Kota Kecil di Sulawesi

Berbicara tentang pascakolonial, maka tidak bisa lepas dari konsep timur dan barat. Timur dan barat merupakan sebuah analogi sederhana untuk wilayah yang dijajah (Timur) dan wilayah penjajah (Barat). Sebagai contoh yang paling dekat adalah Indonesia sebagai negara Timur yang pernah menjadi negara jajahan Belanda (Barat).

Setelah belajar lebih lanjut, konsep timur dan barat ternyata tidak sesempit itu. Timur dan Barat tidak hanya merupakan representasi plek-plekan untuk negara timur ataupun negara barat. Ia bisa didefinisikan sebagai sebuah wilayah, kota, ataupun daerah. Orang-orang di Sulawesi, utamanya di Kendari, dalam melihat Jakarta adalah contoh yang paling nyata.

Tidak semua, tapi mayoritas orang-orang Sulawesi melihat kota Jakarta sebagai kiblat gaya hidup. Sebagai kota metropolitan, Jakarta menjadi pusat perhatian untuk hampir sebagian kota di Indonesia. Kehidupan selebriti di tanah air yang notabene hidup di Jakarta, menjadi tolok ukur gaya hidup yang keren. Bahkan, dengan hadirnya berbagai macam aplikasi semacam TikTok, kita bisa melihat bahwa gaya hidup keren di Jakarta bukan hanya dilakukan oleh sekelompok artis dan influencer.

Awal-awal menulis di blog, saya menulis dengan kata ganti orang pertama “gue”. Kata ganti orang “gue” di kota Kendari adalah hal yang sangat tabu. Kata “gue” benar-benar tidak cocok untuk logat orang Sulawesi. Saya bisa membayangkan pergi ke warung bakso, memesan dengan berkata,”Daeng, gue mau beli baksonya.”. Bisa-bisa saya disiram kuah bakso sama Daengnya.

Sebagai orang Sulawesi yang tinggal di Kendari, kita melihat itu sebagai gaya hidup. Fashion. Bayangkan, ada berapa banyak orang yang menjadikan Iqbaal Ramadhan, Jefri Nichol, sampai Adipati Dolken sebagai role model. Selebriti dengan jutaan pengikut di Instagram itu bahkan bisa menyulap gaya berpakaian abang-abangan cilor depan Indomaret menjadi tren fashion.

Sebenarnya, bukan hanya dari kota Jakarta. Kota-kota besar lain macam Bandung, Bali, atau bahkan Makassar juga menjadi kiblat orang-orang di kota Kendari. Tak bermaksud merendahkan kota kecil ini, namun itulah kenyataannya. Bahkan ada anekdot yang berkembang di masyarakat bahwa orang asing yang dilepas di kota ini tidak akan tersesat.

Saya mencintai kota tempat tinggal saya ini sebagaimanapun kecilnya. Berharap kelak akan menjadi seperti Singapura. Kecil, namun progresif.

Pertanyaan #2: Latar Foto sebagai Produk Kolonialisme

Saya cenderung sering melihat-lihat foto lawas dari galeri hape. Kemudian menemukan foto saya waktu di Jogja dalam rangka study tour masa SMA. Karena lagi panas-panasnya belajar pascakolonial, saya sempat kepikiran apakah orang-orang yang mempunyai kebanggaan atas sebuah foto di wilayah Barat dapat dikatakan produk-produk kolonialisme?

Maksudnya begini, tanpa bermaksud meribetkan, sedikit saya beri konteks sesuai pengalaman sendiri.

Sebagai orang yang tinggal di pulau Sulawesi, ada kebanggaan tersendiri ketika pertama kali menginjakkan kaki di pulau Jawa. Sama seperti orang-orang pada umumnya, saya meng-update Instastory dengan latar foto berada di Dufan, Museum Angkut, atau bahkan di titik 0 kilometer Jogja.

Saya merasa bahwa perasaan yang saya rasakan saat itu adalah produk-produk dari kolonialisme. Bagaimana saya membayangkan kota Jakarta sebagai pusat pemerintahan dengan segala kemegahannya, atau melihat Jogja sebagai kota yang penuh dengan keramah-tamahan masyarakatnya. Tentu secara sadar ataupun tidak, saya menjadikan Kendari sebagai perbandingannya.

Pertanyaan itu tentu dapat didebat dengan argumen “tekanan sosial” atau “budaya pamer di sosial media”. Namun pada akhirnya saya kembali berpikir bahwa pepatah “rumput tetangga selalu lebih hijau” adalah jawaban sementara untuk pertanyaan itu.

Pertanyaan #3: Selera Musik yang Kebarat-baratan

Hadirnya Pamungkas dengan lirik berbahasa Inggris, semakin membuka jalan untuk musisi Indonesia yang gemar membuat lagu berbahasa Inggris. Selain dengar Pamungkas, saya juga banyak mendengarkan lagu-lagu berbahasa asing sama seperti remaja kebanyakan.

Bukan mau membandingkan, tapi saya malah tak pernah mendengarkan lagu daerah sendiri. Paling hanya lagu-lagu populer berbahasa daerah. Entah karena kurang populer atau tidak easy listening, tapi saya berpikir ini adalah bagian dari sisa-sisa kolonialisme.

Guru sejarah saya pernah berkata bahwa kita tidak lagi dijajah secara fisik, namun secara ideologi dan kebudayaan. Kita dicekoki oleh pop culture Eropa hingga Korea.

Sebenarnya, saya tidak terlalu ambil pusing dengan pandangan ini. Toh, kita tidak bisa lepas sepenuhnya juga. Naik angkot yang diputar lagu-lagu Cardi B. Buka TikTok dipenuhi lagu-lagu Happier-nya Olivia Rodrigo. Mau bagaimana lagi, hanya Tante saya yang membumi dan tetap menjaga nilai-nilai lokalitas dengan nonton Dangdut Academy untuk mendukung tiap kontestan dari Sulawesi.

 

Penulis :

Total Views : 568 , Views Today : 2